



“…Kami dari humas rumah sakit menginformasikan untuk hasil swab positif. Kami sarankan isolasi mandiri selama 14 hari dan tindak lanjut berikutnya oleh puskesmas sesuai domisili…” sebuah pesan masuk ke WA menjelang sore, di tengah rapat virtual yang berlangsung. Rasanya seperti terlempar ke sudut ruangan. Corono sudah hadir di tubuh saya, di rumah kami.
Seperti kita ketahui kasus covid 19 dinyatakan ada di Indonesia pada Februari 2020, yang awalnya menimpa dua orang warga di Depok, tidak terlalu jauh dari perumahan kami tinggal. Penyebaran virus ini terus terjadi. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah untuk mengendalikan penyebaran covid-19, melalui diseminasi informasi, pembatasan sosial, penutupan tempat-tempat publik, kebijakan bekerja di rumah, belajar di rumah, vaksin sampai penerapan test covid 19 untuk mobilitas penduduk. Namun, penyebaran terus terjadi dari berbagai klaster, seperti klaster ibadah, klaster perkantoran dan yang sekarang dialami adalah klaster keluarga.
Klaster keluarga terjadi saat salah satu anggota keluarga terinfeksi virus, lalu menularkan ke anggota keluarga yang lainnya sehingga satu rumah tangga tertular covid 19 saat berada di rumah sendiri. Saya terkonfirmasi positif dari hasil tracking kontak erat kolega sekantor. Nilai CT adalah 22, menunjukkan virus sedang banyak-banyaknya dan sangat menularkan.
Pada posisi ini saya sangat tertekan dan merasa bersalah telah meresikokan orang-orang yang saya cintai terpapar virus ini. Karena bagaimanapun, sayalah yang memiliki mobilitas tinggi dan perjumpaan dengan banyak orang dibandingkan suami dan anak.
Klaster keluarga dinilai menjadi berbahaya karena dapat mempercepat penularan antar keluarga dalam satu wilayah. Misalkan RT atau komplek perumahan. Karena bagaimanapun lingkup pergaulan terjadi. Seperti shalat berjamaah, anak-anak bermain, obrolan bapak-bapak di pos satpam atau obrolan ibu-ibu saat belanja sayur yang berpotensi menyebarkan virus ini. Diperburuk dengan stigma dan ketidakpercayaan terhadap kebenaran adanya virus ini.
Maka kemudian, termasuk di perumahan saya, kini di setiap perumahan dan RT terdapat banyak orang terinfeksi baik seluruh anggota keluarga atau sebagian anggota keluarga saja. Isoman untuk rumah tangga kemudian menjadi pilihan untuk memutus penyebaran.
Gotong Royong dalam Keluarga dan Komunitas
Pengalaman selama tujuh hari isolasi mandiri memberikan banyak pembelajaran buat saya. Pengalaman keluarga saya ini pasti berbeda dengan pengalaman keluarga lainnya, namun ada hal-hal umum yang bisa kita lakukan untuk bergotong royong untuk menghadapinya. Sebagai berikut:
Pertama, segera lakukan test bagi seluruh anggota keluarga. Test covid akan menentukan bagaimana isoman dilakukan. Kami melakukannya secara mandiri, namun layanan ini test antigen tersedia juga di puskesmas dan selama menunggu hasil test, seluruh anggota keluarga menggunakan masker didalam rumah.
Kedua, koordinasikan dengan RT/RW, puskesmas dan Satgas Covid 19 jika ada salah satu anggota keluarga terinfeksi. Koordinasi ini untuk saling memantau perkembangan penderita covid 19 dan keluarganya. Pelaporan juga diperlukan agar puskesmas dapat melakukan penyelidikan kontak erat. Miliki foto KTP dan KK, juga template identitas umum termasuk nomor NIK agar setiap kali diminta informasi serupa kita tidak mengulangi dari awal.
Bersabarlah, karena dalam kondisi keterbatasan dan kelelahan petugas dapat menyebabkan lambannya respon yang diberikan. Kita juga dapat bertanya terkait covid-19 kepada petugas yang pemantau.
Ketiga, laksanakan isolasi mandiri. Jika dalam rumah tangga ada yang negative maka lakukan pemisahan ruang antara ruang isolasi dan non-isolasi. Terapkan protocol isolasi mandiri bagi keluarga mulai dari lalu lintas anggota keluarga, penggunaan kamar mandi sampai pengelolaan limbah. Protokol isolasi mandiri dapat diakses secara terbuka di website
Keempat, pembagian pekerjaan kerumahtanggaan. Isoman akan merubah ritme kehidupan kerumahtanggaan, termasuk jika ibu yang terinfeksi. Bagaimanapun kebersihan, perawatan keluarga dan penyediaan makanan siap santap kebanyakan dilakukan oleh Ibu. Dalam isoman, maka pekerjaan kerumahtanggaan haruslah dibagi dan dikelola bersama, agar kebutuhan pemulihan terpenuhi.
Kelima, pengelolaan resiko termasuk kematian. Diskusikan dengan anggota keluarga, termasuk keluarga besar, jika harus dirawat di rumah sakit. Termasuk apa yang harus dilakukan jika terjadi kematian. Seperti bagaimana membuat akta kematian, klaim asuransi, hutang piutang sampai pesan-pesan lain. Nampaknya pahit, tapi mau tidak mau harus didiskusikan agar anggota keluarga yang berhasil selamat dan hidup dari pandemi ini memahami apa yang harus dilakukan.
Keenam, gotong royong komunitas. Satu RT berstatus zona merah atau memiliki kasus lebih dari 5 rumah, maka pembatasan mikro harus diterapkan. Upaya yang dilakukan adalah dengan memantau warga yang melakukan isolasi mandiri, menemukan suspek, melacak kontak erat serta menutup tempat umum termasuk rumah ibadah, melarang berkumpul dan meniadakan kegiatan sosial serta menetapkan peraturan keluar masuk wilayah.
Hal tersebut telah dilakukan di perumahan kami. Selain itu komunikasi perkembangan warga serta bantuan kebutuhan isoman dikoordinasikan untuk didistribusikan. Gotong royong ditingkat komunitas ini menjadi penting, mengingat bagaimanapun tetangga-lah keluarga terdekat kita.
Pengalaman di atas, mungkin mewakili pengalaman saya sebagai keluarga kelas menengah. Dibutuhkan perhatiaan dan gotong royong antar komunitas khususnya terhadap warga-warga tidak mampu di daerah-daerah slum perkotaan. Ketidakpercayaan terhadap kebenaran adanya virus ini atau pandangan sebagai konspirasi menjadi tertolak dengan sendirinya dan tidak berarti ketika virus itu ada di tubuh kita, di sudut-sudut rumah kita yang bisa saja membawa kematiaan, termasuk kepada orang-orang yang kita cintai. Jangan menunggu hal itu, karena sakit dan isoman itu tidak menyenangkan. (MMSM)
Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan