Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Upaya Menjalin Relasi Kesalingan antara Manusia dan Alam dalam Kearifan Lokal

2 min read

kearifan ekologis
sumber: networknorwich.co.uk

Kerusakan lingkungan menjadi isu penting yang tidak boleh dilewatkan begitu saja karena mempunyai dampak besar pada keseimbangan alam. Pada akhirnya yang terkena dampak secara langsung adalah manusia itu sendiri.

Sebagaimana yang kita ketahui, akhir-akhir ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja dengan banyaknya bencana alam yang melanda seperti banjir yang terjadi di beberapa daerah. Berkaitan dengan hal tersebut, sebenarnya Al-Qur’an telah memberi gambaran bahwa kerusakan yang terjadi di bumi tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh manusia sendiri.

Hal itu disebutkan dalam QS. al-Rum [30]: 41:  “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menerangkan bahwa darat dan laut merupkan tempat terjadinya kerusakan. Keduanya mengalami kerusakan, ketidakseimbangan, serta kekurangan manfaat. Laut telah tercemar sehingga ikan mati dan hasil laut berkurang. Daratan semakin panas sehingga terjadi kemarau panjang. Alhasil, keseimbangan lingkungan menjadi kacau.

Al-Mawalid al-Tsalasah

Umumnya yang disebut makhluk hidup adalah manusia, hewan, dan tumbuhan. Namun, menurut al-Razi terdapat tiga jenis makhluk hidup. Pertama, hayawan yang dibagi menjadi dua: ghayru nathiq (hewan) dan nathiq (manusia). Kedua, al-nabat (tumbuhan). Ketiga, al ma’adin (sesuatu yang digali dari dalam bumi). Pada yang ketiga ini termasuk emas, perak, dan entitas yang berada dalam perut bumi.

Ketiga makhluk hidup yang telah disebutkan di atas pada dasarnya diciptakan saling berkaitan satu sama lain. Dalam keterkaitannya, terdapat sebuah keseimbangan mulai dari unsur yang terkecil sampai yang terbesar. Bila salah satu dari ketiganya terjadi gangguan, maka dapat merusak relasi keseimbangan yang telah terbangun.

Baca Juga  Tuhan Sang Pengasih dan Covid-19

Hal itu serupa dengan apa yang disampaikan oleh Thabathaba’i bahwa alam raya diibaratkan sebagai tubuh manusia yang mana organ di dalam tubuh tersebut mempunyai relasi yang saling berkaitan antara satu dan yang lain.

Apabila salah satu organ tidak berfungsi dengan baik, maka ia akan berdampak negatif pada organ lain—seperti menghambat fungsinya, misal. Begitulah yang terjadi dengan seluruh alam yang telah diciptakan.

Membentuk Relasi Kesalingan

Berkaitan dengan konsep al-mawalid al-tsalasah di atas, penting kiranya untuk menciptakan sebuah relasi kesalingan. Adapun bentuk relasi kesalingan yang perlu dibangun antara manusia dan alam di sini adalah subjek dan subjek, bukan subjek dan objek.

Artinya, perlu adanya kesadaran dari manusia itu sendiri bahwa pada hakikatnya manusia dan alam adalah makhluk hidup yang setara. Maksud setara di sini adalah sama-sama ciptaan Allah dan akan lebih baik lagi ketika manusia menganggap alam adalah keluarga. Akan berbeda halnya jika relasi yang terbentuk antara manusia dan alam adalah subjek dan objek.

Manusia menganggap alam adalah objek yang dapat diperlakukan sebebas-bebasnya. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya eksploitasi dan kerusakan-kerusakan yang terjadi di darat dan laut sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al-Qur’an di atas. Selama manusia masih menganggap alam adalah objek, maka akan sulit rasanya untuk menghentikan kerusakan yang terjadi.

Kearifan Lokal Menjaga Alam

Relasi kesalingan di sini dapat dilihat dari ritual-ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa di pedesaan dan mitos-mitos terkait alam itu sendiri. Contoh kecil adalah mitos “nasi akan menangis ketika tidak dihabiskan” atau tradisi sedekah bumi dan sedekah laut yang cukup familiar di masyarakat Jawa.

Contoh lain adalah tradisi bersih desa. Tradisi ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen masyarakat. Simbolisasinya adalah tumpeng yang diisi dengan sayuran yang didapatkan dari hasil panen masyarakat.

Baca Juga  Genealogi Kesantrian Humanis Gus Dur: Menasabkan Humanisme Pada Pesantren (1)

Tradisi-tradisi kearifan lokal yang berkembang di masyarakat terkait alam merupakan bentuk komunikasi antara al-mawalid al-tsalasah yang telah penulis sebutkan sebelumnya. Selain itu, tradisi tersebut juga merupakan manifestasi dari bagaimana cara membangun relasi yang baik antarketiganya.

Hal itu bertujuan agar tetap terjadi keseimbangan dan terhindar dari narasi “alam marah kepada manusia”. Oleh sebab itu, tradisi kearfian lokal yang telah berjalan hingga hari ini masih dianggap sakral.

Sebenarnya, konsep relasi kesalingan berupa subjek dan subjek antara manusia dan alam telah dipraktikkan oleh orang-orang terdahulu. Hal ini terlihat banyaknya praktik-praktik kearifan lokal yang telah penulis sebutkan di atas sehingga tidak heran jika orang-orang terdahulu lebih peka dengan dan terhadap keadaan alam. Wallahualam [AR]

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta