Jangan Lagi Ada Korban! Pesantren Harus Diselamatkan (1)

Menuai kritik pedas dari ribuan orang sejak beberapa hari lalu, akhirnya Trans 7 membuat video dan postingan permohonan maaf kepada para netizen yang sedang murka karena citra pesantren diobrak-abrik. Seakan-akan, tempat menimba ilmu agama yang penuh keberkahan itu merupakan ladang kekayaan kyai, dan memperbudak para santri.

Ribuan orang di media sosial pun angkat bicara. Sama-sama meneriakkan “Boikot Trans 7”, sama-sama menggemborkan “indahnya dunia pesantren”, dan menceritakan pesantren masing-masing, dengan catatan bahwa pesantren bukan tempat manipulatif, pesantren adalah tempat menimba ilmu, menumbuhkan adab, dan menguatkan karakter positif.

Sayangnya mereka lupa, di balik semua keindahan itu, dunia pesantren tidak baik-baik saja.

Sejak satu dekade yang lalu, ketika media sosial mulai meluas di tiap lini kehidupan masyarakat, saya baru tahu bahwa di pesantren ternyata ada kejadian “kekerasan seksual” oleh kyai/ustaz kepada santrinya. Tidak hanya perempuan, bahkan santri laki-laki pun bisa menjadi korbannya.

Makin ke sini, berita makin meluas. Goncangan-goncangan terkait kekerasan seksual di dunia pesantren makin banyak saja. Oknum tokoh agama menjadi pelakunya, tidak lain karena mereka punya “kuasa”.

Melalui embel-embel taat pada guru, mencari berkah, bahkan jika tidak menuruti perintah guru sama dengan bentuk pembangkangan, hal ini menjadi suatu problem yang masih mengakar hingga sekarang. Terlebih jika korbannya adalah para santri yang belum dibekali ilmu terkait self defense, kesehatan reproduksi, maupun pencegahan kekerasan seksual. Tentu kepolosan mereka akan lebih mudah dimanipulatif.

Tidak hanya santri, dalam beberapa kasus orang tua juga turut menjadi korban manipulatif. Melihat sosok seorang “tokoh agama” yang diagungkan, tentu mereka ingin anaknya bisa mendapatkan keberkahan dan mengais pahala melalui ketaatan. Meskipun mereka tahu cara yang dilakukan tentu tidak masuk akal.

Salah satu cerita hadir dari salah seorang mahasiswa. Ia membagikan sebuah kisah di daerahnya tentang seseorang yang dianggap sebagai tokoh agama. Seseorang yang bisa dianggap melakukan manipulatif kepada banyak santri perempuannya.

“Beliau seringkali menikahi santri-santri perempuannya yang cantik. Santrinya pun mau karena menganggap bahwa ini merupakan jalan mencari berkah. Mereka pun dinikahi siri, dan disetubuhi hingga hamil. Setelah melahirkan, santrinya seringkali diceraikan kemudian dinikahkan kepada santri lelakinya. Anaknya sendiri dianggap sebuah berkah karena memiliki keturunan dari tokoh agama tersebut.”

Kami sekelas mengelus dada. Rasa-rasanya kisah ini mirip cerita Walid (tokoh fiksi) yang sempat gempar beberapa bulan lalu. Tidak menyangka bahwa kisah ini memang benar-benar terjadi di dunia nyata.

Miris dan kasihan, sayangnya doktrin “mencari berkah” sudah terinernalisasi dengan begitu kuatnya.

Pada kisah lain, ada sebuah rumah yang seringkali menjadi tempat menginap orang yang juga disebut “tokoh agama”. Suami istri di rumah itu menyambutnya dengan baik, karena dianggap sebuah kehormatan rumahnya dijadikan tempat singgah. “Tokoh agama” ini pun menginap di kamar anak perempun mereka. Tidak jarang, ia menyetubuhi anak perempuan tersebut. Orang tuanya pun mengerti, sesekali mengintip, dan mereka membiarkan saja. Karena dalam benak mereka yang terpenting adalah “mencari berkah”.

Bukankah ini sudah tidak lazim dan tidak masuk akal?

Ini hanyalah sebagian kecil dari kisah nyata yang terjadi di antara puluhan ribu pondok pesantren di Indonesia. Tentu kasus yang terjadi berlangsung tanpa henti, menjadi titik hitam yang perlu diperhatikan dengan baik demi keselamatan citra pondok pesantren di masa mendatang.

Tempat yang harusnya menjadi ruang aman, harus diselamatkan agar tidak bertambah korban bergelimpangan. Tempat yang harusnya menjadi ruang para santri mencari keberkahan ilmu, harus dientaskan dari segala bentuk manipulatif berkedok ketaatan pada guru. Sungguh kita perlu memahami, bahwa keberkahan mestinya dicari dari jalan kebaikan, bukan melalui maksiat atau zina.

Pada tulisan selanjutnya, saya akan mencoba untuk menilik perspektif kementerian agama sebagai payung dan rumah dari pondok peseantren terkait konflik ini.

0
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.