



Setiap tahun baru tiba dengan ritual yang familiar. Kalender diatur ulang, resolusi dituliskan, dan masa depan dibayangkan dengan cermat. Bahasa resolusi tahun baru mendominasi media sosial. Yang paling kerap muncul ialah jadilah lebih produktif, tingkatkan diri, optimalkan hidup.
Tahun baru menjadi titik pemeriksaan simbolis di mana waktu dimoralisasi dan diri sendiri diuji. Namun, dalam pemikiran Islam, obsesi terhadap perencanaan ini sering memunculkan pertanyaan yang tidak nyaman. Jika semuanya sudah tertulis dalam qadar (ketetapan ilahi), apa sebetulnya arti perencanaan sama sekali? Dan yang lebih provokatif, apakah membuat resolusi mencederai prinsip tawakal?
Sekilas, ketegangan itu tampak jelas. Qadar menunjukkan bahwa hasil ditentukan oleh kebijaksanaan ilahi, sementara resolusi menyiratkan kendali, kebebasan bertindak, dan penguasaan atas masa depan.
Budaya produktivitas kontemporer mengamplifikasi ketegangan ini dengan menyajikan masa depan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan melalui resolusi, strategi, dan disiplin. Kegagalan mencapai tujuan dipandang sebagai kelemahan pribadi, sementara keberhasilan dirayakan sebagai bukti kedaulatan diri. Dalam kerangka berpikir seperti ini, kepercayaan kepada Tuhan dapat dianggap pasif, bahkan tidak bertanggung jawab atas diri.
Filsafat Islam menawarkan pemahaman yang jauh lebih bernuansa tentang hubungan antara takdir dan tindakan. Para teolog muslim klasik secara konsisten menolak gagasan bahwa kepercayaan pada qadar mengarah pada fatalisme.
Sebaliknya, ikhtiar manusia sama sekali tidak bertentangan dengan ketetapan ilahi, melainkan justru bagian darinya. Seseorang tidak bertindak melawan takdir, tetapi di dalam takdir. Perencanaan, perjuangan, dan pilihan itu sendiri terjalin dalam jalinan apa yang telah ditetapkan.
Inilah mengapa pemikiran Islam awal tidak pernah menganggap ikhtiar dan tawakal sebagai hal yang saling eksklusif. Tawakal bukanlah pengabaian usaha, tetapi penolakan untuk mengabsolutkannya. Nasihat terkenal Nabi Muhammad, “ikat untamu, lalu percayalah kepada Allah”, memotret keseimbangan ini secara ringkas. Tanggung jawab ada pada tindakan manusia, dan hasil ada pada Allah. Perencanaan membahas yang pertama, tawakal yang kedua.
Namun, masalah dengan kebiasaan resolusi tahun baru bukanlah perencanaan itu sendiri, tetapi beban metafisik yang diletakkan padanya. Dalam budaya produktivitas, perencanaan bukan lagi alat, melainkan ia menjadi ukuran moral. Maka, masa depan dibayangkan sebagai proyek pembangunan diri, dan diri sendiri sepenuhnya bertanggung jawab atas realisasinya.
Hal semacam itu berisiko menghasilkan kecemasan, kelelahan, dan bentuk penyembahan berhala yang halus di mana kendali menggantikan kepercayaan, dan pencapaian menggantikan makna. Dari perspektif filosofis Islam, obsesi ini mencerminkan ontologi waktu yang terdistorsi. Masa depan diperlakukan sebagai kepemilikan yang menunggu untuk diklaim, bukan sebagai cakrawala yang terbentang yang hanya diketahui sepenuhnya oleh Tuhan.
Qadar mengubah pandangan ini dengan mengingatkan orang beriman bahwa waktu bukanlah kosong atau netral. Waktu dipenuhi dengan kebijaksanaan ilahi yang melampaui perhitungan manusia. Oleh karena itu, perencanaan haruslah rendah hati alih-alih totaliter, yaitu berorientasi etika, bukan janji penguasaan.
Para sufi menginjeksikan wawasan yang lebih menjeluk lagi. Bagi mereka, terlalu terpaku pada hasil masa depan adalah gangguan dari kehadiran. Ibn Ata’illah memperingatkan bahwa salah satu tanda mengandalkan perbuatan daripada Tuhan adalah kecemasan yang berlebihan tentang masa depan.
Hal itu bukan berarti mengabaikan tanggung jawab, tetapi mengakui bahwa obsesi terhadap hasil sering kali berasal dari rasa takut daripada kebijaksanaan. Dalam konteks ini, tawakal menjadi penawar bagi tirani proyeksi, paksaan untuk selalu hidup dalam apa yang belum ada, dengan mengorbankan apa yang ada.
Dilihat dari sudut pandang ini, resolusi tahun baru dapat memperdalam atau melemahkan kehidupan spiritual, tergantung pada logika yang mendasarinya. Ketika resolusi dibingkai sebagai upaya untuk mengamankan nilai diri, mengendalikan takdir, atau menjamin kesuksesan, resolusi tersebut bertentangan dengan tawakkal. Akan tetapi, ketika ia dipahami sebagai niat etis—orientasi ikhtiar tanpa klaim atas hasil—resolusi tersebut menjadi ekspresi ikhtiar yang berlandaskan tawakal.
Perbedaan krusial terletak pada di mana makna itu berada. Budaya produktivitas menempatkan makna pada hasil, yakni tujuan tercapai, metrik meningkat, identitas ditingkatkan. Pemikiran Islam menempatkan makna pada niat dan tanggung jawab, bukan pada kesuksesan lahiriah.
Maka dari itu, rencana yang dibuat dengan kerendahan hati seyogianya mengakui ketidakpastian. Artinya, resolusi yang dibentuk oleh tawakal menerima bahwa upaya mungkin tidak menghasilkan hasil yang diinginkan, dan bahwa ini pun termasuk dalam kebijaksanaan ilahi.
Dalam pengertian ini, bahaya sebenarnya dari resolusi tahun baru bukanlah bahwa resolusi tersebut bertentangan dengan takdir, tetapi bahwa resolusi tersebut menumbuhkan ilusi independensi. Ketika diri menjadi perencana dan hakim sekaligus, kesuksesan melahirkan kesombongan dan kegagalan melahirkan keputusasaan.
Maka dari itu, tawakal mengganggu siklus semacam itu dengan mendistribusikan kembali beban, yaitu ikhtiar tetap diperlukan dan ditegakkan, tetapi keamanan eksistensial dihilangkan dari pundaknya.
Mungkin cara paling islami untuk menyambut tahun baru bukanlah dengan daftar ambisi, tetapi dengan penataan ulang niat. Alih-alih bertanya, “Apa yang akan saya capai?” seseorang mungkin sebaiknya bertanya, “Bagaimana saya akan menanggapi secara bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi?” Pergeseran pertanyaan mengubah perencanaan dari proyek dominasi menjadi praktik kesiapan etis.
Oleh karena itu, antara takdir dan resolusi, tidak ada kontradiksi, sebab ini hanya masalah sikap. Perencanaan yang menolak ketidakpastian bertentangan dengan tawakal. Perencanaan yang mengakui batas-batas kendali diri selaras dengan tawakal.
Dalam budaya yang terobsesi dengan kontrol, tawakal tidak menyerukan kepasifan, tetapi realisme spiritual, yaitu untuk bertindak sepenuhnya, merencanakan dengan bijak, dan menerima bahwa masa depan bukanlah kepemilikan, tetapi amanah. Saat tahun berganti, mungkin resolusi yang paling radikal bukanlah untuk menyempurnakan diri, tetapi untuk melonggarkan cengkeraman seseorang pada masa depan, tentu tanpa melepaskan tanggung jawab.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com