Yang Hampir Hilang dari Pendidikan Kita

Hal yang sepenuhnya perlu disadari oleh semua orang adalah bahwa pendidikan merupakan pilar yang sangat penting bagi keberlangsungan peradaban suatu bangsa. Pendidikan merupakan aspek penentu kemajuan peradaban suatu bangsa, sebelum akhirnya parameter kemajuan suatu bangsa tersebut diambil alih oleh kecanggihan teknologi dan sistem ekonomi yang mapan.

Namun realitanya, isu-isu pendidikan jarang sekali terkuak di permukaan diskusi masyarakat. Diskusi pendidikan saat ini umumnya hanya terjadi di kalangan pengamat dan pelaksana pendidikan saja. Padahal, setiap hari kita tak pernah berhenti bersinggungan dengan pendidikan, baik secara sadar atau tidak sadar.

Lalu pertanyaanya; pendidikan ideal yang seperti apa yang menentukan kemajuan suatu peradaban bangsa?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami bahwa pendidikan setidaknya bisa dilihat dari dua sudut pandanga mendasar, yakni: pertama, pendidikan sebagai sistem dan wacana nasional; dan kedua, pendidikan sebagai kodrat manusia dan naluri sosial dalam masyarakat.

Pendidikan sebagai sistem dan wacana nasional memiliki problematika yang sangat rumit, baik itu tentang pemerataan pendidikan, kapasitas fasilitas, pendidik, profil lulusan dan aspek-aspek material yang lain. Yang bertugas untuk mencarikan solusi atas permasalahan tersebut adalah kebijakan pemerintah dan pelaksana pendidikan. Artinya, pendidikan sebagai sistem dan wacana nasional merupakan pendidikan dalam arti sempit dan jangka pendek meskipun pada akhirnya akan berdampak dalam jangka panjang.

Kedua, pendidikan sebagai kodrat manusia dan naluri sosial dalam masyarakat juga memiliki problematika yang tidak kalah rumit, bahkan bisa jadi lebih berat untuk mencarikan solusi atas permasalahan yang ada. Hal ini karena pendidikan berjalan seakan secara alamiah. Pedidikan dalam arti yang kedua ini meliputi penghayatan masyarakat terhadap tujuan pendidikan dan keilmuan.

Pendidikan dalam arti yang kedua inilah yang memiliki problem yang sangat kompleks, serta butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikan permasalahannya. Solusinya pun bukan dengan fasilitas material dan uang, tetapi dengan menanamkan pendidikan yang ideal di “hati” masyarakat.

Jika pendidikan dalam arti yang pertama merupakan suatu sistem atau program untuk mengkonstruksi pikiran manusia, menjejali pengetahuan  sebanyak-banyaknya, melahirkan peserta didik yang memiliki mental intelek, maka pendidikan dalam arti yang kedua berusaha untuk melahirkan “hati” yang sepenuhnya menghayati keilmuan.

Pendidikan saat ini secara general cenderung menjadi seolah memiliki sekat antara pendidikan sebagai sistem nasional, dengan pendidikan sebagai penghayatan keilmuan. Padahal, idealnya sekat tersebut harus dihilangkan.

Pendidikan yang ada saat ini hanyalah berusaha untuk memindahkan pengetahuan dari satu kepala ke kepala yang lain. Parameter angka dan rangking menjadi tujuan dalam sistem pendidikan kita ini. Tentu hal itu juga menjadi penting dalam sebuah pendidikan, namun, jika hanya itu yang terjadi, maka pendidikan akan menjadi kering.

Walhasil, lembaga pendidikan dan pendidik hanya menyediakan berbagai pengetahuan, lalu dinilai, keluar angka, lalu angka tersebut yang menjadi parameter kualitas lembaga pendidikan dan lulusan. Dan itu terjadi terus menerus.

Satu-satunya yang mampu menjadikan sistem pendidikan kita ideal adalah dengan penghayatan keilmuan. Penghayatan keilmuan harus dimiliki di setiap aspek sistem pendidikan. Implementasinya adalah etika, moral, dan akhlak. Tentu saya meyakini setiap lembaga pendidikan pasti memiliki “tulisan” visi misi yang mengarah kepada pembentukan etika, moral, dan akhlak, akan tetapi, tidak terjadi pemerataan penghayatan mengenai “tulisan” tersebut. Sehingga, aktualisasinya pun dipertanyakan.

Ini menjadi hal yang tidak mudah. Spirit pembentukan mental intelek harus dibarengi dengan spirit pembentukan pirbadi yang beretika. Mental intelek mungkin saja dapat diamati berdasarkan angka penilaian, tetapi, pribadi beretika, bermoral, dan berakhlak, hanya dapat dirasakan. Hal ini harus disadari setiap individu masyarakat, baik sebagai pendidik, penyelenggara pendidikan, dan peserta didik. Orientasi yang kedua ini tidak bisa dipungkiri membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Pada dasarnya, orientasi etika dan moral ini ada tapi seperti tidak ada; ia hampir hilang dalam Pendidikan di tenga-tengah masyarakakt kita. Ia memang ada, tetapi penghayatan dan aktualisasinya butuh waktu yang tidak sebentar.

Dan, hal inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kita semua sebagai anggota masyarakat. [AA]

0

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.