



Kerug Batur adalah salah satu dusun di Desa Majaksingi yang terletak di salah satu puncak Perbukitan Menoreh dengan ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut (MDPL). Letaknya yang berada di puncak membuat Kerug Batur dianugerahi dengan pemandangan yang ijo royo-royo dan udara sejuk khas pegunungan. Kecantikan Kerug Batur dilengkapi dengan semangat guyub rukun tepa selira warganya yang terbagi menjadi dua penganut agama yakni Islam dan Katolik.
Sikap tepa selira di Kerug Batur termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Masing-masing pemeluk agama menyatu satu sama lain hingga tak lagi bisa dibedakan mana yang Katolik dan mana yang muslim kecuali dari simbol agama yang mereka kenakan. Para kaum pria di Kerug Batur semuanya mengenakan sarung dan peci, yang membedakan hanya kalung rosario. Begitupun dengan kaum perempuan, kalung rosario dan jilbab menjadi simbol agama yang mereka anut.
Perbedaan agama bukanlah soal bagi mereka selama tidak saling menyakiti, dan taat kepada ajaran. Maka jangan heran jika dalam satu keluarga, agama orang tua berbeda dengan anak. Salah satu sesepuh, Ismoyo, mengaku bahwa keluarganya tidak mempermasalahkan ketika putri pertamanya memutuskan untuk menjadi mualaf. “Bagi saya semua orang menyembah Tuhan yang sama, hanya dengan cara yang berbeda. Mau Islam, mau Katolik silahkan asalkan taat. Anak saya yang pertama jadi muslim ya gak papa, silahkan saja.” Ujar Pak Is, panggilan akrabnya.
Sikap tepa selira juga nampak ketika ada hajatan baik hajatan daur hidup atau daur bulan. Pada hajatan tersebut, warga akan berkumpul untuk kemudian melakukan do’a bersama dengan cara masing-masing. Biasanya kegiatan berdo’a di bedakan dalam ruang yang berbeda namun dilakukan di waktu yang bersamaan. Sikap tepa selira bahkan bisa dilihat dari cara mereka memotong ayam yang akan dijadikan suguhan. Karena ayam yang dipotong nantinya akan dikonsumsi bersama, maka mereka memotong dengan cara-cara yang dilakukan oleh dua agama.
Sebelum dipotong, ayam disucikan dahulu dengan cara dimandikan, di basuh dengan beras dan diminyaki seperti halnya ketika umat Katolik melakukan pengurapan. Sesepuh Kerug Batur yang beragama Katolik yakni Pak Is menjelaskan bahwa ayam perlu disucikan terlebih dahulu karena ia akan bertemu Allah Bapak. Sementara untuk pemotongannya biasanya dilakukan oleh dua orangdan warga yang beragama Islam yang mendapatkan bagian untuk memotong leher ayam dengan membaca do’a sesuai ajaran Islam.
Sikap tepa selira tak hanya terjadi ketika mereka hidup saja, namun terjadi di seluruh rangkaian daur hidup, dari mulai upacara peringatan untuk manusia saat masih menjadi janin hingga matinya. Bahkan, sikap tepa selira ini terbawa hingga ke liang lahat, dilihat dari pemakaman warga Kerug Batur merupakan pemakaman campur untuk umat Islam dan Katolik. Kedua umat ini dimakamkan di area pemakaman yang sama dan diperlakukan dengan cara yang sama kecuali yang berkaitan dengan tata cara ibadah.
“Ada pemakaman khusus Islam, ada pemakaman khusus Katolik, tapi di sini (Kerug Batur dan Keruk Desa) makam jadi satu antara yang Islam dan Katolik. Di makam pun antara nisan yang beragama Katolik dan Islam tidak dibedakan, tidak ada yang namanya nisan Katolik harus di atas dan nisan Islam di bawah atau sebaliknya, semua campur jadi satu. Bagaimana bisa, wong disini satu keluarga ada yang Islam dan ada yang Katolik kok. Orang tua dan anak beda agama banyak di sini, masa makamnya mau dibedakan ya gimana?” unggah Ismoyo.
Laku tepa selira dan manunggaling marang sapadha-padha juga bisa dilihat melalui ekspresi kesenian di Kerug Batur. Di dusun tersebut eksis dua kelompok kesenian rakyat selawat yakni kelompok Selawat Jawa atau Maulud dan kelompok Selawat Katolik. Syair Selawat Jawa diambil dari kidung Jawa dan kitab Al-Barzanzi, sedangkan Syair Selawat Katolik diambil dari Kitab Perjanjian Lama. Namun kedua kelompok selawat ini sama-sama mengalami krisis regenerasi sehingga mengharuskan masing-masing kelompok untuk saling berkolaborasi.
Ketika mereka mendendangkan selawat Jawa yang identik dengan agama Islam, anggota yang beragama Katolik hanya memainkan musik namun tidak ikut. Ketika mereka mendendangkan selawat Katolik, anggota yang beragama Islam hanya ikut memainkan musik namun tidak ikut melagukan. Bagi mereka hal tersebut tidak menciderai iman masing-masing alih-alih menjadi instrumen kerukunan. Praktik tersebut mereka namai sebagai praktik selawat guyub. Salah satu anggotanya, Endro mengatakan bahwa selawat guyub sejauh ini aman-aman saja bagi kedua belah pihak.
Sikap guyub rukun antar umat Islam dan Katolik di Dusun Kerug Batur terpotret hampir di seluruh rangkaian kehidupan mereka. Kedua umat ini menekankan sikap tepa selira agar masing-masing bisa manunggaling marang sapadha padha dalam kehidupan sehari-hari.