



Khutbah I
الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ كِتَابَهُ الـمُبِينَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْئٍ، وَهُدًى وَرَحْمَةً لِلمُؤْمِنِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَي أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِينَ مُـحَمَّدٍ الـمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَعَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الغُرِّ الـمُحَجَّلِينَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَومِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ. يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ٥
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Terkadang pada suatu momentum, kita terjebak dalam pilihan dilematis. Semakin dilematis kala kita harus memilih di antara dua hal yang sama-sama penting, apalagi kalau kita belum mengetahui hal-hal yang perlu diprioritaskan.
Masalahnya, kita terkadang sulit membedakan mana yang terpenting, mana yang penting, dan mana yang tidak penting.
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Sungguh, Islam menata sedemikian rupa perkara sesuai kadarnya masing-masing, agar kita—manusia—bisa menentukan prioritas dengan baik, sehingga kita tidak tergolong orang-orang yang rugi dan tertipu.
Islam menata setiap perkara seusai kadar hukumnya masing-masing, ada yang wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram.
Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah,
Dalam matriks, Eisenhower membagi kegiatan berdasarkan penting dan genting, berbeda dengan Imam Ghozali dalam kitab masterpiecenya; Ihya Ulumuddin. Bahwa menjadikan kegiatan prioritas harus diukur dengan kapasitas hukum kegiatan tersebut.
Andai kita dihadapkan dua kewajiban; fardu ain dan fardu kifayah. Tentu, fardhu ain harus didahulukan daripada kewajiban kifayah. Fardu harus didahulukan daripada perkara sunah. Imam Ghozali mengingatkan kita dengan hadis qudsi.
مَا تَقَرَّبَ الـمُتَقَرِبُوْنَ اِلَيَّ بِـمِثْلِ أَدَاءِ مَا اِفْتَرَضَتُ عَلَيْهِمْ
“Orang-orang yang (berusaha) mendekati-Ku tidak (akan) dekat sebelum mereka menjalankan hal-hal yang aku perintahkan.”
Artinya, kita perlu megetahui kewajiban-kewajiban Allah yang ditunjukkan kepada kita secara detail, agar kita tidak mudah tertipu dan rugi.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ini menjadi hal yang perlu kita renungi bersama, apakah hal-hal yang sifatnya wajib sudah kita laksanakan dengan baik? Atau malah kewajiban kita kalah dengan hal-hal yang tidak penting—bahkan wajib?
Apakah kewajiban kita sebagai suami, orang tua, atau anak sudah kita laksanakan dengan baik? Atau malah hal-hal lain—yang tidak seberapa penting—lebih kita dahulukan daripada kewajiban itu semuanya?
Prioritas itu suatu hal yang—sekaligus—penting dan genting. Adapun hal-hal kesunahan bisa dilakukan kalau yang fardu sudah dijalankan.
Contoh sederhana, kita mungkin lebih suka berbagi dengan orang lain—agar dianggap dermawan oleh orang lain, tetapi kita cukup kikir dengan keluarga kita. Ini, cukup riskan, bukan!
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Contoh lainnya yang disuguhkan oleh Imam Ghozali. Andai kita—yang masih memiliki orang tua—kita berangkat haji, sayangnya kita menafikan nafkah pada orang tua, menurut Imam Ghozali kita tergolong orang yang rugi. Mengapa? Karena mendahulukan kewajiban—yang jauh—yaitu haji daripada kewajiban—yang dekat—merawat dan memberi nafkah orang tua. Tentu, andai nafkah keluarga—termasuk orang tua—sudah tercukupi, silakan saja.
Allah pun berfirman dalam surah Fathir ayat 5 untuk mengingatkan kita, agar tidak tergoda dan jatuh pada kenestapaan dalam menentukan prioritas:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ٥
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Rasanya, kita akan sulit bahagia kala tidak bisa menentukan mana yang harus diprioritaskan dan mana yang tidak. Sungguh betapa ruginya kita!
Khatib mengajak diri khatib sendiri untuk selalu berpegang pada tuntunan syariat, meski harus perlahan. Tetap harus berusaha maksimal, bukan?
Semoga khutbah singkat ini memberikan kemanfaatan bagi khatib dan semua jemaah.
هَدَىنِي اللهُ وَاِيَّاكُمْ
أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.
فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.