Banjir sebagai Pengkhianatan Tanggung Jawab Ekologis
Banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan cermin krisis ekologis akibat pengkhianatan manusia atas tanggung jawab menjaga keseimbangan bumi.
Banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan cermin krisis ekologis akibat pengkhianatan manusia atas tanggung jawab menjaga keseimbangan bumi.


Etika lingkungan dalam Islam menawarkan solusi untuk krisis ekologi global dengan menekankan tanggung jawab manusia merawat dan menjaga keseimbangan alam


Banjir yang melanda berbagai wilayah sebagai pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam, memadukan perspektif Islam, maqasid syariah, dan tanggung jawab ekologis demi keselamatan warga.


Tragedi hidrometeorologi masif di Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar) menjelang akhir 2025 merupakan "panggilan tobat ekologis" yang menuntut pengakuan atas kegagalan kolektif menjaga keseimbangan alam (Mizan) akibat kebijakan materialistik (Ekosyirik).


Menjaga lingkungan menjadi salah satu pesan penting bagi umat Islam agar terus menjaga alam sebagai amanah dari Allah. Lingkungan yang lestari adalah bagian dari ibadah dan wujud ketakwaan


Tradisi Anderenat merupakan sebuah tradisi khas Gili Iyang yang mengajarkan harmoni manusia dan alam melalui doa, gotong royong, serta kearifan lokal yang lestari


Kampus harus menyentuh level nilai dan regenerasi agar lahir kesadaran ekologis yang berkelanjutan karena mengatasi sampah tidak cukup dengan solusi instan seperti menambah tempat sampah


Lingkungan adalah bagian dari manusia, karena itu melestarikan alam sejatinya adalah memanusiakan manusia. Pemikiran Gus Dur menegaskan keadilan ekologi dan pentingnya bersaudara dengan alam sebagai wujud rahmatan lil alamin


Selama manusia masih menganggap alam adalah objek, maka akan sulit rasanya untuk menghentikan kerusakan alam yang terjadi.


Bukan alam yang harus menyesuaikan dengan hidup kita, gaya kita, akan tetapi kitalah yang harus menyelaraskan dan menjaga alam semesta dan seisinya.

