



Di era yang didominasi oleh tontonan glamor dan pameran yang terus-menerus, kehidupan sehari-hari sering kali terasa tak ada apa-apanya. Media sosial merayakan momen-momen penting, mulai dari makan di restoran mewah hingga aksi heroik, sementara ritme kehidupan sehari-hari yang biasa saja gampang memudar.
Bagi umat beragama, logika semacam itu diam-diam dapat membentuk ekspektasi spiritual. Ibadah dibayangkan sebagai serangkaian gestur dramatis: salat semalam suntuk atau beramal besar-besaran di depan umum. Maka, muncul pertanyaannya, dapatkah kehidupan biasa—tanpa kemegahan atau pengakuan publik—bisa dianggap sebagai bentuk ibadah?
Tradisi Islam memberikan jawaban radikal: ya. Sabda Nabi menegaskan bahwa niat di balik suatu tindakan lebih penting daripada skala atau jangkauan tontonannya. Ini tentu membuka cakrawala yang luas. Makan, bekerja, mengasuh anak, atau bahkan beristirahat dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan kesadaran akan Tuhan.
Umat Islam awal tidak memandang ibadah hanya terbatas pada ritual semata. Salat, puasa, dan haji merupakan rukun Islam yang kasat mata, tetapi tatanan etika kehidupan sehari-hari—kejujuran dalam berdagang, kebaikan kepada sesama, kesabaran dalam menghadapi kesulitan—dianggap sama pentingnya.
Al-Qur’an memuji mereka yang “mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring” (QS Ali Imran [3]: 191), yang menunjukkan bahwa zikir dapat meresapi setiap postur dan momen, bukan hanya momen-momen yang secara formal dianggap suci.
Pekerjaan Biasa sebagai Pelayanan Suci
Kapitalisme modern cenderung membagi kehidupan menjadi ranah “produktif” dan “pribadi”, membatasi ibadah keagamaan pada waktu luang atau momen ritual belaka. Namun, yurisprudensi dan spiritualitas Islam menolak pemisahan semacam itu.
Seorang pedagang yang berdagang dengan adil, seorang siswa yang belajar dengan tekun untuk memberi manfaat bagi masyarakat, atau orang tua yang mengasuh anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, turut serta dalam suatu bentuk ibadah. Nabi sendiri bekerja sebagai penggembala dan pedagang sebelum menerima wahyu, yang mencerminkan martabat pekerjaan sehari-hari.
Perspektif ini menggoyahkan hierarki antara tokoh agama publik dan mereka yang hidup biasa saja. Seorang perawat yang merawat pasien di pagi hari mungkin lebih dekat dengan Tuhan daripada seorang ulama yang menyampaikan khotbah di televisi, jika perawat tersebut bertindak dengan tulus dan penuh kasih.
Al-Qur’an secara konsisten mengaitkan kesalehan dengan tindakan etis: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya” (QS. al-Baqarah [2]: 177). Ayat ini memperluas ibadah menjadi etika sehari-hari, alih-alih sekadar daftar skedul ritual.
Kunci yang mengubah kehidupan sehari-hari menjadi ibadah bukan hanya niat, tetapi juga perhatian dan kehadiran. Distraksi yang terus-menerus dalam kehidupan modern, seperti notifikasi medsos dan sebagainya, mempersulit kita untuk menghayati momen saat ini dengan kesadaran akan Tuhan.
Tanpa perhatian dan kehadiran, bahkan salat pun bisa menjadi amat mekanis. Sebaliknya, dengan perhatian dan kehadiran, bahkan tugas-tugas biasa pun bisa menjadi bercahaya. Teks-teks sufi klasik menekankan muraqabah (keterjagaan spiritual) sebagai inti dari pengabdian, yakni bertindak seolah-olah Tuhan hadir dan mengamati.
Ini bukan berarti meromantisasi pekerjaan yang membosankan atau menyangkal ketidakadilan struktural yang membuat hidup seseorang jauh lebih sulit daripada yang lain. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menemukan kedalaman spiritual dalam keadaan apa pun yang kita jalani.
Mencuci piring, berangkat kerja, atau merawat orang tua yang lanjut usia dapat menjadi peluang memupuk kesabaran, rasa syukur, dan pengabdian, kualitas yang lebih dihargai dalam etika Islam daripada pertunjukan kesalehan di depan umum.
Mengkritik Budaya Perfeksionisme Spiritual
Salah satu bahaya yang lebih halus dari era digital adalah munculnya “perfeksionisme spiritual”, yaitu anggapan bahwa pengabdian harus selalu terlihat intens, estetis, atau performatif. Gambaran sajadah salat yang estetis, buka puasa Ramadan yang meriah, atau penceramah kondang dapat menginspirasi tetapi juga mengasingkan. Mereka yang menjalani kehidupan biasa mungkin merasa iman mereka kurang, ibadah mereka terlalu sederhana.
Ajaran Islam menawarkan narasi tandingan. Nabi Muhammad memuji perbuatan-perbuatan kecil yang konsisten daripada perbuatan besar yang sporadis. Beliau menekankan belas kasih dan kerendahan hati, sering kali menghindari pamer.
Sahabat-sahabat beliau termasuk para pedangan, pembantu, dan perempuan semata melakukan pekerjaan sehari-hari, tetapi tetap mencapai derajat spiritual yang tinggi. Dengan mendesentralisasikan tontonan, Islam mendemokratisasi kesucian. Islam menegaskan bahwa ketulusan dapat mengangkat derajat, bahkan senyuman sederhana—yang digambarkan sebagai sedekah dalam sebuah hadis—menjadi tindakan yang dicintai Allah.
Kehidupan sehari-hari juga memiliki kekuatan untuk memperbaiki umat. Dalam masyarakat yang terpecah belah oleh kompetisi dan isolasi, tindakan kepedulian kecil—seperti berbagi makanan, mendengarkan keluh kesah seseorang, menjadi sukarelawan—dapat menjadi revolusioner.
Spiritualitas Islam menghargai tindakan-tindakan kecil semacam itu justru karena tindakan-tindakan tersebut membangun ikatan kasih sayang yang mencerminkan salah satu nama utama Tuhan: al-Rahman, Yang Maha Penyayang. Ibadah tidak hanya vertikal (diarahkan kepada Tuhan), tetapi juga horizontal (diwujudkan dalam hubungan dengan sesama manusia dan alam).
Pandangan relasional ini mendeligitimasi asumsi bahwa hanya pekerjaan “religius”-lah yang dianggap sakral. Mengajar di sekolah, mencuci baju, atau berjualan nasi, semuanya dapat dijiwai dengan rasa tanggung jawab (amanah).
Nabi menggambarkan sebaik-baik manusia sebagai “mereka yang bermanfaat bagi orang lain.” Definisi luas tentang manfaat ini membingkai kehidupan sehari-hari sebagai ladang ibadah yang dapat diakses oleh semua orang, bukan elite belaka.
Pertanyaan “dapatkah kehidupan sehari-hari yang biasa saja dianggap sebagai ibadah?” mengungkap kecemasan yang dibentuk oleh budaya tontonan modern. Tradisi Islam menjawabnya dengan meruntuhkan dikotomi antara hal-hal biasa dan sakral, mengajak umat beriman untuk menghayati setiap momen sebagai luar biasa, setiap tugas sebagai kesempatan untuk bertindak etis, dan setiap hubungan sebagai refleksi rahmat ilahi.
Visi semacam itu tidak menghapuskan ritual, melainkan justru memperkayanya. Salat, puasa, dan haji menambatkan umat beriman, tetapi tujuannya adalah untuk mengubah perilaku sehari-hari. Ketika niat dan kehadiran selaras, tindakan terkecil pun dapat menjadi bercahaya.
Di dunia yang terobsesi dengan hal-hal luar biasa, ajaran Islam ini menawarkan wawasan yang membebaskan: kesakralan tidak tersembunyi dalam hal-hal luar biasa, tetapi terjalin dalam untaian rutinitas kehidupan sehari-hari yang biasa saja. Hidup dengan perhatian, bertindak adil, dan mengingat Tuhan di tengah-tengah rutinitas remeh-temeh, juga merupakan ibadah.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com