Cara Mendapatkan Lailatul Qadar Meski Tidak Itikaf di Masjid

Ilustrasi Ibadah Ramadan bagi Ibu Rumah Tangga dan Pekerja

Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan 1447 H, suasana pencarian Lailatul Qadar terasa semakin kuat. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam dengan i‘tikaf, tilawah, dan doa.

Namun, di tengah semangat itu, tidak sedikit orang yang justru diliputi kegelisahan. Terutama para ibu rumah tangga yang harus mengurus keluarga, atau para pekerja shift yang tetap harus menjalankan tanggung jawab profesionalnya.

Muncul pertanyaan yang cukup sering terdengar: apakah mereka yang tidak bisa berdiam diri di masjid masih memiliki peluang yang sama untuk meraih Lailatul Qadar?

Pertanyaan ini sebenarnya mengingatkan kita pada satu prinsip penting dalam Islam bahwa agama ini tidak dibangun di atas kesempitan. Allah sendiri menegaskan bahwa malam kemuliaan itu memiliki nilai yang luar biasa:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Ayat ini tidak menyebutkan bahwa kemuliaan tersebut hanya untuk orang yang mampu berdiam diri semalaman di masjid. Yang ditekankan adalah nilai ibadah yang dilakukan dengan tulus pada malam tersebut.

Secara hukum asal, para ulama memang menjelaskan bahwa i‘tikaf dilakukan di masjid. Hal ini berangkat dari firman Allah:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Janganlah kalian mencampuri istri-istri kalian ketika kalian sedang beritikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Karena itu, mayoritas ulama menyebutkan bahwa tempat utama i‘tikaf adalah masjid. Namun, dalam tradisi fikih Islam, selalu ada ruang kelapangan bagi mereka yang memiliki keterbatasan kondisi.

Dalam mazhab Syafi‘i dijelaskan bahwa i‘tikaf tetap sah meskipun dilakukan dalam waktu yang singkat. Imam Nawawi dalam Al-Majmū‘ menjelaskan bahwa seseorang dianggap beritikaf selama ia berdiam di masjid dengan niat i‘tikaf, meskipun hanya sebentar.

Artinya, setiap kali seseorang masuk masjid untuk salat berjamaah, baik sebelum berangkat kerja maupun setelah pulang, ia dapat meniatkan i‘tikaf. Niat yang sederhana ini membuat waktu singkat di masjid bernilai ibadah yang besar.

Di sela waktu istirahat kerja pun, sepuluh malam terakhir tetap bisa dihidupkan dengan zikir, membaca Al-Qur’an, atau memperbanyak istighfar. Bahkan aktivitas bekerja mencari nafkah yang halal sendiri memiliki nilai ibadah yang tinggi.

Di sisi lain, sebagian ulama mazhab Hanafi, misalnya, memberikan keringanan bagi wanita untuk beri’tikaf di rumah pada tempat yang memang biasa digunakan untuk salat. Tempat ini dikenal dengan istilah masjid al-bait, yakni sudut khusus di rumah yang didedikasikan untuk ibadah.

Dalam kitab Al-Hidayah fi Syarh Bidayat al-Mubtadi karya Imam Burhanuddin Abu al-Hasan Ali bin Abi Bakar al-Marghinan (530-593H). disebutkan:

وَاعْتِكَافُ الْمَرْأَةِ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهَا أَفْضَلُ لَهَا

“I‘tikaf seorang wanita di tempat salat di rumahnya lebih utama baginya.”

Pandangan ini memberi ruang bagi para ibu yang tidak mungkin meninggalkan anak kecil atau orang tua yang membutuhkan perawatan. Dengan menata satu sudut rumah sebagai ruang ibadah, menjauhkannya dari gangguan ponsel, percakapan santai, atau aktivitas domestik, suasana spiritual i‘tikaf tetap bisa dihadirkan.

Begitu pula dengan mereka yang bekerja dengan sistem shift. Tidak semua orang memiliki kemewahan waktu untuk berada di masjid sepanjang malam. Namun bukan berarti pintu Lailatul Qadar tertutup bagi mereka.

Rasulullah saw. bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Karena itu, lelahnya bekerja tidak harus dipandang sebagai penghalang ibadah. Ia justru bisa menjadi bagian dari perjalanan spiritual seorang hamba.

Yang paling penting pada sepuluh malam terakhir sebenarnya bukan hanya soal tempat kita beribadah, tetapi juga kondisi hati kita. Tidak sedikit orang yang secara fisik berada di masjid, tetapi lisannya sibuk dengan ghibah atau hatinya dipenuhi prasangka.

Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa menjaga hati dan lisan justru menjadi pintu utama turunnya keberkahan.

Selain itu, ada amalan sederhana yang dianjurkan Rasulullah ketika mencari Lailatul Qadar. Ketika Sayyidatina Aisyah r.a. bertanya doa apa yang sebaiknya dibaca pada malam tersebut, Kanjeng Kanjeng Nabi saw. mengajarkan doa berikut ini:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)

Kemuliaan sepuluh malam terakhir Ramadan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang senantiasa duduk lama di masjid. Namun, ia juga terbuka bagi seorang ibu yang menyiapkan sahur di dapur atau bagi pekerja yang masih menuntaskan tugasnya di tempat kerjanya. Selama hati tetap tertuju kepada Allah, di situlah jalan menuju Lailatul Qadar tetap terbuka. Wallahu a’lam.

0

Redaksi Arrahim.ID

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.