Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Pesantren: Antara Tren dan Persaingan Pasar

2 min read

Pesantren merupakan model pendidikan Islam tertua di Nusantara. Hal ini karena model pendidikan pesantren telah ada sejak zaman walisongo. Bahkan sejak pesantren belum terlembagakan seperti sekarang ini. Pesantren tetap eksis menjaga tradisi keilmuan Islam khususnya hingga zaman modern sekarang ini. Proses lahirnya pesantren juga sangat sederhana, yakni berawal dari adanya satu tokoh agamawan di suatu tempat, kemudian banyak orang yang mendatanginya guna belajar kepadanya. Tokoh agamawan inilah yang kelak disebut dengan kiai, dan pembelajarnya disebut santri.

Kegiatan pembelajaran seperti ini akhirnya semakin berkembang. Semakin banyak santri yang datang kepada kiai untuk belajar ilmu agama kepadanya. Hingga akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pembelajaran, kiai berinisatif untuk mendirikan suatu asrama atau pondok. Didirikannya pondok atau asrama juga sebagai tempat tinggal santri yang datang dari penjuru daerah. Singkat cerita lahirlah istilah pondok pesantren.

Secara kuantitas, pesantren mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dalam catatan kemenag, lebih dari 28 ribu pondok pesantren didirikan di Indonesia. Dan  sekitar 18 juta penduduk di Indonesia berstatus sebagai santri di pondok pesantren. selain itu, secara kualitas pesantren juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini bisa ditunjukkan dengan berkembangnya berbagai model pendidikan yang diadakan di pesantren. Ternyata pesantren bisa mengikuti arus zaman modern.

Dahulu sistem pendidikan pesantren terselenggara begitu saja, hanya mempelajari ilmu Agama dan bahkan tanpa kurikulum yang jelas. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kurikulum di pesantren bahkan dinilai lebih inovatif dari sistem pendidikan lain di Indonesia. Terbukti karena sekarang pesantren tidak hanya mempelajari ilmu agama saja. Pesantren juga mengajarkan ilmu-ilmu umum. Bahkan sekarang sudah menjadi suatu keharusan bagi kalangan santri untuk belajar ilmu umum selain ilmu agama.

Baca Juga  Kala Kiai Turun Di Palagan Maya

Sejak awal mula berdirinya pesantren hingga sekarang, pesantren mampu menjaga tradisi keilmuan agama yang diimplementasikan dengan akhlak. Inilah persamaan pesantren di lintas zamannya. Namun meskipun begitu, ada setidaknya dua titik perbedaan atau perubahan yang sangat signifikan antara pesantren di era awal mula tercipta dan di era sekarang ini. Saya tidak akan menilai apakah perbedaan ini adalah indikasi perubahan ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya. Biarlah sekalian pembaca yang menilainya.

Perubahan tersebut yakni;

Pertama, perubahan stigma masyarakat terhadap pesantren. Dahulu, banyak masyarakat menilai bahwa pesantren adalah sistem pendidikan yang kolot dan ketinggalan zaman. Sehingga pesantren menjadi pilihan terakhir bagi orang tua untuk pendidikan anaknya. Mereka lebih bangga jika anaknya menempuh pendidikan di jenjang umum yang tidak berbasis agama seperti di pesantren.

Namun sekarang, seiring inovasi-inovasi yang lahir di pesantren. stigma tersebut dengan mudah dijungkir-balikkan. Banyak tokoh-tokoh penting yang terlahir dari pesantren. kebanggaan masyarakat terhadap pesantren akhirnya tumbuh. Para orang tua berbondong-bondong datang ke pesantren untuk memondokkan anaknya. Bangga jika anaknya mengenyam pendidikan di pesantren. Euforia pesantren mengalami perubahan, semacam menjadi tren. Dan sayangnya, seringkali kebanggaan masyarakat terhadap pesantren hanya sebatas mengikuti tren saja, bukan karena kesadaran penuh akan pentingnya belajar agama.

Jika dahulu, di kalangan pesantren terdapat satu kepercayaan yang tidak bisa diteorikan dan bahkan seringkali sulit diterima oleh akal, yaitu kepercayaan akan keberkahan ilmu. Sekarang, Kepercayaan tersebut mengalami degradasi. Padahal keberkahan ilmu lah yang harusnya menjadi tujuan belajar, bukan sekedar mengikuti trend saja. Dari sini tujuan belajar mengalami pembelokan atau pergeseran. Sekali lagi bukan wilayah saya untuk menilai baik atau buruk dari realitas perubahan ini.

Baca Juga  Karantina Covid-19: Saat Tepat Membangun Ketahanan Keluarga

Perubahan yang kedua adalah, sistem penerimaan santri. Jika dahulu, pesantren didirikan untuk siapa saja yang ingin belajar. Tidak ada seleksi atau penyaringan santri yang ingin belajar di pesantren. Bahwa siapapun yang datang adalah orang-orang yang ingin belajar ilmu, sehingga tidak selayaknya menolak seseorang yang ingin menyelami samudra ilmu. Baik santri yang memiliki kemampuan lebih atau yang biasa saja. Sekali lagi, pesantren terselenggara dengan begitu saja, sederhana.

Sekarang, Pesantren ada dimana-dimana, sehingga persaingan pun terjadi. Anak-anak yang ingin masuk di pesantren harus di seleksi dengan ketat. Jika kemampuannya sesuai dengan standar pesantren maka lolos, jika tidak, maka gagal. Input pesantren harus didapat dari bibit yang sudah bagus. Sehingga diharapkan outputnya juga bagus dan menjadikan nilai jual pesantren semakin tinggi. Semacam terjadi kapitalisasi pesantren atau entah apa namanya.

Jika dahulu santri-santri dengan sukarela datang ke pesantren untuk belajar dan kiai dengan sukarela menerima santrinya. Sekarang, pihak pesantren yang bahkan harus berusaha jemput bola, terjadi perebutan peminat dan generasi. Jika tidak seperti itu, pesantren satu akan kalah dengan pesantren yang lain. Dari sini, yang ditakutkan akan terjadi semacam pembelokan tujuan didirikannya suatu pesantren.

Sekali lagi, saya tidak akan menilai perubahan ini baik atau buruk. Karena setiap perubahan memiliki alasannya masing-masing. Dan seringkali kebaikan atau keburukan sangatlah relatif sesuai dengan perkembangan zaman atau tempatnya.[AH].

Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta