Saiful Mustofa Penulis buku “Media Online Radikal dan Matinya Rasionalitas Komunikatif” (2019) dan editor di Penerbit Akademia Pustaka

Menulis sebagai Personal Branding

2 min read

Personal branding adalah upaya untuk mendongkrak eksistensi individu. Dengan teknik ini, seorang individu yang tadinya tak begitu tampak di permukaan lambat laun melejit. Secara umum personal branding memang berkaitan dengan banyak aspek dalam kehidupan. Namun, hal ini biasanya lekat dengan dunia pekerjaan yang bersinggungan dengan karier.

Ada banyak cara agar kita berhasil melakukan personal branding, tergantung siapa dan ingin menjadi apa. Jika ia seorang politisi yang akan mencalonkan diri sebagai kepala daerah atau anggota dewan misalnya, personal branding bisa dilakukan dengan sesering mungkin tampil di media massa dengan berbagai kegiatan positif tentunya. Atau dengan memanfaatkan akun media sosial pribadinya juga bisa.

Beda lagi jika ia adalah kaum intelektual, mahasiswa atau dosen misalnya, salah satu cara untuk personal branding adalah dengan menulis. Kenapa harus dengan menulis? Sebab salah satu legitimasi sebagai kaum intelektual adalah dengan karya tulis. Dalam kultur akademik, seseorang dianggap pakar dalam bidangnya dilihat dari seberapa banyak ia menghasilkan karya dan sejauh apa kualitasnya. Ia sudah menulis jurnal berapa dan dan reputasi nasional, internasional terindeks Scopus, Thomson Reuters atau yang lainnya? Ia sudah menerbitkan buku berapa dan di penerbit apa? Dalam konteks intelektual publik juga demikian. Ia sudah pernah menulis di media massa lokal atau nasional?

Jika parameter-parameter di atas dipenuhi barulah ia layak disebut sebagai kaum intelektual dalam arti yang sesungguhnya. Lalu, bagaimana jika ia tak punya karya tapi sering muncul sebagai narasumber di berbagai acara? Itu tergantung konteks acaranya. Memang ada beberapa orang yang dianggap pakar dalam beberapa hal tanpa punya karya. Misalnya, penguasaha sukses yang didapuk dalam acara motivasi bisnis dan sebagainya. Namun tak sedikit juga para motivator itu yang pada akhirnya juga menulis buku how to be success based on their experience.

Setengah Penulis dan Menulis Setengah-Setengah

Baca Juga  Agama Mengajarkan Kebaikan, Namun Tak Semua Pemeluk Mengamalkannya

Saya seringkali ditanyai tentang bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Biasanya, mereka adalah mahasiswa yang sedang gandrung dengan wacana dan merasa gelisah dengan pikirannya. Jawaban saya selalu saja sama: menulis itu bukan tentang kemampuan tapi kemauan.

Artinya, untuk mencapai level seorang penulis yang baik, ia mula-mula harus menjadi kepala batu. Ia harus ngeyel, menulis apa saja yang ia bisa dan dikirim ke media massa tertentu untuk mengujinya. Ditolak sekali, dua kali, tiga kali, bahkan puluhan kali itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Kalau ditolak sekali atau dua kali saja sudah menyerah dan merasa menjadi penulis itu susah maka sesungguhnya kita masih sampai pada level “setengah penulis dan menulis setengah-setengah.”

Setiap keberhasilan itu butuh totalitas. Kalau kita ingin menjadi pakar dalam bidang tertentu, jangan setengah hati untuk meraihnya. Menulis pun juga seperti itu. Sebab ia tentang proses. Ibarat pisau, jika kita menginginkan ketajaman yang maksimal dan awet maka kuncinya cuma satu: sesering mungkin diasah. Sebagus dan semahal apa pun pisaunya jika tak pernah diasah secara rutin ia akan tumpul dan tak berguna.

Cara mengasah menulis adalah perbanyak bacaan dan sesering mungkin dituangkan. Ini persoalan kemauan saja sebetulnya. Karena faktanya, sejak kita mengenal bangku sekolah formal sampai dewasa, perkembangan alur logika berpikir kita juga semakin tertata. Menulis yang tadinya tidak bisa sama sekali, mulai menulis huruf abjad sampai merangkai kata faktanya juga tak ada kendala.

Nah, jika itu bisa dilakukan secara konsisten maka lambat laun tulisan kita akan semakin bagus. Jika sudah begitu, untuk mengukur sejauh mana perkembangan skill menulis kita yang terbentuk dari kemauan tadi, maka caranya dengan mengirimkannya ke media massa. Baik media cetak maupun online.

Semakin sering kita mengirim, semakin besar peluang dimuat. Pertama mungkin kita akan menjumpai penolakan demi penolakan karena kita adalah pendatang baru. Itu wajar saja sebetulnya. Anggap saja sang redaktur sedang menguji kegigihan kita. Apalagi jika kita berangkat dari latar belakang orang biasa, mahasiswa atau penulis yang tak dinaungi oleh lembaga ternama. Sehingga ikhtiar untuk menjebol media massa selain mendongkrak eksistensi pribadi juga termasuk mengangkat nama lembaga kita.

Baca Juga  Argumentasi Kritik atas Sistem Khilafah

Terlebih di tengah kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, banyak sekali media online nonmainstream yang bisa kita kirimi tulisan sebagai awal personal branding. Kita bisa mulai dari yang biasa dulu. Jika di situ tulisan kita sudah sering dimuat maka kita harus pindah lainnya. Mencari level yang lebih tinggi lagi. Sampai pada akhirnya, tak ada lagi media massa yang tidak memuat tulisan kita. Semakin banyak tulisan kita tersebar, semakin cepat nama kita dikenal oleh banyak orang.

Jika sudah begitu, barulah kita sedikit menggeser paradigma dari yang tadinya “yang penting menulis” menjadi “menulis yang penting”. Sehingga kita boleh sedikit membusungkan dada dengan mendaku diri sebagai penulis sungguhan. Kalau sudah seperti ini, biasanya undangan untuk mengisi diklat, seminar atau workshop kepenulisan akan berjubel antre menghampiri kita. Itulah yang disebut dengan personal branding. Menjadikan menulis sebagai jalan ninja, eh maksudnya jalan untuk melejitkan nama kita. Selamat mencoba. [mmsm]

Saiful Mustofa Penulis buku “Media Online Radikal dan Matinya Rasionalitas Komunikatif” (2019) dan editor di Penerbit Akademia Pustaka