



Belakangan, jamak kita jumpai sosok ustaz atau kiai yang secara mendadak pasang dada mengisi ruang dakwah kita baik secara verbal melalui mimbar pengajian, TV, radio hingga media sosial. Dibilang secara menadak sebab umumnya rekam jejak ilmiah-keislaman dan genealogi keilmuan (sanad) mereka bias dan tidak jelas, kepada siapa dan dimana mereka belajar? Seolah dakwah adalah hal mudah yang bisa dilakukan cukup dengan menghafal segelintir teks-teks keagamaan Alquran dan hadis lalu dengan berani dan lantang pasang muka di depan khalayak.
Potret gencarnya para dai instan ini sejatinya sudah pernah diprediksi oleh Rasulullah lewat penggalan hadist berikut:
ﺳﻴﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﺯﻣﺎﻥ ﻗﻠﻴﻞ ﻓﻘﻬﺎﺅﻩ ﻛﺜﻴﺮ ﺧﻄﺒﺎﺅﻩ ﻗﻠﻴﻞ ﻣﻌﻄﻮﻩ ﻛﺜﻴﺮ ﺳﺎﺋﻠﻮﻩ اﻟﻌﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻌﻤﻞ
“Akan datang suatu masa dimana sedikit spesialis fiqihnya, membludak banyak para oratornya, sedikit relawannya dan begitu banyak pengemisnya, pada masa itu ilmu dianggap lebih baik dari pada amal”. [Abū Hāmid al-Ghazāli, Ihyā’ Ulūm al-Dīn]
Prediksi tersebut rupanya tidak sekadar isapan jempol belaka, karena saat ini kita menyaksikan sendiri betapa sosok dai ustaz atau kiai instan berbekal pemahaman yang dangkal begitu berani pamer dada mengisi ruang dakwah bumi Nusantara.
Sekilas jika kita saksikan seruan dakwah yang disampaikan para ustaz atau kiai dadakan memang begitu meyakinkan, terkesan suci, dan islami hingga membuat masyarakat awam begitu terpikat. Pasalnya, siapa yang tidak akan terpacu semangat keagamaannya saat medengar sautan: “Tidak ada hukum yang benar kecuali hukum Allah dan barang siapa yang tidak berhukum dengan ketetapan hukum Allah maka ia kafir dsb.” Siapa pula yang akan menolak jika dikatakan “hanya titah Tuhanlah—Alquran—yang membawa kemaslahatan?
Tak ayal, kalau dari ceramah yang meraka sampaikan tersebut kemudian banyak masyarakat awam yang mulai berani menentang serta mengecam kebijakan pemerintah karena dianggap tidak sejalan dengan doktrin ideologi instan yang dipahami melalui ustaz atau kiai dadakan.
Selain itu, klaim kafir, bid’ah dan musyrik dengan mudah mereka layangkan kepada siapapun yang dianggap tidak sepaham dengan ideologi yang dibawa. Jika dicermati secara saksama, muatan dakwah yang disampaikan juga sarat dengan ujaran provokatif, kebencian, dan tekadang menyerang.
Fenomena menjamurnya dai prematur tersebut merupakan bentuk keprihatinan tersendiri bagi umat Islam yang harus diwaspadai untuk membentengi dan menyelamatkan masyarakat kita dari pengaruh mereka. Dakwah Islam harus dilakukan secara bijak serta disampaikan oleh orang-orang yang mengerti betul persoalan agama (kompeten) dan mempunyai kapabilitas yang mumpuni dibidang itu.
Dakwah tidak boleh dilakukan secara serampangan sesuai pesanan dan kepentingan tertentu. Memahami teks-teks keagamaan dan literatur ulama salaf lainnya juga tidak cukup hanya dengan menggunakan pembacaan tekstual, karena dibutuhkan integrasi pendekatan normatif dan kontekstual dari berbagai aspek; realitas sosial maupun aspek dalil lainnya.
Dalam konteks ini, Imam al-Māwardī dalam al-Ahkām al-Sulthānīyah memberikan sebuah kecaman keras bagi mereka yang terlalu berani berdakwah tanpa dasar ilmu yang baik:
وإذا وجد من تصدى لعلم الشرع وليس من أهله من فقيه او واعظ ولم يأمن إغترار الناس به في سوء تأويل او تحريف جواب أنكر عليه التصدي لما ليس هو من أهله وأظهر أمره لئلا يغتر به.
Ketika dijumpai orang yang menebarkan ilmu syariat sementara ia tidak kompeten, mencakup pakar fiqih atau sebagai orator pendakwah serta masyarakat tidak selamat dari tipu daya penyampaiannya yang tidak santun atau responsnya yang melenceng maka ia harus dicegah menyampaikan sesuatu yang bukan bidangnya tersebut serta sepak terjangnya harus dibuka transparan agar masyarakat tidak tertipu olehnya.
Hujjat al-Islām Abū Hāmid al-Ghazālī telah memberikan gambaran bagaimana kita mengenali sosok ulama sejati dan ulama “non-asli”. Pada bagian awal kitab Ihyā’ Ulūm al-Dīn bab ilmu, beliau secara berani mengkasifikasikan ulama menjadi dua, ulama sejati (ulamā al-ākhirah) dan tipikal ulama jelek (ulamā’ al-sū’). Uraian ini penulis rasa penting sebagai koreksi dan renungan untuk menakar kelayakan para dai dalam menyampaikan pesan dakwahnya.
Al-Ghazālī mengatakan:
نعني بعلماء الدنيا علماء اﻟﺴﻮء اﻟﺬﻳﻦ ﻗﺼﺪﻫﻢ ﻣﻦ اﻟﻌﻠﻢ اﻟﺘﻨﻌﻢ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭاﻟﺘﻮﺻﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﺠﺎﻩ ﻭاﻟﻤﻨﺰﻟة
Ulama dunia yang dikehendaki adalah sosok ulama yang tidak baik yaitu mereka yang menjadikan ilmu sebagai tujuan untuk memperoleh kenikamatan dunia dan haus jabatan atau pangkat.
Sebaliknya ulama sejati atau ulama akhirat bisa kita kenali dari perilakunya yang baik, antara lain tidak menjadikan ilmunya sebagai perantara mendapatkan dunia, zuhud, tulus, ikhlas, dan tidak pamrih dalam mengabdi.
Sosok ulama sejati tidak pernah haus popularitas apalagi gila jabatan sebab dalam beramal mengabdi sebagai penebar ilmu ia senantiasa tulus dan ikhlas mengharap rida Allah. [MZ]
Santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Karang Manggis Rombuh Palengaan Pamekasan Jawa Timur