



Benarkah mayoritas orang sukses berawal dari susah dan melarat lebih dulu? Saya tak bisa memastikan, karena hal ini begitu semu dan tak bisa diselami hingga ke dalam. Ada orang yang sukses memang berasal dari keturunan konglomerat, dan itu banyak. Ada pula yang sukses malah berasal dari Keluarga tak mampu dan kekurangan, dan itu tak sedikit pula. Lalu apa yang menjadi dasar? benarkah jumlah harta menjamin kita sukses?
Jawabannya sangat sederhana. Saya kutipkan kisah salah satu sufi zuhud Syeikh Syaqiq al-Balkhi, bahwa beliau pernah suatu ketika mendapat pertanyaan tentang sabab-musabab perihal seorang hamba yang lebih memilih hidup miskin daripada bergelimang harta. Al-Balkhi menjawab “mereka yang memilih hidup fakir adalah mereka yang menjaga kefakirannya dengan rasa takut akan menjadi kaya. Sebaliknya, mereka yang gemar harta menjaga kekayaannya dengan rasa takut akan menjadi bangkrut dan hidup miskin dan fakir harta”.
Manusia memang hidup dari ketakutan-ketakutan. Takut jatuh dari sepeda, takut tidak juara di kelas, takut dimarahi orang tua sebab kenakalannya, bahkan takut akan hal-hal yang tak pasti untuk dirinya, keluarga, dan anak-anaknya kelak. Maka orang yang lebih memilih fakir dalam hatinya dipenuhi rasa takut jika banyak harta ia malah akan merasa takut miskin dan cinta dunia.
Sejarah juga mencatat sahabat-sahabat Nabi dahulu pernah juga dihinggapi rasa takut dan kecemasan yang berlebih dalam hatinya. Paman Nabi, Abu Bakar As-Shiddiq, mengandaikan dirinya adalah seekor burung. Atau khalifah ketiga, Utsman bin Affan yang berharap tidak dibangkitkan lagi jikalau mati.
Semua pernyataan di atas adalah tamanni atau hanya angan belaka yang tak logis, namun bukan berarti tiada guna dan makna. Sebagai orang-orang yang selalu ada di samping Rasulullah bukan lantas tak tahu bahwa hari kebangkitan (ba’ats) pasti adanya, dan bukan pula sebuah kekecewaan sebab terlahir sebagai manusia. Kecewa pada makhluk (yang diciptakan) berarti kecewa pula pada sang khalik (pencipta). Sahabat tak sedurja itu.
Hakikat Takut (khauf)
Abu Bakar merasa takut jika ibadahnya tak sesuai dengan kodrat manusia yang hanya diciptakan untuk beribadah kepada Allah, lalu kemudian dengan kgalauannya tersebut hingga berangan lebih baik jadi burung. Sebagaimana sudah ditakdirkan, bahwa hewan tak memiliki tanggung jawab apapun di akhirat kelak. Rasa takut akan tidak diterima di sisi-Nya dapat menjaga dan menempa hati untuk terus mengingat Allah.
Lalu bagaimana sekarang? Seiring dengan putaran cepat waktu dari masa ke masa dan generasi ke generasi perubahan terus bergejolak secara masif. Ilmu pengetahuan dipuja-puja, hasil kerja otak bak emas berharga. Namun, lambat laun kerja hati atau spiritualitas rohani semakin hanyut dan tenggelam di antara badai teknologi yang besar dan kuasa.
Seorang teman masa SMA pernah berkata di suatu kesempatan acara temu kangen. Awalnya ia menanyakan saya meneruskan sekolah dimana? Setelah saya jawab apa yang ia tanyakan dan meminta agar didoakan supaya dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ia mendoakan.
Namun yang membuat saya begitu kecewa dan putus asa, pendapatnya perihal masa depan begitu semu dan bisa dikata sinis memandang hidup. Ia berkata; “untuk apa sekolah lama-lama, jika ujung-ujungnya nanti nyangkul sawah dan nyabit rumput untuk pakan sapi? Mending cari kerja langsung dapat duit. Hidup pun lebih jelas arah tujuannya” meski diselipi canda, kalimat itu begitu membekas di hati. Benarkah hidup saya tak sejelas arah tujuannya. Secara eksplisit ia mengejek saya. Dan lucunya, rasa takut hinggap dan melekat di hati bak kumbang pada bunga, tak mau lepas dan terus datang.
Saya berpikir panjang selepas pertemuan itu. Apa yang dikatakan teman itu sedikit ada benarnya. Apa tujuanku salah? Haruskah saya mengubah haluan setelah sampai di tengah samudra? keraguan itu mulai menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Bagaimana jika itu menjadi kenyataan. Waktu yang saya habiskan bertahun-tahun untuk belajar tanpa berpikir kerja -sebab sejak awal saya begitu yakin bahwa ilmu yang saya peroleh dapat menjamin- akan terbuang sia-sia. Lalu apa yang harus saya pilih, antara mengikuti keyakinan awal saya atau keyakinan teman yang sedikit banyak mampu menggoyahkan hati?
Saya berpikir. Dan akhirnya pikiran saya hinggap pada peristiwa kemerdekaan Indonesia. Setidaknya saya dapat memetik hikmah bahwa para pejuang bangsa bangkit dari ketakutan, ketakutan akan tidak terwujudnya perdamaian dan ketentraman dari kezaliman yang terus mengakar kuat dan semakin meraja. Dari rasa takut tersebut mereka para pahlawan bangkit dan menjadi berani mengusir paksa para kompeni.
Konklusinya, ketakutan yang hakiki adalah menurut siapa dan dari arah mana seorang itu memandang ketakutannya. Jikalau kau takut hartamu berkurang suatu hari nanti atau istrimu selingkuh dengan orang lain di belakangmu, maka ketakutan itu muncul dari dasar duniawi belaka.
Harta bisa hilang seketika bak Qarun dan kekayaannya. Hati kekasih yang mencintaimu bisa saja berbalik membencimu. Rasa takut akan terus mengganggu, itu pasti. Tapi jika kau melihatnya dari sisi lain, kau dapat mengatasi ketakutanmu, bahwa semakin hartamu disedekahkan, maka harta itulah yang benar-benar adalah tabungan akhiratmu, dan sesungguhnya Allah juga menjaga setiap hati hamba dan orang di sekitarnya, di mana hati hamba tersebut selalu terjaga untuk terus mengingatnya. Tenangkan hatimu dan bebaskan dirimu dari gundah dan gelisah, sebab ketakutanmu adalah alternatif dari ke-putus asa-an yang lebih maha dahsyat. (mmsm)
Mahasiswa fakultas Ushuluddin INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah). Sekarang mukim di PP. Annuqayah .