Ust. Nurbani Yusuf Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu dan Ustaz di Komunitas Padang Makhsyar yang Tinggal di Batu, Malang.

Belajar Islam pada Mualaf

1 min read

Ibarat pantun Melayu:

Berburu ke Padang datar.

Dapat rusa belang kaki

Berguru kepalang ajar

Bagai bunga kembang tak jadi

Orang Jawa tak kalah pintar merumuskan: ’Kebo nyusu gudel’. Termasuk bagaimana membuat rumusan tentang belajar pada guru yang belum matang. Belajar pada anak kecil yang belum memiliki kecukupan: Yang lantang berkata lebih baik kehilangan ibu daripada kehilangan hafalan Qur’an”. Bisa ditebak bagaimana hasilnya.

Tak ada larangan belajar pada siapapun termasuk belajar pada orang yang tidak seiman. Bahkan nabi malah menganjurkan kita berguru hingga negeri China. Berburu Ilmu pengetahuan di manapun sepanjang untuk kemaslahatan kenapa tidak? Tapi sangat berbeda ketika kita belajar pada guru sebelum masak. ‘Kebo nyusu gudel’. Menarik disimak ditengah kerumunan keilmuan yang tak bisa di nalar.

Ke-faqih-an bukan sekedar berapa ratus ayat al Qur’an atau berapa puluh hadis bisa dihafal. Ke-Faqih an butuh kualitas. Pengalaman hidup dan kualitas iman. Maka Nabi Muhammad Saw memberi hak terlebih dulu kepada siapa memeluk Islam dan hijrah menjadi salah satu syarat Imam shalat. Bahkan lama belajar juga penting. Setidaknya adab muta’alim dapat dijadikan sandaran agar tak sembarang berguru.

Imam Ahmad berkata: ‘aku belajar selama 50 tahun. Aku belajar adab selaman 30’tahun dan belajar ilmu selama 20 tahun’. Ilmu saja tak cukup. Tapi akhlaq jauh lebih utama sebelum seseorang mau belajar ilmu.

Bersyukur kita dapat saudara baru seiman. Sebut saja beberapa nama yang tiba-tiba menjadi beken dan populair menjadi da’i. Mereka mengajarkan tentang Islam kepada kita. Memang tak ada salah dalam hal belajar dan menuntut ilmu termasuk kepada para mualaf sekalipun. Berbeda dengan ‘Mu’alaf’ pada agama lain, kedudukan mualaf justru mendapatkan perlakuan spesial dan istimewa. Laris manis bak kacang goreng. Sungguh mengasyikkan.

Baca Juga  Propaganda Pernikahan Dini di Media Sosial

Yang menarik adalah para mu’alaf yang baru belajar dan masuk Islam itu seakan menjadi guru terbaik. Panutan dan teladan. Bahkan mengalahkan posisi para ulama yang sudah puluhan tahun mendalami Islam. Layaknya guru mereka mengajari kita bagaimana cara ber-akidah yang lurus dan beribadah sesuai sunah. Bahkan tidak jarang punya keberanian menyalahkan atau merevisi para ulama pendahulu.

Dan hasilnya. Banyak yang tidak sesuai dengan pemahaman jamaah kebanyakan. Dan ini tentu sangat membedakan. Bias ini terus berlanjut apalagi kalau kemudian dijadikan hujjah (dalil) oleh sebagian muslimin. Memang tak ada persyaratan kapan seorang mualaf berhak mengajar ilmu agama yang baru dipeluk. Islam tak mengenal ke-rahib-an. Maka siapapun berhak menyampaikan termasuk mualaf meski satu ayat.

Loh.. siapa bilang saya tak mau belajar pada mu’alaf ? Belajar tentang proses mencari dan perjuangan mendapat hidayah mungkin. Atau Share pengalaman beragama masih mending. Tapi kemudian menjadi soal ketika mereka mengajari kita tentang cara berakidah yang lurus atau belajar beribadah sesuai sunah atau tiba tiba menyerukan jihad melawan rezim —ya nanti dulu .. bukan saya bermaksud takabur. Pemahaman dan pendalaman tak bisa di dapat secara instan. Apalagi dengan waktu singkat. Lantas mengatasnamakan umat. [AH].

 

Ust. Nurbani Yusuf
Ust. Nurbani Yusuf Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu dan Ustaz di Komunitas Padang Makhsyar yang Tinggal di Batu, Malang.