Apakah Kita Benar-Benar Memiliki Sesuatu?

Apakah Kita Benar-Benar Memiliki Sesuatu? Refleksi Islam tentang Kepemilikan dan Kekayaan

Salah satu asumsi yang paling kuat dipegang dalam kehidupan modern adalah bahwa kepemilikan mendefinisikan siapa kita. Kita memperkenalkan diri melalui apa yang kita miliki: rumah kita, mobil kita, karier kita, prestasi kita, akun media sosial kita, bahkan identitas kita yang telah kita bangun dengan cermat.

Kepemilikan tampak begitu alami sehingga kita jarang berhenti untuk mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: apakah kita benar-benar memiliki sesuatu sepenuhnya?

Sekilas, jawabannya tampak jelas. Tentu saja kita memiliki sesuatu. Sistem hukum mengakui hak milik. Kita membeli, menjual, mewarisi, dan mengumpulkan harta benda sepanjang hidup kita. Seluruh perekonomian dibangun di atas konsep kepemilikan. Namun, semakin dalam kita meneliti gagasan ini, sebetulnya semakin rapuh jadinya.

Pertimbangkan realitas paling mendasar dari keberadaan manusia, yaitu segala sesuatu yang kita klaim sebagai milik kita telah ada sebelum kita dan akan tetap ada setelah kita. Tanah di bawah rumah kita dulunya milik orang lain sebelum kedatangan kita dan akan menjadi milik orang lain setelah kepergian kita.

Kekayaan berpindah tangan antargenerasi. Bahkan benda-benda yang kita hargai pada akhirnya akan lapuk, rusak, atau menjadi usang. Dalam pengertian ini, kepemilikan mulai tampak seperti bukan kepemilikan dan semakin seperti pengelolaan sementara.

Pandangan ini telah lama menempati posisi sentral dalam pemikiran Islam. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia bahwa kepemilikan tertinggi hanya milik Allah semata. Manusia bukanlah pemilik mutlak, melainkan wali amanah. Apa yang kita ucap “milikku”, dari perspektif ini, adalah tanggung jawab sementara yang dipercayakan kepada kita untuk jangka waktu terbatas.

Pandangan seperti itu menantang salah satu naluri terdalam dari ego manusia. Ego mencari kekekalan. Ia ingin membangun kendali atas dunia yang terus berubah. Kepemilikan menjadi salah satu cara untuk menciptakan ilusi stabilitas.

Jika sesuatu menjadi milikku, aku merasa lebih aman. Jika aku memiliki cukup kekayaan, cukup status, cukup pengaruh, aku membayangkan diriku terlindungi dari ketidakpastian. Namun, kehidupan terus-menerus mengungkap batasan kepercayaan semacam ini.

Penyakit mendadak dapat mengubah perencanaan bertahun-tahun. Krisis ekonomi dapat menghapus kekayaan. Bencana alam dapat menghancurkan rumah yang telah kita bangun. Kematian pada akhirnya memisahkan setiap orang dari semua yang telah mereka kumpulkan.

Kerapuhan kepemilikan bukanlah pengecualian dalam kehidupan, sebab ia adalah salah satu kebenaran paling mendasar dalam kehidupan.

Kesadaran ini bisa terasa tidak nyaman karena budaya modern justru mendorong sikap yang berlawanan. Kesuksesan sering diukur dari akumulasi. Orang diajarkan untuk membangun merek pribadi, memperluas investasi, dan memaksimalkan aset.

Bahasa pencapaian sering kali merupakan bahasa kepemilikan. Semakin banyak yang dimiliki seseorang, semakin sukses ia terlihat. Namun, kepemilikan jarang memuaskan dalam jangka panjang.

Siapa pun yang pernah mengejar tujuan besar pasti mengetahui fenomena ini. Objek yang diinginkan, promosi, atau pencapaian awalnya membawa kegembiraan. Namun, segera perasaan itu memudar dan keinginan baru muncul. Cakrawala pemenuhan nafsu terus bergerak. Apa yang dulunya tampak cukup menjadi kurang.

Para pemikir muslim klasik memahami kecenderungan ini dengan baik. Mereka sering menggambarkan nafs, atau diri rendah, sebagai sesuatu yang tak pernah puas. Ia terus-menerus mencari lebih banyak karena ia keliru menganggap kepemilikan sebagai pemenuhan.

Masalahnya bukanlah kekayaan itu sendiri. Islam tidak mengutuk sumber daya materi. Masalah muncul ketika orang mulai mendapatkan rasa harga diri mereka dari apa yang mereka miliki. Pada titik itu, kepemilikan mulai menguasai pemiliknya.

Pembalikan ini sangat umum terjadi. Seseorang mungkin berpikir mereka memiliki kekayaan, tetapi menghabiskan setiap jam untuk terjaga mengkhawatirkannya. Seseorang mungkin memiliki rumah, tetapi terobsesi terus-menerus dengan menjaga penampilan.

Yang lain mungkin mengumpulkan status sosial hanya untuk menjadi tawanan opini publik. Apa yang tampak sebagai kepemilikan secara bertahap berubah menjadi keterikatan dan ketergantungan.

Inilah mengapa banyak tradisi spiritual menekankan pelepasan daripada kehilangan. Pelepasan bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan berpartisipasi di dalamnya tanpa menjadi budaknya. Seseorang dapat memiliki harta benda tanpa membiarkan harta benda tersebut mendefinisikan identitasnya.

Konsep ini menjadi lebih mendalam ketika diterapkan pada aspek kehidupan yang dianggap sepenuhnya milik orang. Pertimbangkan tubuh. Sebagian besar individu secara alami berbicara tentang “tubuhku”, tetapi tidak seorang pun memilih genetika, tempat kelahiran, keluarga, dan banyak kondisi lain yang membentuk keberadaan mereka.

Tubuh itu sendiri terus berubah di luar kendali kesadaran. Penuaan, penyakit, dan kematian mengingatkan kita bahwa bahkan diri fisik kita pun, yang kita klaim kita memilikinya, tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang bakat, peluang, dan prestasi. Meskipun usaha penting, banyak faktor yang berkontribusi pada keberhasilan tetap berada di luar kendali individu. Kecerdasan, waktu, keadaan sosial, dan banyak peristiwa tak terduga semuanya memainkan peran penting. Gagasan kepemilikan absolut menjadi semakin sulit untuk dipertahankan.

Mungkin inilah mengapa rasa syukur menempati posisi vital dalam spiritualitas Islam. Rasa syukur muncul secara alami ketika hidup dipandang sebagai anugerah, bukan kepemilikan.

Sebuah anugerah mengundang apresiasi, bukan hak. Hal itu mendorong kerendahan hati karena seseorang menyadari bahwa sebagian besar hal yang berharga tidak pernah sepenuhnya diperoleh atau dikendalikan.

Pertanyaannya, kemudian, bukanlah apakah kita memiliki sesuatu dalam arti praktis. Kepemilikan legal tetap diperlukan untuk kehidupan sosial. Pertanyaan yang lebih dalam menyangkut bagaimana kita memahami kepemilikan tersebut.

Jika segala sesuatu pada akhirnya bersifat sementara, mungkin deskripsi yang paling tetap ​​tentang keberadaan manusia bukanlah kepemilikan, tetapi kepercayaan. Kita dipercayakan dengan sumber daya, hubungan, kemampuan, dan peluang untuk sesaat. Tantangannya bukanlah sekadar memperolehnya, tetapi menggunakannya dengan bijak.

Pada akhirnya, apa yang kita sebut kepemilikan mungkin bukan sepenuhnya tentang kepemilikan dan lebih tepatnya adalah tanggung jawab. Barangkali kebebasan sejati dimulai ketika kita menyadari bahwa hal-hal yang kita pegang erat-erat sejak awal tidak pernah sepenuhnya menjadi milik kita.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.