Khutbah Jumat: Tanggung Jawab Muslim dalam Menjaga Kebaikan

Khutbah Jumat menjadi momentum untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya amar makruf nahi mungkar dan tanggung jawab menjaga kebaikan dalam kehidupan bersama.

Khutbah Jumat kali ini ini mengajak kita merenungkan kembali tanggung jawab setiap Muslim dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran dan kezaliman bukanlah sikap yang dapat dianggap sepele, sebab sikap abai dapat membuat keburukan terus tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Melalui khutbah ini, kita diajak memahami pentingnya keberanian untuk menegakkan kebaikan, mengingatkan sesama, dan tidak berdiam diri ketika menyaksikan kezaliman.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِيـمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا الـمـُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ٧٩

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sebagai umat Nabi Muhammad saw., ada kewajiban untuk saling peduli antar sesama muslim. Banyak ayat Al-Qu’ran dan hadis memerintah kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, saling menasehati dalam ketataan, dan berusaha mengajak orang lain untuk tidak berbuat zalim.

Allah SWT. dalam salah satu firman-Nya, pada Surah Ali Imran ayat 110.

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠

“Kalian lahir sebagai sebaik-baiknya umat untuk umat manusia, yang memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, (sayangnya) di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Ayat ini menegaskan bahwa predikat khairu ummah (umat terbaik) bukanlah keistimewaan yang melekat semata-mata karena identitas keislaman, melainkan mengandung tanggung jawab moral dan sosial. Al-Qur’an mengaitkan predikat tersebut dengan komitmen untuk menegakkan kebaikan (amar makruf), mencegah kemungkaran (nahi mungkar), dan menjaga keimanan kepada Allah.

Karena itu, tanggung jawab mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran tidak semestinya dipahami sebagai tugas eksklusif para ulama, ustaz, atau tokoh agama. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam menghadirkan kebaikan dan memperbaiki kehidupan bersama sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.

Sebagai orang tua misalnya, kita wajib perintahkan kebaikan kepada anggota keluarga kita; sebagai sahabat kita wajib ingatkan teman untuk berbuat baik dan tidak berbuat zalim.

Kita semua memiliki tanggungjawab yang sama untuk perintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Nabi Muhammad saw. juga ingatkan kita tentang ciri orang mukmin sejati. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik Nabi Muhammad saw. bersabda.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak (sempurna) iman seseorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

Muhammad Al-Jardani menjelaskan bahwa “sesuatu” yang dimaksud adalah segala kebaikan. Inti dari kebaikan dalam Islam adalah meraih rida-Nya Allah.

Tentu semua yang hadir di sini, termasuk khatib sendiri sangat berharap untuk mendapatkan rida-Nya Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Terkait keistimewaan tadi, salah satu pentingnya khutbah yang kita dengarkan setiap hari Jumat adalah mengingatkan kembali pentingnya amar makruf nahi mungkar. Sebagai manusia, kita tidak pernah lepas dari lupa dan khilaf.

Karena itu, khutbah Jumat menjadi salah satu ruang untuk saling mengingatkan agar kita senantiasa berpihak pada kebaikan, bukan justru membiarkan keburukan dan kezaliman.

Ketika berhadapan dengan kemungkaran atau kezaliman yang nyata, kita tidak boleh bersikap abai. Kita dituntut untuk mengambil sikap dan berupaya mengubahnya sesuai dengan kemampuan.

Jika tidak mampu mengubahnya melalui tindakan, setidaknya hati kita tetap menolak dan mengingkarinya. Sebab, membenarkan kezaliman atau diam dengan hati yang merelakannya bukanlah sikap yang semestinya tumbuh dari keimanan.

Jemaah salat Jumat rahimakumullah,

Dalam sebuah hadis riwayat Abdullah bin Jarir, Kanjeng Nabi Muhammad saw. mengingatkan kita untuk mengambil sikap saat kezaliman dan kemungkaran merajalela.

مَا مِنْ قَوْمٍ يَكُوْنُ فِيهِمْ رَجُلٌ يَعمَلُ بِالـمَعَاصى، وَيَقْدِرُوْنَ أَنْ يُغَيِّرُونَ فَلا يُغَيِّرُونَهُ إِلَّا عَمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ قَبْلَ أَنْ يَـمُوتُ

“Saat ada seorang laki-laki bermaksiat di tengah masyarakat (apapun), sedangkan masyarakat itu mampu merubahnya dan enggan merubahnya. Allah (bakal) timpakan azab kepada mereka sebelum dia mati!.”

Hadis ini menunjukkan betapa perlunya kita menegur, mengingatkan, mengingkari, atau mendoakan orang-orang terdekat kita kala berbuat zalim atau kemaksiatan. Salah satu tujuannya adalah agar kita tidak terkena dampak negatif baik secara langsung atau tidak.

Misalnya, ketika ada calon pemimpin yang terkenal korup, lalu dia terpilih secara sah sebagai pemimpin. Dalam perjalanan kepemimipinanya ia kemudia korupsi, maka kita juga lah yang akhirnya merasakan dampaknya.

Dalam sebuah atsar, Abu Dardak menegaskan konsekuensi atas hal semacam ini yakni, tatkala kita enggan untuk melakukan amar makruf nahi munkar.

لَتَأْمُرُنَّ بِالـمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الـمُنْكَرِ أَوْ لَيُسَلِّطَنَّ اللهُ عَلَيكُمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا، لَا يُجِلُّ كَبِيرَكُمْ وَلَا يَرْحَمُ صَغِيرَكُم وَيَدْعُو خِيَارُكُمْ فَلا يُسْتَجَابُ لَهُمْ وَيَسْتَنصِرُونَ فَلا يُنْصَرُون

“Kamu harus sungguhan dalam amar makruf nahi munkar atau Allah bakal menundukkan kalian di bawah pimpinan raja zalim. Pimpinan zalim itu tidak memuliakan orang-orang agung dan tidak menyayangi anak-anak kalian, kala orang-orang berilmu menyeru kepadanya (tentang apapun) tidak akan dijawab dan kala kaumnya meminta pertolongan tidak akan dibantu olehnya.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Andai hari ini kita dipimpin oleh pemimpin yang dianggap zalim, kelihatannya kita perlu melakukan refleksi diri; jangan-jangan kita juga telah ikut andil atas adanya pemimpin yang zalim ini.

Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena bisa jadi kita kerap tutup mulut, acuh, dan tidak mau melaksanakan amar makruf nahi mungkar ketika pemimpin ini berbuat zalim. Sehingga, kezaliman semakin menjadi tontonan yang dianggap lumrah.

Saya menyarankan penutup yang mengikat kembali gagasan utama khutbah, yakni bahwa membiarkan kemungkaran bukan sikap yang netral, melainkan dapat membuat kita ikut melanggengkan kezaliman. Tambahannya bisa seperti berikut:

Sebagai penutup, khatib ingin menegaskan bahwa amar makruf nahi mungkar bukan sekadar urusan menasihati orang lain, melainkan juga keberanian untuk mengoreksi diri dan lingkungan kita sendiri.

Jangan sampai kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi memilih diam ketika kemungkaran terjadi di hadapan kita. Jangan pula kita menganggap kezaliman sebagai sesuatu yang biasa hanya karena terlalu sering menyaksikannya.

Semoga khutbah ini memberikan manfaat bagi khotib dan para hadirin semuanya. Semoga kita tetap mau amar makruf nahi mungkar baik dalam bilik-bilik rumah atau pada masyarakat sekitar kita.

أَقوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

أَمَّا بَعدُ، فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ  الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ  يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

1

Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.