Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Al-Insan al-Kamil: Konsep Pendidikan Holistik di Pesantren

2 min read

stkipnu.or.id

Sejak pandemi melanda, segala aspek kehidupan seolah dipaksa untuk segera menemukan inovasi-inovasi yang baru agar manusia mampu beradaptasi dengan situasi yang ada. Kehidupan mengalami akselerasi di semua aspeknya. Peran teknologi semakin mengemuka karena efek urgensitas yang ada. Hampir segala ruang-ruang kehidupan diisi oleh teknologi.

Aspek pendidikan mendapat perhatian paling serius karena imbasnya dinilai akan berjangka panjang. Hal ini karena waktu tetap berjalan dan pendidikan harus tetap terlaksana, tetapi di sisi lain, sistem dan metodologi pendidikan harus berbeda, tidak bisa lagi sama. Pendidikan merupakan dapur untuk mengembangkan potensi-potensi manusia. Apa yang ditanam dalam pendidikan, efeknya akan berlangsung dalam jangka panjang. Konstruksi sistem pendidikan tidak boleh dirumuskan secara serampangan.

Untuk itu, Sebagai asas dalam kehidupan manusia, pendidikan harus mampu berperan seutuh mungkin dan semanusia mungkin. Konsep pendidikan utuh inilah yang kemudian dikenal dengan istilah pendidikan holistik. Pendidikan holistik ini menjadi prinsip yang harus senantiasa dijaga bagaimanapun keadaannya. Hal ini agar pendidikan tetap mampu menjadi pondasi yang kokoh bagi manusia. Saya sendiri meyakini, bahwa lembaga pendidikan yang menggunakan prinsip pendidikan holistik akan mampu melewati segala era dan zamannya.

Konsep pendidikan holistik sebenarnya sudah lama diterapkan di lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren. Banyak peneliti yang mengungkapkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, bahkan sebelum negara ini berdiri. Hal ini karena secara historis, kultur sistem dan tradisi pendidikan pesantren terlahir dari budaya masyarakat Nusantara yang kemudian  dikembangkan oleh Islam. Maka tak heran apabila Nurcholis Madjid di dalam bukunya yang berjudul Bilik-Bilik  Pesantren,Sebuah Potret Perjalanan, menyebut pesantren sebagai lembaga pendidika yang indigeneous (memiliki makna keaslian) Indonesia.

Baca Juga  Menteri Agama Tidak Bisa Bahasa Arab?

Hal ini menunjukkan juga bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki eksistensi paling tinggi yang mampu melampaui zamannya. Dari zaman kerajaan Hindu-Buddha, zaman kerajaan Islam, zaman pra penjajahan, zaman penjajahan, zaman pergerakan nasional, zaman revolusi, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga zaman perkembagan teknologi dan informasi yang begitu pesat seperti sekarang ini, pesantren masih tetap saja eksis bahkan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang memberikan sumbangsih terbesar dalam keberlangsungan kehidupan negara ini. Tidak diragukan lagi. Terbukti dari lahirnya banyak tokoh di setiap periodisasi tersebut.

Lalu, apa yang membuat pesantren masih tetap eksis hingga sekarang, bahkan masih terus berkembang?. Jawabannya adalah karena pesantren mengajarkan konsep kemanusiaan secara utuh kepada manusia dengan cara manusia. Mengapa demikian?, mari kita uraikan

Secara historis, pesantren berdiri dengan membawa dua misi utama yaitu mengadakan pendidikan dan menyebarkan ajaran agama Islam. Dua hal tersebut merupakan dasar naluri setiap manusia. Artinya, setiap manusia mempunyai naluri ingin mengetahui sesuatu melalui pendidikan dan memiliki naluri untuk mencari dan mengetahui Tuhannya melalui ajaran agama.

Dari kedua hal tersebut saya menyimpulkan bahwa kunci suksesnya pesantren karena pesantren mengajarkan setidaknya tiga aspek inti dalam kehidupan manusia. Yaitu aspek spiritual, sosial, dan intelektual sekaligus. integrasi antara ketiga aspek secara utuh inilah yang oleh sebagian kalangan pemerhati pendidikan biasa disebut dengan konsep pendidikan holistik komprehensif.

Kesuksesan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tak lekang dan tak habis oleh zaman diyakini karena pesantren selama ini mampu menghadirkan di dalamnya kehidupan yang ada di luar pesantren. pesantren berhasil menciptakan miniatur kultur kehidupan di masyarakat. Hingga tak sedikit yang menyebutkan bahwa pesantren merupakan subkultur kehidupan. Selain itu, pesantren juga menjadi lembaga yang paling dekat dengan masyarakat. Terbukti dengan masyhurnya beberapa pesantren klasik dengan sebutan daerah setempat. Seperti pondok Lirboyo, Tambakberas, Krapyak, Gontor, dan lain-lain.

Baca Juga  Covid-19 dan Keheningan Ramadan

Kehidupan manusia, baik secara psikologis dan sosiologis, tak pernah terlepas dari aspek intelektual, spiritual, dan sosial. Pesantren mampu menghadirkan ketiganya dalam sendi-sendi konsep pendidikannya. Konsep holistik seperti inilah yang tidak didapati di banyak lembaga pendidikan lain. Banyak lembaga pendidikan yang lebih mementingkan kemampuan intelektual dan mengabaikan sisi spiritual dan moral siswa.

Walhasil, sudah seharusnya konsep pendidikan di pesantren diadopsi oleh sistem pendidikan nasional yang secara historis sudah terbukti berhasil menerabas segala rintangan zamannya. Intelektual membekali manusia agar tangkas menghadapi segala situasi. Sosial membekali manusia untuk mampu memiliki jiwa kolaboratif. Dan spiritual menuntun manusia untuk tetap  berada dalam garis kemanusiaanya sebagai seorang hamba. Manusia yang seperti ini juga yang biasa diistilahkan dengan al-insan al-kamil. (MMSM)

Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta