Ketika Mudah Menghakimi Orang Lain, Kita Lupa Mengoreksi Diri

Ada kebiasaan sederhana yang seringkali kita lakukan namun jarang disadari, bahkan diri kita sendiri pun lebih sibuk memberikan perhatian lebih terhadap kesalahan atau dosa yang dilakukan orang lain dibanding diri sendiri.

Ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, kadang diri ini malah bereaksi cepat untuk memberikan penilaian buruk terhadap orang tersebut, seakan-akan kita sudah tahu seluruh amal perbuatannya. Apalagi di dunia maya, tak jarang orang langsung melontarkan hujatan melalui kolom komentar yang secara tidak langsung telah membuat jalan pintas untuk menghakimi orang lain.

Ya, mungkin terkadang kita lupa bahwasannya setiap manusia punya cerita hidup, pergulatan batin, dan ujian yang berbeda. Penilaian spontan yang kita lakukan tadi juga seringkali terjadi hanya dengan melihat cover seseorang tanpa balik bercermin dan bertanya kepada diri sendiri “Apakah diri ini benar-benar lebih baik?”

Dari kebiasaan sederhana tersebut sebenarnya dapat berpotensi menjadi awal tumbuhnya penyakit sombong di dalam hati. Saat kita merasa lebih baik hanya karena sebatas melihat kesalahan orang lain, anggapan bahwa diri kita lebih baik, lebih suci, atau lebih “aman” dari dosa perlahan mulai timbul.

Inilah sombong yang halus, tidak terucap, namun bergema dalam diri saat memandang orang lain. Padahal dalam ajaran islam, kesombongan seperti ini justru termasuk penyakit batin yang paling berbahaya, karena sering luput dari perhatian dan terjadi tanpa kita sadar.

Di sisi lain, sikap yang seharusnya kita pelihara adalah tawadhu, sebuah sikap rendah hati yang membuat seseorang sadar bahwa dirinya tidak lebih baik atau mulia dari siapa pun. Tawadhu’ bukan berarti merendahkan diri, tetapi menyadari bahwa setiap manusia punya celah yang sama-sama perlu dihargai.

Kalau kita membaca pandangan ulama-ulama terdahulu, mereka sangat menekankan bahaya penyakit batin seperti ‘ujub (perasaan bangga diri secara berlebihan), sombong, riya’, dan kebiasaan meremehkan orang lain.

Mereka menggambarkan bahwa penyakit semacam ini justru lebih berat daripada dosa yang terlihat jelas. Alasannya pun sederhana, karena dosa yang tampak seringkali membuat seseorang sadar dan akhirnya bertaubat, berbeda dengan penyakit hati yang bergerak diam-diam dan terus tumbuh tanpa disadari.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah saw pernah bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Di titik inilah hadis tersebut menjadi sangat masuk akal untuk kita renungi. Sebab di dalamnya menegaskan bahwa penilaian manusia terhadap manusia lain itu selalu dangkal, yang hanya mampu melihat kulit luar: ucapan, sikap, dan kesalahan yang ia sebabkan.

Sementara, Allah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam: hati, niat, dan kualitas amal yang tidak mampu ditangkap oleh penglihatan manusia.

Oleh karena itu, Islam menghadirkan ajaran tentang muhasabah diri, konsep ajaran ini mengajak seseorang melihat kembali kondisi hatinya sebelum sibuk menilai orang lain. Melalui muhasabah, kita diajak berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri, berpikir lalu bertanya pada diri dengan jujur, “apa yang sebenarnya sedang tumbuh di dalam hati ini? Kerendahan atau justru kesombongan?”

Dengan cara ini, perhatian kita yang semula mudah tertuju pada kekurangan orang lain perlahan kembali pada diri sendiri, menuju ruang batin pribadi yang harus dibenahi lebih dulu.

Dalam QS. Al-Hasyr (59): 18, Allah berfirman:  

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat ini menjadi dorongan lembut sekaligus peringatan tegas agar kita mengarahkan fokusnya ke diri sendiri untuk menilai apa yang sudah dikerjakan, apa yang perlu diperbaiki, dan sejauh mana hati ini masih berjalan di jalan yang benar.

Dari sinilah muncul prinsip penting dalam Islam bahwa hanya Allah yang berhak menilai seseorang secara utuh. Kita sebagai makhluk-Nya hanya melihat tindakan yang tampak, sementara kondisi hati, niat, batin, dan rahasia kebaikan seseorang berada jauh di luar jangkauan penglihatan manusia.

Al-Qur’an pun menegaskan, “Dialah yang mengetahui rahasia dan yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 3). Dengan kesadaran ini, sikap menghakimi menjadi terasa tidak pantas, karena kita sedang menilai sesuatu yang sebenarnya bukan sepenuhnya wilayah kita.

Justru karena Allah satu-satunya yang mengetahui keseluruhan diri seseorang, baik tentang apa yang dia lakukan, apa yang dia sembunyikan, apa yang dia perjuangkan, dan apa yang dia sesali, maka penilaian manusia tidak pernah bisa berdiri sebagai ukuran akhir. Kita hanya mampu melihat sepotong kecil dari perjalanan seseorang, sementara Allah melihat gambaran utuhnya.

Itulah sebabnya dalam Islam, ukuran kemuliaan seseorang selalu dikembalikan kepada ketakwaan, sesuatu yang penilaian sepenuhnya berada di tangan Allah. Kesadaran ini pada akhirnya mengingatkan kita untuk melangkah dengan rendah hati.

Apa yang tampak belum tentu seluruhnya, dan apa yang tersembunyi hanya Allah yang mengetahuinya. Karena itu, perjalanan hidup sebaiknya dijalani dengan fokus pada perbaikan diri, sambil menyerahkan penilaian akhir kepada-Nya yang tidak pernah keliru dalam menilai. [AA]

2

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.