Radikalisme dan Anak-anak: Bagaimana Intoleransi Tumbuh Subur di Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini

Sumber: Betawipos

Jenjang PAUD atau pendidikan anak usia dini merupakan salah satu upaya pembinaan yang dilakukan kepada anak sejak mereka lahir hingga berusia kurang lebih enam tahun. Pembinaan dan pendidikan pada jenjang ini bisa dilakukan secara formal dalam kelas-kelas PAUD ataupun secara non-formal. Apapun dan bagaimanapun bentuknya, tujuan dari pendidikan di usia ini adalah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak baik jasmani maupun rohani guna mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Berangkat dari paparan di atas, maka dapat kita lihat bahwa PAUD merupakan salah satu elemen penting dalam fase pendidikan anak. Sesuai namanya, early childhood education yang menjadikan PAUD sebagai fondasi pendidikan bagi anak. Layaknya sebuah fondasi pada bangunan, jika fondasinya tak kuat maka ketahanan bangunan juga akan turut terpengaruh. Begitu pula dengan ketahanan fondasi pendidikan bagi anak usia dini. Ketahanan seperti apa yang dimaksud? Tentu ketahanan agar tidak mudah terbawa arus paham ekstremisme dan radikalisme di masa mendatang.

Namun, bagaimana jadinya apabila lembaga pendidikan dasar yang idealnya menjadi tempat membangun fondasi pemahaman yang baik bagi anak untuk menghadapi paham ekstrem dan radikal, justru malah menjadi ladang subur penyemaian bibit ekstrem dan radikal sejak dini?

Bagaimana jadinya jika PAUD justru berperan besar terhadap penanaman bibit paham intoleran?

Intoleransi sendiri menjadi persoalan yang masih belum selesai di tengah masyarakat kita hingga kini. Hal tersebut tercermin dari masih banyaknya kasus-kasus perusakan tempat ibadah agama lain, pelarangan penyelenggaraan kegiatan beribadah hingga perusakan makam pemeluk agama lain. Ironinya lagi, mayoritas dari kasus intoleran yang tadi disebutkan, justru dilakukan oleh pemeluk agama Islam yang notabene merupakan agama rahmatan lil ‘alamin.

Tentu bukan agamanya yang salah. Saya rasa tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan kebencian, kekerasan ataupun intoleransi. Permasalahan terletak pada pemeluk agamanya, pada pemahaman keberagamaannya. Kembali ke dua pertanyaan tadi, mengenai bagaimana PAUD justru menjadi ladang subur penyemaian bibit intoleransi pada anak-anak. Hal ini miris namun nyata terjadi di beberapa PAUD di beberapa kota besar seperti DKI Jakarta, Bogor dan Depok.

Berdasarkan hasil riset dari Budhis Utami dari Institut KAPAL Perempuan pada tahun 2020 mengungkapkan beberapa fakta mengenai bagaimana pengajaran di PAUD di kota-kota besar tersebut terjadi. DKI Jakarta sebagai ibu kota dianggap sebagai sebuah miniatur Indonesia karena kemajemukan warganya, agama, etnis serta suku yang di sana. Tetapi justru pluralitas digunakan sebagai media untuk memecah belah untuk kepentingan kekuasaan. Fenomena politisasi agama terjadi di ibu kota pusat negara.

Begitu pula dengan Bogor yang juga memiliki suku, adat istiadat dan agama yang beragam dan hubungan antar agama dan suku sangat kuat. Jejaknya dapat terlihat dari situs-situs keagamaan yang sangat dikenal dan dibangun dengan megah. Hal ini menandakan bahwa semua kelompok keagamaan mendapatkan perhatian yang sama. Namun saat ini justru cukup banyak kebijakan diskriminatif yang diterapkan.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Depok. Depok sebagai kota majemuk, memiliki ragam identitas tetapi kebijakan yang diterapkan cenderung mengabaikan pluralitas. Banyak situs kesejarahan yang memberikan informasi bahwa keberagaman budaya berkembang di Depok.

Bagaimana PAUD Mengajarkan Intoleransi Kepada Anak?

Dari fakta-fakta lapangan itulah kiranya yang menjadi faktor tumbuh suburnya penyisipan paham-paham ekstrem, intoleran dan radikal di jenjang PAUD. Dalam risetnya, Budhis Utami memperoleh data bahwa terdapat 55% PAUD atau TK yang berbasis agama Islam dan 45% PAUD atau TK yang berbasis umum.

Sebagian PAUD mengacu pada kurikulum 13 namun apabila mereka menemukan poin atau materi yang dianggap tidak sesuai visi misi PAUD maka materi tersebut tidak akan digunakan. Pada PAUD berbasis agama Islam lebih banyak menekankan pada kegiatan salat bersama, hafalan surat atau doa-doa pendek, membaca menulis termasuk belajar huruf hijaiyah.

Sementara pada PAUD yang berbasis umum, materi kebhinekaan diajarkan tapi pada sebagian saja, tidak semua PAUD mengajarkan demikian. Menariknya, PAUD yang berbasis agama Islam justru malah tidak mengajarkannya. Ajaran intoleran di jenjang PAUD bermula dari PAUD itu sendiri, dalam hal ini adalah PAUD yang berbentuk sekolah formal. Lembaga sekolah PAUD merekrut dan membina para guru yang menjadi motor penggerak utama pendidikan anak.

Guru yang memiliki paham ekstrem dan intoleran menginternalisasikan nilai-nilai yang mereka anut kepada anak-anak. Di sisi lain, pihak sekolah juga turut mempromosikan visi misi intoleran mereka kepada wali murid dan juga orang tua anak. Melalui kajian-kajian yang digelar khusus bagi wali murid misalnya, serta forum-forum orang tua atau wali murid lainnya.

Latar belakang dari kepala sekolah, para guru dan wali murid juga menjadi faktor penting yang turut mendukung suburnya internalisasi narasi intoleran di kalangan anak-anak. Beberapa dari mereka memiliki latar belakang yang eksklusif dan intoleran dari latar sekolah agama, orang tua tokoh agama, berafiliasi dengan partai politik keagamaan hingga bergabung dengan kelompok keagamaan yang eksklusif.

Pihak sekolah memengaruhi guru melalui nilai-nilai yang sesuai dengan visi misi yang harus diterapkan sebagai staf. Kemudian guru memengaruhi siswa melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang terlaksana di PAUD. Guru juga memengaruhi siswa lewat doktrinasi sikap dan tingkah laku yang disesuaikan dengan visi misi PAUD.

Lalu para guru memengaruhi wali murid dengan menerapkan nilai dan cara berpakaian jika datang dan mengikuti kegiatan di sekolah. Sekolah memengaruhi wali murid dengan melibatkan dalam proses pembelajaran di sekolah dan pertemuan khusus sekolah dengan wali murid, seperti parenting dan ceramah. Sementara dari wali murid mempengaruhi guru melalui ketidaksetujuan terhadap kepala sekolah yang berbeda agama serta memberikan porsi besar untuk pendidikan agama.

Ajaran Intoleran Sekolah: Menolak yang Berbeda dan Menolak Lambang Negara

Beberapa ajaran intoleran yang disisipkan melalui pengajaran di PAUD adalah sekolah melarang siswanya bergaul dengan yang berbeda agama. Pihak sekolah menggunakan alasan yakni karena jika sering bergaul dengan yang berbeda agama maka akan berpindah agama. Hal ekstrem lain yang diajarkan adalah pihak sekolah menyatakan setuju bahkan menggiring opini anak-anak agar turut menyetujui pengeboman pada orang-orang yang dianggap menghina dan merendahkan agama tapi tidak boleh bom bunuh diri karena hal tersebut dianggap berdosa.

Tak hanya itu, mereka bahkan menolak makanan dari guru yang berbeda agama karena khawatir makanan yang diharamkan, meminta memberhentikan kepala sekolah yang berbeda agama hingga melarang anak-anak untuk bernyanyi, menari, upacara bendera, menghormati bendera termasuk menyanyikan lagi kebangsaan.

Dari pihak sekolah juga tidak menghendaki pemasangan lambang negara. Tentu semua ini saling berkait kelindan, diajarkan dan didukung oleh sekolah, guru dan juga orang tua. Jelas bahwa posisi anak-anak adalah korban. Mereka terjebak dalam pusaran arus radikalisme, ekstremisme dan intoleran bahkan sejak usia dini.

Kebijakan pendidikan yang tidak Bhinneka, keleluasaan mendirikan PAUD serta lemahnya pembinaan dan pengawasan terhadap PAUD menjadi celah-celah yang harus diperbaiki jika kita tidak ingin penyisipan bibit intoleran merasuk lebih dalam dan tumbuh subur. Negara tidak boleh membiarkan hal ini terus berlanjut. Negara harus hadir, masyarakat juga harus turut andil dalam memberantas penyemaian bibit radikalisme di jenjang PAUD.

Anak-anak adalah generasi berharga yang harus dirawat bersama, diperhatikan betul nutrisi pendidikan yang didapatnya. Karena dengan merawat anak, merawat generasi, bangsa ini juga merawat kehidupan. Jika tidak ingin ‘memanen’ bonus demografi yang justru penuh dengan generasi intoleran, maka langkah penanggulangan harus dimulai dari sekarang. (mmsm) Wallahu a’lam bisshowab. 

0

Saat ini aktif di Komunitas Puan Menulis dan Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.