Di Balik Algoritma dan Tumbuhnya Paham Ektremisme-kekerasan

Ilustrasi seorang remaja yang berada di persimpangan antara keterasingan digital, komunitas sosial yang sehat, dan paparan narasi ekstremisme di ruang maya

Di zaman yang serba canggih, semakin banyak orang mudah terkoneksi. Media sosial telah menjelma menjadi pasar malam dalam jumlah besar: riuh, terang, dan bising. Tetapi ketika layar media sudah dimatikan, maka kesunyian panjang akan hadir kembali.

Fonomena ini, kemudian secara perlahan melahirkan krisis baru dalam masyarakat modern berupa kesepian dalam bersosial, khususnya bagi anak usia remaja. Kesunyian hari ini bukan hanya sekedar tidak memiliki teman bicara. Melainkan perasaan yang tak di pahami, tidak dianggap, sehingga tidak menemukan tempat kembali secara emosional.

Para remaja ini kebanyakan tumbuh di bawah tekanan yang semakin kompleks mulai dari persaingan ekonomi, tuntutan eksistansi digital, standar kehidupan, hingga kecemasan masa depan. Sementara ruang untuk mendengar justru semakin sempit. Akibatnya mereka terlihat sehat di permukaan, tetapi secara diam-diam rapuh dalam dirinya.

Di sisi lain, algoritma media digital perlahan membuat manusia terjebak dalam ruang digital yang berisik namun terasa hampa. Kerap kali individu menghadapi tekanan dari faktor lingkungan sosial maupun  ekonomi.

Jean M Twenge dan W Keith Campbell dalam karyanya “Hubungan Antara Waktu Menatap Layar dan Kesejahteraan Psikologis yang Lebih Rendah di Kalangan Anak-Anak dan Remaja: Bukti dari Studi Berbasis Populasi” (2018) mengatakan bahwa meningkatnya waktu menatap layar berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan psikologis anak muda.

Fenomena ini, menurut hemat penulis, masih memiliki keterkaitan dengan gagasan Karl Marx tentang Teori Keterasingan Sosial (Social Alienation Theory). Karl Marx meyakini bahwa manusia kehilangan makna kemanusiannya ketika hidup hanya berjalan secara mekanis dan dikendalikan oleh sistem.

Jika pada masa revolusi industri dulu manusia terasingkan oleh mesin pabrik, kini keterasingan itu menjelma melalui algoritma digital. Memang, bisa jadi hal ini tidak terasa secara langsung, tetapi perlahan membuat manusia terhubung dengan layar tapi asing dalam kehidupan nyata.

Di dalam ruang hampa emosional dan keterasingan inilah, bahaya baru mengintai. Ketika anak muda kehilangan orientasi dan sense of belonging di dunia nyata, mereka menjadi target yang sangat rapuh. Kondisi psikologis yang sepi ini dimanfaatkan dengan cerdik oleh kelompok violent-extremism (ekstremisme berbasis kekerasan).

Jika dikalkulasi, potensi dari kelompok ini sejak era 90-an hingga kini sudah banyak yang siap untuk mengekspansi kelompoknya dalam berbagai bentuk. Mereka memanfaatkan media sosial untuk semakin memperluas pengaruhnya dengan cara memproduksi berbagai konten.

Melalui media, kelompo-kelompok violent-extremism tidak selalu datang dengan simbol peperangan maupun teriakan kebencian. Mereka bergerak seperti maling yang menyusup rumah tanpa kunci. Kelompok ini bisa hadir lewat konten keresahan hidup, kajian agama yang terpotong, hingga kolom komentar yang dipenuhi narasi intoleransi dan kebencian.

Generasi Tanpa Ruang Pulang

Anak muda hari ini hidup di tengah dunia yang serba cepat sepeti kedipan mata, disisi lain ia juga kehilangan tempat ketenangan. Kehidupan mereka dibersamai dengan notifikasi, tuntutan eksistensi, dan tekanan untuk terlihat baik-baik saja. Jiwa kesolidaritasannya dengan manusia setempat sudah hilang, karena gaya digitalisasinya sendiri.

Ilmuan sosiologi dari polandia, Zygmunt Bauman (1925-2017), pernah menjelaskan bahwa manusia hidup dalam hubungan yang cair dan rapuh. Manusia mudah terkoneksi, tetapi juga sulit membangun kedekatan secara utuh. Akibatnya, banyak anak muda merasa memiliki banyak relasi, namun juga sepi tempat untuk pulang secara emosional.

Hal tersebut cukup menggambarkan bahwa penyebab anak muda di era ini semakin mudah terpapar oleh narasi violent extremism ialah karena hilangnya ruang interaksi dalam kehidupannya.

Mereka cenderung sering berinterkasi dengan layar kaca dibanding insan sekitarnya. Waktunya banyak dihabiskan dalam ruang digital, sementara ruang diskusi, majelis keilmuan, dan komunitas sosial di lingkungan sekitar sudah mulai diabaikan. Dampaknya, mereka mulai banyak mengalami keresahan yang akhirnya mencari cara instant untuk mengatasinya dengan mencari jawaban melalui internet dibanding bertemu langsung dengan pakar.

Situasi seperti ini secara perlahan membuat algoritma mencuri peran sebagai guru baru. Awalnya, anak muda sedekar mencari konten hijrah, keresahan hidup, atau kritik sosial namun secara perlahan mereka diarahkan pada vidio yang serupa. Kemudia mereka tertarik untuk mendalami kajiannya dan selalu mengulang vidio itu.

Yusuf al-Qaradawi (1926-2022) mengingatkan bahwa ketika memahami agama tanpa ada bimbingan keilmuan akan menumbuhkan sikap berlebihan dalam beragama. pemahaman agama dari potongan teks atau vidio sering kali memahami islam sebatas kemarahan tanpa nilai rahmat dan kebijaksanaan sosial.

Melihat hal yang demikian, kiranya ruang sosial seperti majelis ilmu, komunitas pemuda, dan kegiatan sosial sangat urgensi untuk dihidupkan kembali agar generasi muda kita tidak tumbuh sendirian di bawah algoritma. Sebab lingkungan yang sehat dan ruang bercerita bisa mencegah terjebak dari solidari semu dan narasi kebencian.

0

Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta. Santri pondok pesantren Al Musthofa Boyolali

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.