Dedikasi Perempuan dalam Membangun Peradaban

Perempuan selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan, tidak hanya saat ini, bahkan sejak era Yunani kuno, para filosof kenamaan sudah membahas tentang perempuan. Aristoteles misalnya, ia menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya. Bahkan Socrates berpendapat, dua sahabat setia harus mampu ‘meminjamkan’ istrinya kepada sahabatnya tersebut. Perbincangan seperti itu berlangsung sangat lama dan kemudian menjadi suatu budaya yang mengakar di masyarakat bahwa perempuan menempati posisi kedua setelah kaum Adam.

Di masa jahiliyah sebagaimana yang kita ketahui bahwa bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai aib keluarga. Dalam kondisi lain, perempuan juga dijadikan jaminan dalam hutang atau bahkan dijadikan hadiah kepada seorang tamu. Selain itu, sebelum Islam datang, perempuan sama sekali tidak mendapat jatah warisan, sebaliknya ia dijadikan salah satu barang warisan. Patut kita berbangga hati, bahwa Islam datang dengan berbagai kabar gembira, salah satunya praktik-praktik tersebut secara perlahan telah dihapuskan. Nabi kita, Muhammad saw pun sangat memuliakan perempuan.

Nabi saw memberikan ruang begitu luas bagi perempuan untuk berkiprah sesuai dengan bidang yang ia geluti, tidak melarang dan tidak membatasi. Sehingga kita akan mendapati beberapa nama perempuan yang hidup di masa sahabat dan telah memberikan banyak kontribusi untuk Islam. Sebut saja sahabat Rufaidah, perempuan yang ahli dalam bidang medis. Nabi saw memberikan kesempatan kepada Rufaidah untuk ikut serta mengobati para sahabat yang mengalami sakit.

Selain itu, Nabi saw saat itu juga tidak melarang istri beliau, sayyidah Khadijah untuk keluar rumah ketika Nabi saw bertahannuts di goa Hira’. Sayyidah Khadijah menyempatkan mengirim makanan kepada baginda Nabi saw ketika Nabi lama tidak kembali ke rumah. Ini membuktikan bahwa di zaman itu, perempuan sudah memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas di luar rumah, jika saat ini masih ada yang mempermasalahkan kiprah perempuan, maka ini sama saja kita mengalami kemunduran.

Beberapa perempuan telah mampu membuktikan kiprahnya dalam membangun peradaban, sebut saja nama yang sangat tidak asing di telinga kita yaitu sayyidah Aisyah. Sayyidah Aisyah merupakan putri dari salah satu sahabat terdekat Nabi saw, yaitu Abu Bakar al-Shiddiq. Sayyidah Aisyah memiliki beberapa julukan, diantaranya adalah al-Shiddiqah (perempuan yang jujur) dan al-Humaira (perempuan berkulit semu merah atau kemerah-merahan). Selama menjadi istri Nabi saw, sayyidah Aisyah banyak melihat keseharian Nabi dan juga kebiasaan-kebiasaan Nabi saw.

Dari sinilah, ia merekam begitu banyak hadis dari Nabi saw. Ingatannya yang sangat tajam dan kecerdasan yang di atas rata-rata, menjadikan Aisyah begitu jeli dan mengingat banyak hadis. Tak heran, jika kemudian saat Nabi saw sudah wafat, banyak sahabat Nabi saw yang mendatangi ibunda Aisyah demi mendapatkan banyak pelajaran keagamaan. Bahkan Sayyidah Aisyah tercatat menjadi salah satu dari lima sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Salah seorang ahli hadis sampai mengatakan bahwa “Andaikata dikumpulkan seluruh pengetahuan Aisyah, pengetahuan seluruh istri Nabi saw, dan semua perempuan, niscaya pengetahuan Aisyah jauh lebih unggul”. Ungkapan ini telah memberi gambaran kepada kita betapa sayyidah Aisyah saat itu memegang tonggak pengetahuan agama di era sahabat Nabi saw.

Selain sayyidah Aisyah, sosok perempuan istimewa yang bahkan juga menjadi guru al-Imam al-Syafi’’i, yaitu sayyidah Nafisah juga memiliki kontribusi besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang begitu luas, kecerdasan, dan juga kezuhudan yang ia miliki, menjadikan nama sayyidah Nafisah begitu masyhur tidak hanya di daerah Hijaz (Makkah, Madinah, dan daerah lain di Arab Saudi), melainkan juga di Mesir dan negeri-negeri lain di Timur Tengah.

Pada saat musim haji berlangsung, para jamaah haji dari Mesir bahkan sengaja menemui sayyidah Nafisah untuk menimba ilmu langsung darinya. Karena terkesan dengan keilmuan yang dimiliki oleh sayyidah Nafisah, mereka kemudian berharap bahwa sayyidah Nafisah suatu saat mendatangi Mesir dan membuka majlis ilmu di negeri tersebut.

Pada tahun 193 H, sayyidah Nafisah beserta keluarganya berkunjung ke Mesir untuk mengunjungi keluarganya. Kabar kedatangan sayyidah Nafisah di Mesir begitu cepat beredar, sehingga banyak pecinta ilmu yang kemudian mendatanginya. Mereka berharap sayyidah Nafisah untuk tinggal cukup lama di Mesir. Salah seorang yang menjadi muridnya diantaranya adalah al-Imam al-Syafi’i, pelopor madzab Syafi’i, yang juga dianut oleh mayoritas muslim Indonesia. Al-Syafi’i sangat terkagum-kagum dengan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Sayyidah Nafisah sehingga beliaupun rela menghabiskan waktu luangnya untuk bermujalasah dengan sayyidah Nafisah.

Kisah sayyidah Nafisah ini memberikan gambaran kepada kita bahwa di masa awal abad hijriyah, seorang perempuan berilmu diakui keberadaanyya dan telah melahirkan ulama-ulama hebat di masanya. Oleh karena itu, jika di masa lampau dengan segala keterbatasan yang ada, seorang perempuan telah dijadikan rujukan dalam ilmu pengetahuan, maka sudah sepatutnya saat ini kita sebagai perempuan untuk bangkit dan memanfaatkan segala kemajuan yang ada untuk memperoleh banyak informasi sebagai bekal untuk menjadi perempuan berpengaruh di masa depan.

Dari biografi singkat dua perempuan di atas setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa di abad pertama hijriyah ternyata perempuan memiliki ruang istimewa dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita para perempuan untuk mampu meneladani perempuan-perempuan tersebut dan membuat sejarah baru untuk masa depan generasi kita.

1

Seorang mahasiswi yg juga aktif mengajar di pesantren Darus Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan. Saat ini, tergabung menjadi Puan Menulis.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.