AI dan Pudarnya Nalar Kritis Mahasiswa

Ilustrasi mahasiswa yang menggunakan AI saat mengikuti perkuliahan, menggambarkan perdebatan tentang pengaruh teknologi terhadap nalar kritis dalam dunia akademik.

Beberapa waktu lalu saya sempat membuat ulasan mengenai fenomena subjektivitas dosen dalam menilai karya tulis mahasiswa dengan mengkambing hitamkan Artificial Intelegence (AI). Ulasan tersebut ketika saya bagikan di platform Instagram mendapat respons yang beragam dari berbagai kalangan.

Kalangan yang paling banyak merespons ialah mahasiswa dengan mengirimkan emoticon ‘api’. Bagi saya, respons itu semakin mengukuhkan kecurigaan bahwa kejadian yang sama telah dialami oleh banyak mahasiswa di luar sana.

Sikap seorang dosen yang dengan mudahnya menuduh tulisan mahasiswa sebagai hasil copy-paste dari AI tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, paling tidak melalui pengecekan AI detector, menjadi sumber masalahnya.

Alih-alih berperan sebagai penuntun untuk menciptakan kultur akademik yang baik, justru malah menjadi penghambat karena arogansi yang berlebihan. Alternatif yang saya tawarkan pada ulasan tersebut adalah dengan menciptakan budaya dialogis antara dosen dan mahasiswa.

Sekat posisi akademik dalam hal ini harus dihilangkan sehingga kemampuan untuk bertanya dan berdialog dapat terbangun secara perlahan. Namun, setelah mengamati kecenderungan mahasiswa yang saya ajar semester lalu, ternyata solusinya tidak sesederhana itu.

Saya mendapati fakta bahwa sikap skeptis terhadap mahasiswa dalam menggunakan AI tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Memang sebagian kecil di antara mereka ada yang memang bergantung pada AI.

Bukan hanya lewat tulisan, saat diskusi pun juga demikian. Mulai dari mengajukan pertanyaan hingga menjawab pertanyaan. Alih-alih menciptakan budaya dialogis, kemampuan untuk bertanya seolah telah hilang karena berlebihan dalam menggunakan AI.

Mahasiswa hanya menjadi perantara untuk menyampaikan pertanyaan dari AI yang dalam banyak kesempatan sangat jauh dari konteks pembahasan. Parahnya, menjawab pun demikian, mahasiswa hanya membacakan jawaban dari AI untuk merespons pertanyaan AI.

Fenomena ini tentu tidak serta merta dapat dijadikan dasar untuk menilai seluruh mahasiswa. Sebagaimana yang saya katakan tadi, hanya sebagian kecil di antara banyaknya mahasiswa. Di kelas yang saya ajar contohnya, mahasiswa kutu buku masih jauh lebih dominan dibanding yang ‘kecanduan’ menggunakan AI.

Meski demikian, fenomena ini tentu juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Sebab seiring berjalannya waktu, sangat memungkinkan kuantitasnya dapat terus bertambah. Buktinya, hal yang sama juga pernah diceritakan oleh kawan saya yang mengajar di Lampung dan Yogyakarta.

Pertanyaan reflektifnya kemudian; lantas, bagaimana seharusnya AI diposisikan dan digunakan secara ideal dalam dunia akademik?

Sebelum menjawab itu, harus disadari bahwa kemampuan manusia jauh lebih baik dibanding AI. Menurut Qurasih Shihab, perbedaan yang paling menonjol adalah kemampuan untuk memahami konteks. AI tidak cukup canggih untuk mendialogkan antara teks, realitas, dan konteks.

Kemampuan manusia untuk menyesuaikan jawaban dengan siapa dan dalam kondisi apa penanya, sama sekali tidak dimiliki oleh AI. Tidak heran jika jawaban AI kerap lari dari konteks pertanyaan. Oleh sebab itu, insan akademik tidak selayaknya ‘bergantung’ padanya. Meskipun memiliki segudang informasi yang tak terhitung jumlahnya, akan tetapi ketidakmampuan AI untuk menggunakan informasi secara tepat sesuai konteksnya tentunya menunjukkan kelemahan yang fatal.

Seyogyanya AI cukup digunakan sebagai kawan diskusi, sebagai media untuk menguji gagasan atau melakukan komparatif perspektif. Bukan malah menjadi sumber utama mencomot gagasan. Dengan kata lain, sebelum menggunakan AI kita sudah punya informasi/pengetahuan yang hendak diuji atau dieksplorasi lebih jauh, bukan dalam kondisi kosong atau tanpa pengetahuan.

Hal yang sama juga pernah ditegaskan oleh Amin Abdullah dalam salah satu seminar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Baginya, kebermanfaatan AI tergantung pada cara seseorang menggunakannya.

Dengan cara demikian, menurut saya AI dapat menjadi kawan yang baik dalam dunia akademik. Kita jadi punya teman baru untuk mengeksplorasi lebih banyak informasi. Tapi, lagi-lagi yang perlu digaris bawahi bahwa dalam menggunakannya tidak boleh dalam kondisi kosong (tanpa pengetahuan). Sebab jika demikian itu bisa berakibat fatal sebagaimana fenomena yang saya uraikan di awal.

Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan sebagai langkah awal dalam merumuskan gagasan progresif akhirnya hilang karena terlalu bergantung pada AI. Hal ini menjadi sesuatu yang fatal, sebab kata Fishman, penulis buku China Inc. dan Shock of Gray, penelitian atau gagasan yang baik selalu berangkat dari pertanyaan yang benar.

Begitupun dengan Marcy P. Driscoll, penulis Psychology of Learning for Instruction, yang juga menegaskan hal sama tentang pentingnya mengasah kemampuan untuk bertanya. Agaknya juga tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa, ia menjadi hal yang utama dalam membangun gagasan progresif.

Bagi saya, kecerdasan bukan terletak pada seberapa mampu seseorang menjawab berbagai pertanyaan, tetapi pada seberapa jauh ia mampu mempertanyakan sesuatu dengan benar. Wallahu a’lam bi al-shawab.

1

Mahasiswa Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.