



Sejak 16 November sampai 18 Desember 2020, INFID bekerja sama dengan Jaringan GUSDURian melaksanakan survei PERSEPSI DAN SIKAP GENERASI MUDA TERHADAP INTOLERANSI DAN EKSTREMISME KEKERASAN. Survei ini merupakan kelanjutan dari survei yang sama di tahun 2016. Survei tahun 2020 ini bertujuan untuk mengukur trend atau pergeseran sikap dan pandangan pemuda terhadap intoleransi dan ekstremisme kekerasan berbasis agama antara 2016-2020.
Survei tersebut merupakan lanjutan untuk mengukur dari survey yang sama dan telah dilakukan oleh INFID pada 2016. Survei pada 2020 itu mengambil segmentasi dan kota yang sama. INFID melakukan survei untuk mengukur jarak atau perkembangan dari kalangan anak muda selama empat tahun terakhir.
Ahmad Zainul Hamdi, selaku koordinator penelitian ini, mengatakan “Penelitian ini hanya ada modifikasi minor dari instrument yang kita gunakan. Kemudian, jika responden pada 2016 itu dimulai antara usia 16-30 tahun maka di tahun ini kita agak ke atas, kita mulai dari usia 18-30 tahun”.
Hal ini didasarkan pada pertimbangan yang terdapat dalam Undang-Undang (UU) Perlindungan anak. Di sana disebutkan, usia cakap hukum dimulai dari usia 18 tahun. Karena itu, pada survey 2020, INFID menggunakan usia 18 tahun untuk dijadikan sebagai responden. Jumlah responden pun berimbang 50-50 antara laki-laki dan perempuan.
Survei dilaksanakan di 30 kecamatan yang tersebar di enam kota besar (Surabaya, Surakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Pontianak). Populasi survei adalah pemuda (laki dan perempuan) yang berusia antara 18-30 tahun. Jumlah sampel adalah 1.200 orang responden yang diperoleh melalui teknik multistage random sampling. Margin of error adalah ± 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.
Responden terdiri atas 50% laki-laki dan 50% perempuan. Dilihat dari latar belakang suku, lima terbesar adalah Jawa (44 %), Sunda (26,5%), Makassar (10 %), Bugis (6,4 %), dan Madura (3,4 %). Sedang komposisi responden berdasarkan agama adalah Islam (95,8 %), Protestan (1,7 %), Katolik (1,6 %), Khonghucu (0,4 %), Budha (0,3 %), Hindu (0,1 %), Lainnya (0,2 %).
Berdasarkan hasil laporan penelitian tersebut salah satunya melihat tokoh agama yang dikenal oleh anak muda. Ada dua pertanyaan yang diajukan untuk melihat tokoh agama di kalangan anak muda. Pertanyaan pertama siapa tokoh agama yang diidolakan.
Secara berurutan, tokoh agama yang diidolakan paling banyak ditempati oleh ust. Abdul Somad 22,1%, Gus Baha 18,1%, Habib Rizieq 12,4%, Aa Gym 10,0%, Evie Effendi 7,0 %, Anwar Zahid 4,7%, Yusuf Mansyur 3,5%, Gus Miftah 2, 7%, Zakir Naik 2,7%, Hanan Attaki 2,6%, Habib Bahar bin Smith 2,3%, Adi Hidayat 1,9%, Quraisy Syhab 1,9%, Buya Hamka 1,8%, Ali Jaber 1,7%, KH. M Aqil Siraj, 1,6%, Paus Fransiskus 1,4%, Bunda Teresa 1,4%.
Menariknya terdapat perbedaan tokoh yang diidolakan antara survei tahun 2016 dan tahun 2020. Pada survey 2016, tokh muslim yang diidolakan didominasi oleh nama-nama tokoh muslim moderat, sedangkan survei tahun 2020 lebih didominasi nama-nama yang banyak tayang di media.
Sementara pertanyaan kedua adalah tokoh Muda (maksimal usia 40 tahun) di Indonesia yang dikenal dan diidolakan oleh informan. Secara berurutan nama tokoh muda yang paling banyak diidolakan dan dikenal di antara adalah Hanan Attaki menempati posisi pertama, kemudian disusul dengan Evie Effendi, Felix Siauw, Ust. Riza Muhammad, Oki Setiana Dewi, Ahmed Zam Zam, Taqy Malik, Ust. Maulana, Ryo Haryanto, Ust. Muzammil, Sabrang Mowo Damar.
Dari beberapa nama-nama tersebut seringkali muncul di media online maupun media televisi. Alasan kalangan muda mengidolakan tokoh-tokoh muda tersebut yang paling dominan adalah menjadi inspirasi; ceramahnya mudah dicerna, enak dan lucu; orangnya gaul dan mengerti istilah anak muda; sering muncul di televisi; sering membaca taushiahnya di media sosial; dan penampilannya keren.
Hasil penelitian INFID bekerjasama dengan Jaringan Gusdurian tersebut diluncurkan pada 23/03/2021. (mmsm)