



Kini pandemi Covid-19 telah merubah cara hidup masyarakat baik dalam dunia pendidikan, budaya, politik, keagamaan dan semua lini kehidupan. Dengan wabah penularannya masyarakat dianjurkan karantina atau mengasingkan diri, stay at home. Hal itu mengacu pada zaman Nabi, jika ada penyakit menular atau seseorang terkena penyakit menular, maka harus diasingkan/mengasingkan, atau dijauhkan dari orang yang sehat (Husnul Hakim, 2018: 114, Vol. XVII No. 1).
Di zaman Nabi Muhammad saw, dijelaskan bahwa sudah ada pandemi yang disebut dengan istilah tha’un yang diartikan sebagai wabah penyakit yang menyebar dan mematikan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad,
“Dari Usamah dan kawan-kawannya, mereka berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “Sesungguhnya penyakit tha’un itu adalah suatu azab atau sisa dari suatu azab yang pernah ditimpakan kepada kaum-kaum sebelum kalian. Apabila penyakit tha’un itu terjadi di suatu tempat, di mana kalian tinggal di dalamnya, maka janganlah keluar dari tempat itu untuk tujuan melarikan diri darinya. Apabila kalian mendengar bahwa penyakit itu sedang terjadi di suatu tempat, jangan kalian masuki (datangi) tempat itu.” HR. Ahmad.
Hadis di atas menjelaskan bahwa jika di suatu tempat ada penyakit menular maka jangan kita memasukinya dan jika kita berada didalam tempat tersebut maka jangan kita keluar dari tempat itu. Bukan baru-baru ini saja terjadi fenomena atau muncul pandemi seperti ini, namun sudah ada sejak zaman Nabi. Hanya saja jika dizaman Nabi kejadian tersebut disebut dengan azab, karena hanya menimpa bagi kaum kafir atau yang suka bermaksiat. (Nurul Wathani dan Nursyamsu: 71).
Lalu apa yang dimaksud dengan azab? Azab adalah suatu siksaan yang menimpa pada makhluk yang disebabkan karena kemusyrikan. Dalam al-Qur’an dikontekskan siksaan pada umat terdahulu dan nanti (hari akhir). M Quraish Shihab dalam Corona Ujian Tuhan (2020) menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an “Apabila Allah akan menjatuhkan siksa atas satu kaum, maka lebih dahulu diselamatkan hamba-hamba-Nya yang taat agar meraka tidak ditimpa siksa.”
Contohnya terdapat pada QS. Hud ayat 26-27, yaitu menceritakan kaum Nabi Nuh yang diperintahkan Allah membuat perahu untuk mengangkut umat kaum beriman sebelum datangnya banjir besar. Dari contoh inilah yang dinamakan suatu azab, karena hanya menimpa kaum tidak beriman.
Dalam QS. Al-Anfal ayat 33 juga dijelaskan bahwa apabila datang siksaan duniawi, siksa tersebut ditujukan agar manusia melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah menegaskan bahwa tidak akan menyiksa mereka selama engkau wahai Nabi Muhammad masih berada ditengah mereka, juga tidak jika mereka beristighfar memohon ampun. Jadi, azab hanya menimpa pada kaum pendurhaka.
Lalu, apakah pandemi ini dapat dikatakan azab? Atau termasuk suatu musibah? Jika dapat dikatakan suatu azab, pandemi ini tidak hanya menimpa kaum kafir namun juga menimpa kaum muslimin. Dan apabila ini musibah, bagaimana bisa dikatakan sebagai musibah?
Musibah adalah suatu ujian atau teguran dari Allah SWT berupa hal baik ataupun buruk. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 dijelaskan seperti kelaparan, ketakutan, kekurangan harta atau lain sebagainya. M Quraish Shihab berpendapat bahwa musibah adalah sesuatu yang tidak selalu terkait dengan bencana, akan tetapi suatu yang baik ataupun negatif.
Sangat jelas dalam QS At-Taubah ayat 51, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. Dengan begitu, sangat jelas bahwa musibah adalah suatu ketetapan yang berlaku dari Tuhan untuk menguji hamba-Nya.
Pertanyaan apakah pandemi suatu azab atau musibah? Imam masjid Besar Istiqlal Prof. KH Nasaruddin Umar menyampaikan pada kabar Republika bahwa virus corona ini tidak dapat dikatakan sebagai azab, karena menurut Al-Qur’an dan Sunnah azab hanya diturunkan untuk umat terdahulu. Kemudian juga sudah jelas bahwa suatu musibah atau ujian tidak datang begitu saja, akan tetapi sudah ada ketetapannya dari Allah SWT.
Maka itu, jika masih berpendapat bahwa pandemi ini adalah suatu azab itu kurang tepat. Jika pandemi ini dikatakan suatu musibah masih dapat diterima, karena jika diciptakan untuk suatu azab maka akan diberi peringat terlebih dahulu kepada kaum muslimin seperti yang dijelaskan pada QS. At-Taubah ayat 51 di atas.
Tidak dapat diketahui kapan berakhirnya, dan bagaimana titik akhir dari usaha pencegahan yang ada. Pandemi ini datang untuk ujian dalam hidup atau suatu konsekuensi dalam kehidupan. “Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS. Muhammad: 31).
Dari ujian tersebut dapat kita ketahui di mana orang yang sabar dan orang yang selalu mengeluh dalam menerima keadaan. Pandemi datang mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada-Nya. Jika dalam bahasa jawa disebut “Eling” artinya ingat, selalu ingkat kepada Allah SWT. Percaya bahwa apa yang terjadi pasti atas karunia dan garis lembut tangan-Nya.
Kendati, sebagai orang bertakwa, kita jangan terlalu takut akan suatu musibah, namun juga jangan menyepelekan datangnya musibah. Pandemi ini dapat mengajarkan hal sabar dan waspada, waspada yang tidak ada ketakutan di dalamnya. Bersikap baik-baik saja dan tidak panik adalah kunci dari menghadapi pandemi.
Akhirnya, yang perlu kita lakukan adalah memasrahkan saja semua kepada Allah semberi kita usaha menjaga diri dan liyan. Allah adalah sebaik-baik pembuat skenario. Wallahu’Alam.. [AA]
Mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’a dan Tafsir, IAIN Surakarta