Khutbah Jumat: Bahagia dalam Beragama, Berbangsa, dan Bernegara

Hadirin siding jumat rahimakumullah.

Jika kita beragama dengan benar, berbangsa dengan benar, dan bernegara dengan benar, maka hidup kita menjadi lebih bahagia dan produktif. Bahagia adalah keadaan atau perasaan senang, tenteram, dan bebas dari segala yang menyusahkan. Sedangkan maksud dari produktif adalah mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan menguntungkan yang berlangsung terus menerus.

Lalu mengapa hidup kita perlu bahagia? Tal Ben Shahar menjawab pertanyaan ini dalam bukunya HAPPIER; Can You Lean to be Happy? Bahwa mata uang tertinggi bagi manusia adalah kebahagiaan “The ultimate currency for a human being is happiness.”

Profesor “kebahagiaan” dari University of California, Sonja Lyubomirsky menulis dalam bukunya The How of Happiness; a New Approach to Getting the Life You Want, bahwa ketika bahagia, orang cenderung percaya diri, optimis, dan enerjik. Orang lain pun memandangnya sebagai pribadi yang menyenangkan dan ramah. “When people feel happy, they tend to feel confident, optimistic, and energetic, and others find them likable and sociable.”

Sedangkan alasan mengapa orang mesti produktif adalah agar membuat diri kita berkembang, merasa punya tujuan/cita-cita, meningkatkan/memperbaiki mood, menjadikan waktu kita lebih efektif, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah.

Dalam khutbah singkat ini, saya akan jelaskan satu persatu bagaimana agar hidup kita bisa lebih bahagia dan produktif dengan melaksanakan cara beragama, berbangsa dan bernegara yang benar.

Bahagia Beragama

Agama adalah sebuah sistem kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan, termasuk tata kaidah hubungan antar manusia dan lingkungannya. Motivasi kebanyakan orang beragama adalah manggapai ridha/cinta Tuhan, memberi manfaat kepada sesama, dan selalu berusaha menjadi pribadi yang terus bertambah baik.

Tetapi kenyataannya, mengapa banyak penderitaan, pertikaian, permusuhan, bahkan pertumpahan darah atas nama agama?

Jawabannya adalah bisa jadi karena agama dan keberagamaan dipelajari dan dipahami secara dangkal, dipraktekkan secara eksesif (berlebihan), disebarluaskan dengan kebencian dan keangkuhan, dan dilepaskan dari dimensi kemanusiaan.

Beberapa masalah yang melibatkan agama/keberagamaan adalah:

Pertama, UNHCR (2022) mencatat bahwa hingga pertengahan 2022 terdapat 103 juta manusia di dunia yang terusir dari  tempat tinggalnya (sekitar 32,5 juta orang di antaranya menjadi pengungsi), karena  berbagai konflik dan kekerasan, termasuk yang berbasis agama.

Kedua, selama 12 tahun terakhir, terjadi 2.400 kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (Setara Institute, 2019).

Ketiga, tahun 2018 – 2021, Kementerian Kominfo menangani 3.640 kasus ujaran kebencian di ruang digital yang berbasis SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

Semua temuan di atas sangat bertentangan dengan anjuran agama:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ

“Dan janganlah engkau mencaci sembahan-sembahan yang mereka sembah  selain Allah, karena mereka pun nantinya akan mencaci Allah dengan  melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am 108).

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum/kelompok  mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena hal itu lebih  dekat pada ketakwaan.” (QS. Al-Maidah 8)

‏ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang berbelas kasih akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha  Pengasih. Kasihilah para penduduk bumi, maka engkau akan dikasihi oleh para  penduduk langit.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Bahkan tidak sedikit di antara kita masih mengingkari kehendak Allah SWT akan keberagaman makhluk-Nya yang beraneka suku bangsa, bahasa, agama dan seterusnya. Guru spiritual Jalaluddin Al Rumi (Syamsuddin Tabrizi) menegaskan:

Kita semua diciptakan Tuhan berdasarkan skenario-Nya, hingga kita pun menjadi orang yang berbeda-beda dan unik. Jika Tuhan menghendaki seluruh manusia sama, Dia pasti akan melakukannya. Maka, sikap tidak  menghormati perbedaan dan memaksakan pemikiran kepada orang lain  merupakan bentuk pelecehan terhadap “rencana agung” Tuhan.

Bahagia Berbangsa

Berbangsa adalah berinteraksi dengan keluarga, orang lain, kelompok lain/masyarakat sesama anak bangsa. Karena merupakan mahluk sosial, setiap orang pasti butuh berinteraksi dengan keluarga dan orang lain, termasuk bermasyarakat dan berbangsa.

Namun hubungan dengan orang lain seringkali melahirkan aneka macam masalah. Kita suka menilai orang lain hanya berdasarkan perilakunya yang terlihat. Tetapi kita ingin dinilai orang lain berdasarkan “niat baik” kita, bukan sekedar perilaku yang kita perlihatkan (fundamental attribution error).

Kita cenderung atau lebih suka mengamati, memikirkan, dan merespon hal-hal yang negatif ketimbang hal-hal yang positif, termasuk menyangkut orang lain (negativity bias), sehingga akibatnya adalah; pertama: kita merasa lebih baik, lebih benar, dan lebih layak dihargai dibanding orang lain (selfrighteous); kedua: hilangnya solidaritas dan empati terhadap orang lain (egois).

Ketiga: lebih dominannya keinginan mencela dan berkompetisi daripada  memuji dan berkolaborasi; dan keempat: ebih sulit bahagia dan sukses (atau pun produktif)

Maka sebaiknya kita mampu menerapkan bagaimana bermasyarakat dan berbangsa dengan benar, yaitu; pertama: mengembangkan solidaritas dan empati terhadap orang/kelompok lain; kedua: memposisikan kepentingan umum/bangsa di atas kepentingan pribadi/golongan; ketiga: memperkuat semangat nasionalisme dan kebersamaan sebagai perekat identitas bangsa.

Keempat: menghindari sikap dan perilaku yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa; dan kelima: berpartisipasi secara aktif dan positif dalam pembangunan, demi mewujudkan masyarakat dan bangsa yang unggul.

Selain itu, spirit persaudaraan (ukhuwah) yang pernah dikemukakan oleh KH. Ahmad Shiddiq juga relevan menjadi terhadap problematika bermasyarakat dan berbangsa. Menurutnya, ada tiga macam ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (sesama anak bangsa), dan ukhuwah basyariyah (sesama manusia).

Bahagia Bernegara

Bernegara adalah Berkomitmen untuk membangun dan memajukan kehidupan bersama, berdasarkan prinsip-prinsip ideologi bersama, di bawah naungan sistem pemerintahan yang sah dan berdaulat

Bernegara Indonesia adalah Berkomitmen untuk membangun dan memajukan kehidupan bersama sebagai sesama warga negara, di bawah naungan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

Keempat pilar di atas hendaknya bisa sama-sama kita jaga untuk mewujudkan Indonesia baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur, yaitu negeri yang baik dengan penuh ampunan dari Tuhan Yang Maha Pengampun. [AA]

1
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.