



Bumi adalah tempat kita hidup sekaligus amanah yang Allah titipkan kepada manusia. Di tengah berbagai kerusakan lingkungan dan bencana ekologis, khutbah ini mengajak kita kembali memahami amanah manusia sebagai khalifah serta menumbuhkan kesadaran untuk merawat bumi, mulai dari langkah-langkah kecil yang dapat kita lakukan bersama.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا الـمـُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ
Hadirin salat Jumat yang dirahamti oleh Allah
Kemarau panjang akhir-akhir ini jangan kita anggap hanya sekadar gejala alam, sebagai penghuni bumi yang baik kita perlu merenungi apa saja yang sudah kita lakukan untuk menjaga bumi; apakah kita turut berkontribusi dalam mengahasilkan cuaca ekstrem yang terjadi hari ini?
Setahun lalu, banjir bandang melanda Sumatera akibat hujan ekstrem yang diperparah oleh penggundulan hutan secara masif. Tahun ini, kebakaran hutan di Kalimantan telah berlangsung lebih dari tiga bulan dan hingga kini belum juga berakhir. Sungai Kapuas bahkan mulai mengering.
Namun, rangkaian krisis ekologis tersebut seolah belum cukup untuk menggugah kepedulian kita. Baik masyarakat maupun para penentu kebijakan masih tampak belum menempatkan persoalan lingkungan sebagai agenda yang mendesak.
Allah Swt. berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 56,
وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفٗا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٥٦
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Jemaah salat Jumat rahimakumullah,
Ayat di atas mengingatkan kita untuk tidak merusak alam yang sudah diciptakan oleh Allah sedemikian sempurna.
Syaikh Mutawalli asy-Sya‘rawi memberikan penjelasan menarik ketika menafsirkan ayat ini. Ia mengatakan bumi adalah tempat manusia menjalankan kehidupannya sebagai khalifah. Oleh sebab itu, hubungan manusia dengan alam tidak semestinya dipahami sekadar sebagai hubungan antara manusia dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan sesuka hati. Alam merupakan bagian dari ruang kehidupan yang menopang keberadaan manusia.
Di sinilah tanggung jawab sebagai khalifah menemukan salah satu maknanya. Manusia memang diberi ruang untuk memanfaatkan alam, tetapi pada saat yang sama ia berkewajiban menjaga keberlangsungannya. Sebab, ketika manusia merusak lingkungan, yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian alam, melainkan juga keberlangsungan hidup manusia sendiri. Bukankah aneh jika kita justru merusak tempat yang menjadi rumah bagi kehidupan kita?
Hadirin Rahimakumullah,
Alam semesta berjalan dalam keteraturan yang telah Allah tetapkan. Matahari terbit dan menerangi bumi tanpa pernah kita perintah. Udara bergerak, air mengalir, hujan turun, dan berbagai unsur alam menjalankan fungsinya masing-masing sehingga kehidupan dapat berlangsung. Semua itu menunjukkan betapa Allah telah menciptakan alam dengan keteraturan dan keseimbangan yang luar biasa.
Sebagai manusia, kita menerima manfaat dari keteraturan tersebut sekaligus memikul amanah untuk menjaganya. Kita tidak menciptakan matahari, tidak menciptakan udara, dan tidak menciptakan air. Kita hanya menerima dan memanfaatkan apa yang telah Allah sediakan. Karena itu, pantaskah kita justru merusak keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan? Pantaskah kita menghancurkan lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupan kita?
Bukankah aneh jika kita menikmati nikmat yang Allah berikan melalui alam, tetapi pada saat yang sama kita merusaknya dengan tangan kita sendiri?
Prof. Quraish Shihab, ketika menafsirkan Surah al-Baqarah ayat 22, mengingatkan pentingnya menjaga bumi dan tidak melakukan kerusakan terhadap lingkungan. Pesan ini sejalan dengan amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi: memanfaatkan alam tanpa menghancurkannya dan mengambil manfaat darinya tanpa menghilangkan keberlangsungannya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita perlu menyadari bahwa krisis lingkungan yang terjadi tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Ada bagian yang mungkin berawal dari perilaku kita sehari-hari, seperti membuang atau membakar sampah sembarangan, tetapi ada pula persoalan yang berkaitan dengan bagaimana alam dikelola dan kebijakan ditetapkan.
Sehingga, kebakaran hutan di Kalimantan dan banjir bandang di Sumatera tidak cukup hanya kita lihat sebagai bencana alam, tetapi juga perlu menjadi bahan refleksi tentang sejauh mana kita, termasuk dalam menentukan dan mengawasi para pemegang kebijakan, telah ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.
Allah Swt. berfirman dalam surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah menimpakan kepada mereka dari (akibat) perbuatan mereka sendiri, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kerusakan demi kerusakan yang terjadi di bumi, dalam banyak hal, tidak lepas dari ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Semua yang kita saksikan semestinya menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukanlah tugas satu pihak saja. Kita perlu bergotong royong, merawat dan melestarikan alam sesuai dengan kemampuan kita, sekecil apa pun peran yang dapat kita lakukan.
Bagi yang mampu ikut menjaga dan melestarikan hutan, silakan berbuat. Bagi yang baru bisa memulai dari rumah dengan memilah sampah, silakan mulai. Bagi yang memiliki kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan di tengah masyarakat, silakan lakukan. Dan masih banyak cara lain yang dapat kita tempuh.
Tidak harus dengan langkah besar. Yang terpenting adalah kemauan untuk mengambil bagian. Sebab, ketika usaha-usaha kecil itu dilakukan bersama-sama, kita sedang membangun ikhtiar yang lebih besar untuk merawat bumi dan menjaga kehidupan di dalamnya.
Semoga khutbah singkat ini bermanfaat bagi khotib dan hadirin semuanya.
أَقوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعدُ، فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.