Urgensi Tarekat di Era Modernisasi

Dunia akan selalu mengalami perkembangan dan kemajuan yang secara tidak langsung telah berhasil mendakwahkan agama baru yang bernama materialisme-hedonisme. Materialisme-hedonisme merupakan suatu ajaran yang mengajarkan bahwasannya hidup hanya sekali sehingga harus dinikmati, salah satunya yaitu dengan mengumpulkan materi sebanyak mungkin. Daya pikat agama materialisme-hedonisme yang sangat dahsyat berhasil membungkus hampir keseluruhan dari sisi kehidupan manusia, sehingga barometer yang digunakan oleh manusia ialah kepuasan material. Lalu, bagaimana dengan kepuasan spiritual? Apakah mampu berdampingan dengan agama materialisme-hedonisme?

Pada dasarnya, antara kepuasan material dan kepuasan spiritual harus memiliki porsi yang seimbang. Namun kenyataannya, modernisasi telah berhasil merubah segala aspek kehidupan manusia. Akibatnya, segala hubungan manusia bahkan dengan Tuhan sekalipun juga dihitung untung rugi: “jika saya melakukan ini, maka keuntungan apa yang akan saya dapatkan?” Munculnya pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa manusia mengalami keterasingan diri dan kehilangan jiwa. Dalam keadaan semacam ini, tasawuf hadir dan menawarkan sebuah jalan agar manusia kembali menemukan jiwanya.

Tasawuf merupakan suatu jalan yang menjadikan manusia berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Jalan tersebut merupakan suatu ajaran atau konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satu jalan tersebut yaitu melalui tarekat. Pada mulanya banyak orang yang memiliki asumsi negatif tentang tarekat sebab orang-orang tarekat hanya fokus kepada akhirat tanpa memperdulikan urusan dunia. Hal tersebut tentu saja bersinggungan dengan kemajuan zaman yang lebih fokus pada urusan dunia.

Namun seiring berjalannya waktu masyarakat semakin sadar bahwa tarekat tidak menuntut untuk selalu melakukan amaliyah ukhrawi, tetapi juga memberikan jeda agar manusia memikirkan urusan material. Mempelajari tarekat memang diperlukan untuk kehidupan setelah kematian, namun berusaha dan bekerja juga wajib dilakukan sebagai pegangan hidup di dunia.

Dalam tarekat, seseorang akan diberikan berbagai amalan penyucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada tingkatan ma’rifat billah. Sebagaimana yang terdapat dalam lirik sebuah lagu :

Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya
Atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan inginkan surga
Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyebut nama-Nya
Bisakah kita semua benar-benar sujud sepenuh hati
Karena sungguh memang Dia, memang pantas disembah memang pantas dipuja.

Pada lirik lagu di atas dikatakan bahwa ketika mencintai maka harus dengan sepenuh hati, sebagaimana yang dijelaskan oleh seorang filsuf feminism bernama Simone De Beauvoir dalam sebuah karyanya yang berjudul Ethics of Ambiguity. Simone De Beauvoir membedakan antara maniacal loving (mencintai sampai tergila-gila) dan generous loving (mencintai tanpa syarat).

Bagi seseorang yang menempuh jalan tarekat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, maka ia harus merefleksikan kedua pembagian cinta yang dijelaskan oleh Simone De Beauvoir hanya untuk Tuhan. Namun jika manusia mengaplikasikan 2 pembagian cinta tersebut kepada sesama manusia maka akan menyebabkan keresahan. Sebagaimana yang dikatakan oleh sufi falsafi bernama al-Hallaj,

Cinta hanya akan membuat manusia menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.

Keberadaan tarekat juga dapat membantu manusia yang tengah kebingungan oleh derasnya arus kemajuan zaman agar tetap pada kesadarannya sebagai manusia dan hamba. Kesadaran sebagai manusia yaitu tidak menghilangkan sifat sosial yang semestinya ada dan terus berkembang dalam diri manusia. Sedangkan kesadaran sebagai hamba merupakan sebuah pengantar yang dapat melahirnya rasa cinta dalam diri manusia kepada Tuhan.

Adanya agama materialisme-hedonisme menjadikan manusia layaknya mesin yang berjalan secara mekanis. Hampir seluruh manusia telah kehilangan sisi kemanusiaannya, seperti dalam konteks moralitas. Moralitas merupakan ajaran para leluhur yang harus senantiasa di lestarikan. Meskipun agama Islam lahir di negara Timur, namun bukan berarti ketika agama Islam masuk dan menyebar ke tanah nusantara lantas serta merta meluruhkan budaya yang telah ada. Begitu pula dengan tarekat.

Tarekat memang bukan lahir di nusantara, namun masyarakat nusantara memerlukan adanya tarekat untuk menanggulangi segala dampak buruk yang diakibatkan oleh munculnya agama baru tersebut. Artinya, setiap kemajuan dunia harus diiringi dengan praktik spiritual yang diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari agar kehidupan dunia dan akhirat bisa berjalan seimbang. Memang, tidak semua praktik spiritual tarekat relevan jika dilakukan saat ini. Namun bukan berarti tidak ada praktik spiritual tarekat yang dapat dilakukan untuk saat ini.

Praktik spiritual tarekat memiliki bentuk yang sangat beragam, mulai dari yang kuno hingga yang modern. Pada zaman dulu, para penganut tarekat kuno diminta untuk pergi ke puncak gunung atau suatu tempat untuk melakukan berbagai kegiatan riyadhah, namun pada saat ini para penganut tarekat tidak perlu melakukan hal tersebut, cukup dengan duduk dalam suatu majlis, membaca dzikir, dan tidak melupakan hubungan dengan sesama manusia.

Dalam Islam dikatakan bahwasannya manusia memiliki 3 pola interaksi utama yaitu, hablum minAllah (hubungan manusia dengan Tuhan), hablum minannas (hubungan manusia dengan sesama manusia), dan hablum minal alam (hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya). Dimana antara satu dengan yang lainnya harus dijalankan bersamaan, tidak bisa ditinggal salah satunya. Sebab, apabila ketiga pola tersebut ada yang mendominasi maka dapat menyebabkan kerancuan terhadap pola ineraksi yang lainnya.

1

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.