Fenomena FOMO dan Pentingnya Qana’ah di Era Media Sosial

Saat ini banyak sekali orang yang sering merasa ketinggalan hal-hal terbaru di sekitar mereka dan selalu ingin mengikuti apa pun yang baru atau yang biasa disebut FOMO (Fear of Missing Out). Contohnya, terus-menerus membuka media sosial karena takut tertinggal sesuatu yang sedang trending, membeli produk hanya karena viral tanpa riset, atau tidak ingin ketinggalan hadir di berbagai acara.

Hal itu memang kadang terlihat biasa saja, tetapi kalau terlalu sering, FOMO bisa membuat seseorang menjadi gelisah dan akhirnya tidak menikmati hidupnya. Hal seperti ini, dalam Islam, mirip dengan sifat thama’ (serakah) , yaitu selalu ingin lebih, tidak pernah puas, dan kurang bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.

Kehadiran media sosial membuat orang yang mengalami FOMO menjadi semakin banyak. Setiap hari kita melihat orang lain memposting foto healing, membeli barang baru yang sedang viral, atau melakukan kegiatan yang dianggap keren.

Tanpa sadar, hal-hal itu membuat kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain. Lambat laun tentu hal itu dapat menumbuhkan perasaan bahwa hidup yang kita jalani terasa biasa saja dan kurang menarik dibandingkan yang lain.

Padahal, belum tentu yang terlihat ‘wah’ di media sosial benar-benar sama dengan kenyataannya. Akhirnya, kita pun lupa bahwa yang kita lihat hanyalah “cuplikan terbaik” hidup seseorang, bukan keseluruhannya.

Contoh yang sering terjadi saat ini adalah soal baju yang hanya dipakai sekali untuk satu kali postin medsia sosial. Mereka yang melakukan hal itu umumnya merasa harus selalu tampil dengan outfit berbeda dan agar tidak terlihat memakai baju yang itu-itu saja. Padahal, memakai baju yang sama itu sangat wajar dan bukan sesuatu yang memalukan.

Kembali soal FOMO. Masalah ini sebenarnya bukan hanya soal baju atau tren saat ini, tetapi soal tekanan untuk selalu terlihat mengikuti zaman. Kita takut dibilang ketinggalan, takut dianggap kurang update, atau takut terlihat tidak semenarik orang lain.

Kita cenderung lebih peduli pada penilaian orang lain daripada pada kebahagiaan diri sendiri bahkan lupa bahwa yang paling penting bukan bagaimana kita terlihat, tetapi bagaimana kita benar-benar ‘merasakan’.

Yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Apa yang cocok untuk orang lain belum tentu juga cocok untuk kita. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, tidak selalu sama dengan yang lain.

Terkait dengan cara mengurangi perasaan FOMO salah satunya adalah dengan belajar untuk qana’ah, menerima dan merasa cukup. Qana’ah bukan berarti tidak boleh mencoba hal baru, tetapi lebih pada menerima bahwa hidup kita tidak harus sama dengan hidup orang lain. Selain itu, sering bersyukur atas hal-hal kecil yang kita miliki bisa membuat hati lebih tenang.

Pada akhirnya, FOMO bukan hanya soal tren, tetapi juga soal bagaimana kita memandang diri sendiri. Kalau kita terlalu fokus pada hidup orang lain, kita bisa lupa pada nikmat yang sudah Allah berikan. Kita juga jadi sulit merasa puas dan selalu merasa kurang.

Dengan belajar merasa cukup dan berhenti membandingkan diri, kita bisa menjalani hari dengan lebih tenang dan menikmati hidup tanpa harus memikirkan bagaimana kita terlihat di media sosial. [AA]

1

Mahasiswa Program Studi Psikologi, UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.