Meneropong Terbukanya Kotak Pandora Pendidikan (1)

Pendidikan merupakan salah satu barometer kemajuan sebuah Negara. Suatu bangsa bisa dikatakan maju dan berjaya tidak luput dari keberhasilan dunia pendidikan mencetak pemimpin-pemimpin masa depan yang akan menggantikan para pemimpin masa sekarang. Artinya keberhasilan dan kesuksesan sebuah kerajaan atau bangsa pada masa sekarang belum menjadi sebuah jaminan akan keberhasilannya dimasa yang akan datang, jika perkembangan pendidikan di tempat itu belum ada perkembangan.

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia memang mengalami perkembangan yang begitu pesatnya. Mulai dari zaman kolonial ketika pendidikan masih masih dimiliki oleh kalangan tertentu, sampai zaman generasi Z dengan penampilan wajah pendidikan yang beraneka ragam, tinggal memilih mau merasakan pendidikan seperti apa, dan bercita-cita apa sampai pada taraf penjamin kelulusan yang sesuai dengan harapan peserta didik.

Ingin jadi orang yang pinter mengobati, sekolahnya di kedokteran. Ingin jadi guru sekolahnya di jurusan pendidikan. Ingin jadi pengusaha yang sukses, sekolahnya juga di bidang perekonomian. Semua telah tersedia, tinggal peserta didiknya ingin jadi konsumen yang baik atau tidak. Yang menjadi catatan penting disini adalah, ketika cita-citanya sudah menjadi kenyataan apakah juga dibarengi dengan kematangan karakter sebagai pengendali dirinya meloloskan keinginan nafsunya.

Berbicara kecerdasan, iblis saja pernah menjadi gurunya malaikat. Banyak orang yang sukses jika tidak berimbang dengan kebutuhan vital psikisnya, mereka akan menjadi pribadi yang diktator, lalim, dholim dan apa pun itu sebutannya. Kebutuhan akan pendidikan karakter menjadi sebuah keniscayaan. Karena pendidikan sekarang sudah memasuki era baru yang bernama “era digital”.

Era yang mana cara pengajarannya pun tidak lagi monoton (fixed mindset) harus berubah menjadi pendidikan yang bertumbuh (Growth mindset), era yang mengurangi penggunaan buku fisik di karena adanya E-book, era dimana informasi itu hanya sebatas usapan tangan dan kedipan mata saja, era dimana akan banyak bermunculan kritikus muda di karena kan mudahnya mencari jawaban atau informasi yang lebih valid di dunia maya. Sekali lagi kunci suksesnya adalah pendidikan karakter di era merdeka belajar.

Pendidikan karakter dalam menjamu kemajuan pendidikan yang serba digital ini harus bisa diserap dan dirasakan oleh peserta didik dan juga para pendidiknya. Dari sini saya teringat dengan sabda Rasul yang telah diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yaitu : “Qoola an-Nabiyu Shalallaahu ‘alaihi wasallam. Kun ‘aaliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban. Walam takun khoomisan, fatahlik. Rowahu al-Baihaqi”. Artinya: “Rasulullah SAW bersabda; Jadilah engkau Orang berilmu, atau Orang yang menuntut ilmu, atau Orang yang mau mendengarkan ilmu, atau Orang yang menyukai ilmu. dan janganlah engkau menjadi orang yang ke lima maka kamu akan celaka” (HR. Bayhaqi).

Mindset yang harus disuntikkan dalam dunia pendidikan sebagai penanaman karakter menurut Rasul ada lima golongan, yaitu:

Kun ‘aliman ( jadilah orang yang berilmu )

Konsep yang pertama ini nampaknya lebih berpihak pada pendidik, karena merekalah orang yang berilmu secara khusus. Akan tetapi hal ini juga tidak menutup kemungkinan dirasakan bagi setiap orang yang telah mendapatkan disiplin ilmu secara umum. Ghirah peringkat yang pertama ini jika dirasakan dan dipraktekkan, saya yakin tidak akan ada manusia yang malas, apalagi membiarkan kelas binaannya menjadi kosong tanpa sebab.

Makna terbesar yang bisa memompa semangat bagi para pendidik di fase ini adalah sebuah hadist Nabi yang menyatakan bahwa; “Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR Muslim)

Jika manusia meninggal dunia semua kegiatan yang bisa mendulang pahalanya menjadi terputus. Ibadah sosialnya tidak lagi bisa dilakukan, ibadah mahdhahnya juga tidak bisa lagi dikerjakan. Akan tetapi jika mereka mempunyai ilmu dan bisa diberikan pengetahuan itu disertai dengan niat tulus dan ikhlas, maka saya yakin semangat dan kinerja para pendidik akan semakin tertata dengan baik. Disipilin sudah bisa menjadikan kepuasan tersendiri bagi para pendidik bangsa.

Tunjangan finansial yang diharuskan dipenuhi dengan kewajiban administrasi pesertanya akan dianggap sebagai bonus duniawi yang diberikan oleh Tuhan lewat kebijakan pemerintah yang ada. Belum lagi tentang rewards pahala yang tiada terputus sampai hari Kiamat disediakan oleh Allah bagi para pendidik. Dari sini benih-benih kedisiplinan akan terbentuk, dari hati yang ditata dengan niat dan terlebih mengharapkan pahala yang tiada akhir bagi mereka.

Au muta’alliman ( Atau orang yang menuntut ilmu )

Jika kurang bersedia masuk pada golongan orang yang ‘alim maka setidaknya jadilah kelompok yang kedua.

Prinsip atau fase kedua ini sebenarnya merupakan konsep yang juga sudah dicontohkan oleh Rasulullah, dengan sabdanya ‘tuntutlah ilmu dari buaian ibu sampai liang lahat. Artinya tiada kata berhenti bagi mereka pencari ilmu. Para pendidik pun ( berstatus ‘alim ) juga masih harus belajar. Mengapa demikian, karena dunia pendidikan sekarang berkembang dengan sangat cepat.

Salah satu pemicu keragaman keilmuan yang harus dikuasai oleh para pendidik adalah corona yang telah diutus oleh Allah agar manusia tidak berpangku tangan, mengambil jalan aman dan tidak mau berubah dan menimba ilmu. Pendidik yang berhasil adalah pendidik yang mampu menyelami dunia pendidikan yang tidak mereka rasakan saat seperti sekolah zamannya dulu, mengantarkan anak didiknya lebih sukses dari yang dia miliki. Artinya guru pembelajar adalah jawaban yang tepat di dunia pendidikan pada fase ke dua ini.

Seseorang yang ditakdirkan Allah menjadi “penuntut ilmu” akan mendapatkan banyak hadiah baik dari Yang Maha Kuasa, juga dari para pemangku jabatan tertentu di negeri ini. Suatu contoh, sekarang sudah sangat banyak beasiswa yang diberikan oleh pemerintah atau pihak swasta bagi mereka yang ingin sinau lagi demi mendongkrak stagnasi disiplin keilmuan mereka. Hal menjadi kewajiban bagi para pendidik agar prinsip “fixed maindset” yang dimiliki oleh beberapa pendidik akan terbuka dan tersadar. Tidak kaku, dinamis dan berfikir “out of the box” menjadi sebuah keniscayaan pada perkembangan dunia pendidikan dewasa ini.

Salah satu bonus yang diberikan oleh Allah bagi mereka yang berstatus kedua adalah derajat mereka dinaikkan dan tidak sama dengan yang lain. Adanya jargon bahwa derajat orang yang berilmu atau penuntut ilmu lebih mulia dari pada orang yang beribadah tanpa ilmu, menjadi pewaris para Nabi, dido’akan semua mahluk hidup termasuk semua ikan laut mendo’akan kebaikan bagi mereka para pencari ilmu. Dan masih banyak bonus yang disediakan oleh Allah kepada mereka.

Menjadi guru pembelajar atau “long life learning” menjadi jargon yang disuarakan dalam rangka percepatan tuntutan hasil dari merdeka belajar. Kemampuan para pendidik menjadikan digital mindset santapan keseharian itu lah kuncinya. Ciri-ciri para pendidik (yang muta’alliman) dengan semangat digital maindset dalam kehidupannya adalah 1) Keberaniannya menghadapi tantangan; pendidkan dulu seperti itu dan kini harus seperti ini. 2) Selalu ingin berkembang; tidak mau berdiri di posisi yang aman atau nyaman di tempatnya, jadilah guru pembelajar dan bertumbuh. 3) Setiap orang adalah inovator atau inspirator; pendidik yang selalu berfikir out of the box, melihat kejadian jauh dari apa yang telah terjadi atau sebelum kejadian. 4) Menjadi agen of change; pelajar di masa sekarang adalah pemimpin masa depan, kuncinya adalah kemampuan guru untuk bisa mengantar peserta didik menjadi pemimpin handal di masa depan.

Selanjutnya: Meneropong Terbukanya Kotak… (2)

1

Ulumni Griffith University Queensland Australia, dan UIN Malik Ibrahim Malang. Saat ini menjadi Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Gondang Mojokerto

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.