






Khutbah Jumat kali ini ini mengajak kita merenungkan kembali tanggung jawab setiap Muslim dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran dan kezaliman bukanlah sikap yang dapat dianggap sepele, sebab sikap abai dapat membuat keburukan terus tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Melalui khutbah ini, kita diajak memahami pentingnya keberanian untuk menegakkan kebaikan, mengingatkan […]

Di tengah derasnya arus media sosial, seorang muslim perlu bijak memilih aktivitas yang bermanfaat. Khutbah Jumat ini mengajak kita merenungkan hadis Nabi tentang pentingnya meninggalkan hal yang tidak berarti dan mengisi waktu dengan kebaikan. اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ […]

Menjaga lingkungan bukan sekadar kepedulian sosial, tetapi bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika alam rusak, kita semua turut merasakan akibatnya.

Ketika masalah datang dan semua jalan terasa buntu, kepada siapa kita mengadu? Khutbah Jumat ini mengajak kita mengingat kembali bahwa Allah selalu dekat, mendengar doa, dan membuka pintu rahmat bagi hamba-Nya.

Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]

Pribumisasi tidak mesti dengan kearifan lokal daerah tetapi kearifan lokal zaman, pergerakan zaman

Andreas Harsono menilai jurnalisme saat ini mengalami banyak tantangan, mulai dari kualitas jurnalismenya hingga keterlibatan publik dalam proses jurnalisme

Podcast Arrahim.ID kali ini akan mengulik tentang bagaimana kesaksian Pdt. Simon Filantropa sebagai saksi atas perjalanan terakhir Gus Dur untuk bertemu dengan sahabatnya, Gus Mus, sebelum lanjut ke Jombang, sowan ke sang kakek, KH. Hasyim Asy'ari

Gus Dur adalah cakrawala, hampir dalam arti yang sebenarnya. Dia hidup njangkungi bumi nusantara tanpa pilih-pilih. Serupa langit yang terlihat tinggi sekaligus dekat, itulah Gus Dur

Islam harus diposisikan sebagai landasan spiritual bagi bangsa untuk melaksanakan kehidupan bernegara.. Pun ia tidak akan dipandang sebagai agama yang suci dan damai jika hanya dimanifestaskan dengan simbol saja, tanpa mengarungi nilai-nilainya yang menyamudra.

Gus Dur berprinsip lebih baik mempertahankan “Republik Bumi” sampai ke surga daripada membuat “Istana Tuhan” di bumi. Sehingga, bagi Gus Dur tidak boleh ada campur aduk antara agama, sesuatu yang profan dan sakral, dengan negara dalam tataran formal.

Tidak bisa dipungkiri, gerakan Hijrah di Indonesia didukung oleh kapitalisasi perputaran uang yang besar dan dukungan yang kuat dari industri.

Bagi Gus Dur lembaga agama seharusnya tidak hanya difungsikan untuk akomodasi massa untuk praktik ritual semata, melainkan harus difungsikan juga untuk membangun masyarakatnya agar memiliki SDM yang unggul dan berdikari.

Kasus teror oleh MIT secara terang benderang mengilustrasikan bahwa ideologi jihadis internasional dapat diimpor. Ia juga merupakan satu contoh yang sempurna dari dinamika lokal yang beririsan dengan dunia global

Sebagai generasi penerus Gus Dur, kita harus tetap merajut persaudaraan tanpa membedakan kedudukan, suku bangsa, agama, tanpa berharap mendapatkan keuntungan apapun, selain kebaikan bersama sebagai bangsa
