Self-Love dalam Islam, Egoisme atau Tanggung Jawab?

Self-love dalam Islam bukan egoisme, melainkan kesadaran menjaga amanah diri dengan tanggung jawab dan integritas moral.

Di era ketika rutinitas perawatan diri, budaya afirmasi, dan batasan pribadi mendominasi wacana publik, konsep cinta diri (self-love) dalam Islam sering kali memunculkan kecurigaan. Sebagian orang berasumsi bahwa mencintai diri sendiri bertentangan dengan kerendahan hati. Sebagian lainnya khawatir hal itu dapat mengarah pada narsisisme atau kepuasan spiritual.

Namun, pertanyaan yang lebih patut digali adalah apakah cinta diri merupakan tindakan egoisme, atau bisakah itu menjadi cara yang bertanggung jawab untuk menghormati diri sendiri sebagai amanah ilahi?

Untuk menjawab ini, kita harus terlebih dahulu mengklarifikasi apa yang dimaksud Islam dengan “diri”. Dalam teologi Islam, manusia bukanlah eksistensi yang kebetulan, tetapi agen moral yang dipercayakan dengan tanggung jawab.

Konsep amanah, yaitu amanah yang diberikan oleh Allah, membingkai kehidupan manusia sebagai sesuatu yang dipinjam, bukan dimiliki. Tubuh, akal, waktu, dan kapasitas emosional kita bukanlah milik kita dalam arti absolut. Itu semua adalah karunia yang dipercayakan. Dari perspektif ini, merawat diri sendiri bukanlah pemanjaan, melainkan pertanggungjawaban.

Kebingungan muncul ketika cinta diri disamakan dengan egosentrisme. Budaya modern terkadang mendefinisikan cinta diri sebagai memprioritaskan kenyamanan pribadi di atas segalanya.

Itu bisa menjadi bahasa pelepasan dari tanggung jawab, seperti jaga kedamaian diri, hilangkan ketidaknyamanan, hindari pengorbanan. Meskipun demikian, cinta diri dalam Islam tidak berputar di sekitar pemuasan ego. Sebaliknya, ia mempertanyakan apakah seseorang menjaga integritas amanah yang telah diberikan.

Etika Islam menekankan keseimbangan. Nabi Muhammad mengajarkan moderasi dalam ibadah, memperingatkan terhadap kelebihan spiritual yang membahayakan tubuh atau mengabaikan keluarga dan masyarakat.

Bimbingan semacam itu mencerminkan prinsip yang mendalam, yakni menyakiti diri sendiri atas nama ibadah bukanlah kesalehan, sebab pertumbuhan spiritual tidak dicapai melalui kelelahan atau penghapusan diri. Berlawanan dengan itu, pertumbuhan tersebut dipupuk melalui disiplin yang berkelanjutan.

Dilihat dari sudut pandang ini, perawatan diri dalam konteks spiritualitas dalam Islam menjadi tindakan rasa syukur. Tidur, nutrisi, istirahat, dan kesadaran emosional bukanlah kemewahan, melainkan justru kondisi yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban seseorang.

Bahkan ibadah pun membutuhkan stabilitas fisik dan psikologis. Jiwa yang lelah akan kesulitan melayani orang lain. Oleh karena itu, merawat kesejahteraan mental dan emosional seseorang adalah bagian dari tanggung jawab etis.

Kendati begitu, Islam juga menarik garis tegas antara kepedulian dan egoisme. Egoisme muncul ketika diri sendiri menjadi titik acuan utama, ketika keputusan hanya berputar pada keinginan pribadi tanpa memperhatikan pertanggungjawaban moral.

Kritik Al-Qur’an terhadap kesombongan berulang kali memperingatkan perihal pembesaran ego. Sebab, cinta diri sejati berakar pada kerendahan hati, mengakui keterbatasan manusia dan ketergantungan pada rahmat ilahi.

Perbedaan ini memperjelas perbedaan antara cinta diri dan egoisme dalam Islam. Egoisme mencari superioritas, sedangkan cinta diri mencari keselarasan. Egoisme menuntut validasi, sedangkan cinta diri menerima ketidaksempurnaan sambil berupaya untuk tumbuh. Yang satu memperbesar diri, yang lain melindungi diri dari kerusakan.

Selain itu, merawat diri dalam Islam mencakup batasan moral. Menjaga martabat diri, menghindari lingkungan yang mengikis iman, dan menjaga kesehatan emosional bukanlah tindakan egois. Itu adalah bentuk-bentuk menjaga amanah.

Seseorang yang terus-menerus mengabaikan kesejahteraannya sendiri untuk menyenangkan orang lain mungkin percaya bahwa mereka sedang mempraktikkan sikap tidak mementingkan diri sendiri atau altruisme, tetapi Islam memperingatkan tentang ketidakadilan, terutama ketidakadilan terhadap diri sendiri.

Menariknya, spiritualitas Islam memperkenalkan pemahaman berlapis tentang diri (nafs). Diri dapat cenderung pada dorongan egois, tetapi juga dapat matang menuju ketenangan. Mencintai diri sendiri, kemudian, bukan berarti memanjakan setiap dorongan, melainkan memelihara diri menuju potensi yang lebih tinggi. Disiplin, refleksi, dan pertobatan merupakan tindakan pemurnian, bukan tindakan penolakan.

Pandangan demikian mengemas ulang pengembangan pribadi. Dalam wacana kontemporer, pengembangan diri sering berfokus pada produktivitas dan optimalisasi diri. Islam menggeser fokus ke arah koherensi moral. Apakah kita menjadi lebih adil, lebih sabar, lebih bersyukur?

Mencintai diri sendiri dalam konteks ini berarti menginginkan keunggulan moral untuk diri sendiri, bukan karena kesombongan, tetapi karena penghormatan terhadap amanah yang tertanam dalam keberadaan seseorang. Percakapan tentang kesehatan mental lebih lanjut menyoroti kebutuhan akan keseimbangan ini.

Islam dan kesejahteraan mental bukanlah ranah yang bertentangan. Kesadaran emosional, mencari pertolongan ketika kewalahan, dan mengakui kerentanan tidak bertentangan dengan iman. Kontrasnya, hal itu mencerminkan kejujuran tentang kerapuhan manusia. Menyangkal kebutuhan emosional seseorang atas nama kekuatan dapat menyebabkan kerusakan spiritual dan relasional.

Maka dari itu, cinta diri (self-love) dalam Islam bukanlah entah pemujaan terhadap diri sendiri ataupun pengabaian diri. Ia adalah bentuk pengelolaan, mengakui bahwa diri itu rapuh dan bermartabat, penuh kekurangan tetapi diamanahi.

Mencintai diri sendiri (self-love) dengan benar berarti bertanya: Apakah saya menghormati apa yang telah diamanahkan kepada saya? Apakah saya menempa pertumbuhan yang membawa saya lebih dekat pada integritas etis?

Ketika cinta diri (self-love) terlepas dari pertanggungjawaban ilahi, ia berisiko menjadi egoisme, tetapi ketika didasarkan pada tanggung jawab, kerendahan hati, dan rasa syukur, ia menjadi sebuah tindakan ibadah. Merawat diri bukanlah tentang meninggikan ego di atas orang lain, melainkan tentang menjaga wadah tempat tindakan moral mengalir.

1

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.