Sunan Pandanaran II: Perjalanan Spiritual Menuju Cinta Ilahi

Sunan Pandanaran II, yang juga dikenal dengan nama Sunan Tembayat atau Ki Ageng Pandanaran, merupakan salah satu tokoh penting dalam proses Islamisasi di tanah Jawa, khususnya di wilayah Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Dalam beberapa sumber, nama aslinya disebut Pangeran Mangkubumi atau Sayyid Ihsan Nawawi. Beliau merupakan putra dari Pangeran Tumapel dan cucu dari Sunan Ampel, salah satu anggota Wali Songo yang berpengaruh besar dalam penyebaran Islam di Nusantara. Selain itu, beliau juga merupakan saudara dari Sayyid Kalkum Wot Galeh, Bupati Ponorogo ke-II.

Pada masa awal kehidupannya, Sunan Pandanaran II menjabat sebagai Bupati pertama Semarang. Sebagai seorang bangsawan dan pemimpin daerah, beliau hidup dalam kemewahan dan kekuasaan. Namun, gaya hidup duniawi yang berlebihan membuatnya jauh dari nilai-nilai kesederhanaan yang menjadi ciri para wali.

Pertemuannya dengan Sunan Kalijaga menjadi titik balik yang menentukan dalam kehidupannya. Sunan Kalijaga menasihatinya agar meninggalkan kehidupan duniawi dan menempuh jalan spiritual untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Nasihat tersebut menyentuh hatinya, sehingga beliau memutuskan untuk meninggalkan jabatan, kekayaan, serta segala bentuk kemegahan dunia.

Sebagai bentuk ketaatan kepada perintah gurunya, Sunan Pandanaran II diperintahkan untuk melakukan perjalanan menuju Jabalkat, guna berguru kepada seorang sufi bernama Syeh Malaya. Sebelum berangkat, beliau menyiapkan segala urusan pemerintahan dan keluarga.

Dalam kesempatan itu, beliau mengumpulkan seluruh istri dan anak-anaknya untuk menjelaskan maksud perjalanannya, yakni melaksanakan perintah guru demi menyempurnakan ilmu agama. Kepada keluarganya, beliau berpesan agar tetap tinggal dan menjaga rumah selama ia menunaikan perjalanan tersebut.

Namun, istri tertuanya, Nyai Ageng Kaliwungu, menolak untuk ditinggalkan. Ia bersikeras ingin ikut mendampingi suaminya dalam perjalanan jauh itu sebagai wujud kesetiaan seorang istri. Dengan penuh kasih, Sunan Pandanaran II mengizinkannya ikut, tetapi dengan satu syarat tegas: tidak boleh membawa harta benda apa pun, sesuai pesan gurunya, karena perjalanan spiritual harus dijalani dengan hati yang ikhlas dan tanpa keterikatan pada dunia.

Setelah semuanya siap, berangkatlah Sunan Pandanaran II bersama Nyai Ageng Kaliwungu dan anak kecil mereka yang kelak dikenal dengan nama Pangeran Jiwa. Dalam perjalanan panjang menuju Jabalkat, mereka diuji dengan berbagai cobaan, termasuk ketika dihadang oleh gerombolan penyamun yang meminta harta benda mereka.

Sunan Pandanaran II dengan tenang menjawab bahwa ia tidak membawa apa pun, karena semua kekayaan telah ditinggalkan. Namun tanpa sepengetahuan suaminya, Nyai Ageng Kaliwungu ternyata masih membawa sedikit emas yang disembunyikan di rambutnya. Para penyamun akhirnya menemukan emas itu, dan Nyai Ageng Kaliwungu dipaksa untuk menyerahkannya.

Setelah kejadian tersebut, ia tersadar akan kesalahannya karena masih terikat pada harta duniawi. Ia menangis dan memohon ampun kepada suaminya, serta berjanji akan menjalani perjalanan itu dengan sepenuh hati dan keikhlasan. Peristiwa itu menjadi titik balik spiritual bagi keduanya, sebagai pelajaran bahwa keikhlasan sejati harus disertai dengan pelepasan dari segala hal yang bersifat duniawi.

Konon, setelah diganggu oleh tiga orang penyamun, Nyai Ageng Kaliwungu berteriak minta tolong, “Tolong, Kyai, ada orang salah, tiga jumlahnya!” Sejak itu tempat kejadian tersebut dikenal dengan nama Salatiga. Melihat para penyamun terkulai di tanah, Kyai Ageng Pandanaran berkata, “Itulah akibatnya tidak mendengarkan kataku. Wajahmu menjadi seperti domba dan kamu yang menggelesot seperti ular.”

Seketika itu, satu penyamun berubah berwajah domba (disebut Syeh Domba) dan satu lagi berwajah ular (Syeh Kewel). Keduanya menyesal dan menjadi murid Kyai Ageng Pandanaran. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika Nyai Ageng tertinggal jauh, ia berkata, “Baya wis lali, Kyai teka ninggal,” sehingga tempat itu dinamakan Boyolali.

Suatu hari, Gus Slamet, murid Kyai Ageng, karena terburu-buru mengisi air wudhu menggunakan keranjang, namun berkat kesaktiannya air tidak tumpah sedikit pun. Peristiwa itu membuatnya semakin disegani. Pernah pula ketika hendak menanak nasi, bibi Tasik kehabisan beras dan menyuruh Gus Slamet menghadang penjual. Namun penjual itu mengaku membawa pasir (wedi), bukan beras.

Pagi hari menjelang sholat Subuh, Sunan Tembayat (Kyai Ageng Pandanaran) masuk Masjidnya dan mengumandangkan Adzan. Menurut cerita Sunan Demak kurang senang hatinya mendengar suara Adzan tersebut, karena, menganggap Sunan Bayat orang congkak. Terlebih karena Masjidnya dibuat di atas bukit.

Sunan Bayat merasa dan mengakui kesalahannya. Masjidnya diturunkan hanya dengan diseret kebawah saja, dan sampai sekarang Masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Gala yang terletak di bawah bukit Jabalkat. Masjid ini hanya muat untuk empat orang saja dalam pada awal berdiri, karena dahulu Sunan Bayat melaksanakan Sholat Jum’at hanya berempat dengan para sahabatnya.

Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh ujian dan memperoleh banyak pelajaran spiritual, Sunan Pandanaran II akhirnya menetap di daerah Bayat, Klaten. Di tempat inilah beliau memulai babak baru dalam kehidupannya sebagai penyebar agama Islam. Karena kiprahnya dalam berdakwah di wilayah ini, beliau kemudian dikenal dengan nama Sunan Tembayat.

Sunan Pandanaran mempunyai nama lain yaitu Sunan Tembayat, karena beliau menyebarkan agama Islam dengan cara Patembayatan atau musyawarah. Sunan Pandanaran mengadakan pertemuan-pertemuan dengan masyarakat di sekitar Bayat untuk membicarakan masalah agama Islam. Baik mengenai iman, maupun cara-cara peribadatannya.

Meskipun begitu, dalam musyawarah itu tidak jarang terjadi selisih faham yang menjurus pada pertentangan karena masing-masing pihak mempertahankan kepercayaannya. Sunan Pandanaran dapat bertindak bijaksana, tidak tergesa-gesa menyuruh mereka memeluk agama Islam, akan tetapi ajakannya secara sedikit demi sedikit. Karena sifat kekeluargaan yang ditunjukkan oleh Sunan Pandanaran kepada penduduk, maka perlahan semakin banyak masyarakat di Bayat dan sekitar Bayat yang memeluk agama Islam.

0

Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Raden Mas Said Surakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.