Puasa Ramadan dan Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

Puasa Ramadan melatih pengendalian diri dan menghadirkan ketenangan batin yang mengantarkan seorang Muslim pada kebahagiaan dunia dan akhirat

Puasa Ramadan menjadi salah satu jalan ibadah dalam Islam untuk mencapai kebahagiaan. Dengan berpuasa seorang muslim diajarkan untuk mengendalikan hawa nafsunya serta memperbaiki diri. Sebab telah mafhum bahwa nafsu dalam diri manusia adalah sumber utama segala bentuk kemaksiatan yang menghalangi seseorang untuk memperoleh kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.

Nafsu, apabila tidak ditundukkan, akan membawa kita pada perilaku yang merugikan. Sebaliknya, jika seseorang mampu menguasai nafsunya, setiap perbuatan dan perkataannya adalah kebaikan dan kesalehan yang mengantarkan diri kepada kebahagian.

Pengendalian nafsu ini lah yang menjadi salah satu tujuan dari adanya ibadah puasa, termasuk pada bulan Ramadan. Dalam puasa, titik awal ketika seseorang sudah tidak diperkenankan makan dan minum disebut dengan imsak. Secara harfiyah, istilah ini berarti ‘menahan’.

Dalam konteks puasa, sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah ayat 183-187, yang dimaksud ‘menahan’ ini bertujuan untuk mengubah kualitas jiwa seorang hamba agar menjadi lebih terkendali dalam mengelola hawa nafsu.

Dalam Tafsir Ruh Al-Bayan, Ismail Haqqi al-Barousawi menjelaskan bahwa esensi puasa adalah tidak hanya menahan makan dan minum, namun juga mengendalikan syahwat dan segenap anggota badan dari rasa curiga dan segala hal yang menghalagi tersambungnya seorang hamba sampai kepada Allah (Juz 1, h. 289).

Selain itu, larangan-larangan selain yang bersifat dhohir, seperti melakukan tindakan yang tidak bermoral, dapat membatalkan pahala puasanya. Sebagaimana dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda: “Lima hal yang menjadikan puasa batal (pahalanya), yaitu: berbohong; menggunjing; mengadu domba, melihat dengan syahwat dan sumpah palsu.” (Bidayatul Hidayah h. 100)

Meskipun demikian, Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin (juz 3, h. 85) menyampaikan bahwa ketika seseorang berpuasa, menahan dari makan dan minum, sejatinya hawa nafsunya juga akan terkendali. Sebab diantara faedah atau manfaat saat perut dalam kondisi lapar adalah bisa menaklukkan hawa nafsu yang berpotensi untuk menjerumuskan dalam perbuatan maksiat.

Makanan sebagaimana kata al-Ghazali adalah ‘bahan bakar’ bagi hawa nafsu. Dengan mengurangi mengonsumsi makanan, maka hawa nafsu akan meredup dan seseorang mampu mengendalikan dirinya.

Jika seseorang mampu mengendalikan diri, maka ia mampu arahkan tubuhnya untuk melakukan kebaikan dan menghindari perilaku tercela, dengan begitu hidupnya akan selalu dalam ketenangan dan kesenangan. Sehingga, kebahagiaan terletak pada keberhasilan dalam memerangi hawa nafsu dan menahan diri dari hal yang berlebihan.

Puasa Ramadhan yang merupakan salah satu moment untuk memperkuat kemampuan mengendalikan diri seorang muslim. Dalam ilmu psikologi, pengendalian diri atau self control diartikan sebagai kemampuan untuk mengelola setiap hasrat dan mengarahkan pada tingkah laku yang baik. Kemampuan pengendalian diri akan mendorong seseorang untuk membuat keputusan yang lebih baik sehingga tidak mudah terjatuh dalam kesalahan.

Berbagai studi menyatakan bahwa kemampuan self control ternyata menjadi salah satu kunci untuk menjalani kehidupan yang bahagia. Pasalnya, orang yang mampu mengendalikan diri akan berpikir jauh sebelum mengambil keputusan. Ia tidak akan ceroboh dan gegabah dalam bertindak. Dengan begitu, hidup juga menjadi lebih tenang sebab akan terhindar dari berbagai masalah.

Sehingga dengan berpuasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dalam satu bulan penuh pada Ramadan, umat muslim sesungguhnya diajarkan agar dapat mengelola keinginan dan hasratnya dengan baik, mengerti kapan harus menahan atau menyalurkan keinginan.

Oleh karenanya puasa bukan bertujuan untuk membinasakan syahwat manusia, tetapi mendidiknya agar memiliki kemampuan mengendalikan diri yang baik. Dengan kemampuan itu, seseorang akan menjadi lebih mawas diri dari melakukan perbuatan yang salah dan mencelakakan dirinya.

Selain itu, Rasulullah sendiri dalam hadisnya pernah bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِندَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِندَ لِقَاءِ رَبِّهِ

 “Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka (puasa/hari raya), dan kebahagiaan saat bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).

Al-Mulla dalam kitab Marqatul Mafatih (Juz 4, h. 1363), menerangkan bahwa dua kegembiraan itu meliputi di dunia dan di akhirat. Dua kebahagiaan tersebut yaitu:

Pertama, kegembiraan saat berbuka karena telah berhasil melaksanakan perintah Allah atau sebab mendapatkan pertolongan dapat menyempurnakan puasa dari menahan dirinya dan meraih pahala yang diharapkan.

Kedua, kegembiraan saat bertemu Tuhan sebab mendapatkan balasan amal puasa, mendapatkan pujian, atau keberuntungan dapat berjumpa dengan Allah. Dengan demikian dari hadis tersebut dapat dipahami, bahwa puasa Ramadan khususnya menjadi salah satu indikator yang mampu mengantarkan seseorang pada kebahagiaan. Wallahu a’lam

1
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.