



Membuka media sosial hari ini hampir mustahil tanpa menemukan potongan-potongan kisah cinta yang tampak sempurna. Mulai dari hadiah mewah, liburan romantis, hingga ungkapan kasih sayang yang dikemas secara estetik. Konten-konten semacam ini dikenal dengan istilah relationship goals dan perlahan membentuk standar baru tentang seperti apa hubungan yang dianggap ideal.
Era serba digital dapat memberikan dampak terhadap pola pikir dan tindakan individu, berdasarkan sebuah data beberapa platform media sosial yang banyak digunakan para remaja, yakni; Tiktok dengan presentase 77%, Instagram sebanyak 73% pengguna, dan WhatsApp 69% (Setyo, 2025, p. 2).
Tingginya intensitas penggunaan media sosial ternyata tidak hanya mengubah cara seseorang berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara memandang dirinya sendiri dan hubungannya dengan orang lain.
Salah satu fenomena yang muncul adalah tren relationship goals. Tren ini ialah potret dimana hubungan romantis yang dikemas secara estetik dan menghibur. Tidak sedikit pengguna media sosial kemudian menjadikan konten-konten tersebut sebagai gambaran ideal sebuah hubungan. Padahal, apa yang ditampilkan di ruang digital sering kali merupakan potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan realitas yang dijalani.
Ekspetasi tersebut kemudian dapat menimbulkan kekhawatiran diri dan kecemasan, sebab takut jika hubungannya tidak sesuai dengan standar konten-konten romantis di media sosial.
Di tengah derasnya arus standar digital tersebut, Al-Qur’an menawarkan cara pandang yang berbeda tentang makna sebuah hubungan. Ukuran kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh seberapa indah ia terlihat di hadapan manusia, melainkan oleh kualitas ketenteraman yang tumbuh di dalamnya.
Dalam Q.S. Ar-Rum (30) ayat 21, Allah Swt berfirman;
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Menafsirkan frasa litaskunū ilaihā, Imam Fakhruddin al-Razi menjelaskan bahwa ketenangan yang dimaksud bukan sekadar kenyamanan fisik, tetapi ketenteraman batin yang membuat seseorang merasa pulang kepada pasangannya.
Dari sini dapat dipahami bahwa hubungan yang sehat tidak harus selalu tampak romantis di hadapan publik. Yang lebih utama adalah hadirnya rasa aman, damai, dan saling menguatkan.
Kemudian ketentraman itu diiringi dengan mawaddah dan rahmah. Menurut Al-Sya’rawi dalam Tafsir al-Sha’rawi: al-Khawatir mawaddah merupakan cinta yang tumbuh dalam kebersamaan serta kerja sama suami-istri dalam mengarungi kehidupan. Adapun rahmah adalah kasih sayang yang tetap hadir meskipun keadaan mengalami perubahan.
Mawaddah membuat pasangan saling mencintai ketika kondisi sedang baik. Sementara rahmah membuat mereka tetap bertahan ketika cinta sedang diuji oleh kesulitan, perbedaan, bahkan kekurangan masing-masing.
Selaras dengan pendapat tersebut, Syekh Al-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir fii Al-’Aqidah wa Al-Syari’ah wa Al-Manhaj menjelaskan bahwa pernikahan tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga untuk mewujudkan ketenangan jiwa, kasih sayang, dan cinta yang berkelanjutan di antara pasangan.
Nilai-nilai tersebut menjadi pilar utama yang menopang keharmonisan rumah tangga sehingga mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan dan tantangan kehidupan. Dengan demikian, kualitas sebuah hubungan tidak ditentukan oleh banyaknya ekspresi romantis yang tampak di hadapan orang lain, melainkan oleh hadirnya ketenteraman, cinta, dan kasih sayang yang tumbuh dalam kehidupan bersama (Zuhaili, 1430, pp. 75, V.21).
Pada penutup ayat tersebut, Allah Swt. berfirman;
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Rum [30]: 21).”
Penutup ayat ini mengajak manusia untuk berpikir (yatafakkarun). Berpikir bukan sekadar menggunakan akal, tetapi merenungkan kembali ukuran kebahagiaan yang selama ini diyakini. Apakah hubungan dibangun demi memperoleh pengakuan manusia, atau demi meraih ketenteraman yang dikehendaki Allah?
Semua ini menjadi pengingat bagi orang-orang yang gemar berpikir. Dengan memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah, mereka akan memahami bahwa tidak ada yang mampu menghalangi kehendaknya dan tidak ada sesuatu pun yang terlalu sulit untuk diwujudkan olehNya.
Ayat ini menjadi tamparan halus sekaligus pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang sering membandingkan nasib dengan keindahan semu di media sosial. Berpikir di sini berarti menyadari bahwa setiap pasangan memiliki dinamika dan ujiannya masing-masing yang tidak perlu dipamerkan. Dengan mengembalikan orientasi hubungan pada pencipta cinta itu sendiri, segala bentuk insecure dan kecemasan akibat standar dunia maya akan hilang, berganti dengan rasa cukup dan damai.
Akhirnya, media sosial hanyalah ruang untuk menampilkan sebagian kecil kehidupan, bukan cermin utuh kebahagiaan seseorang. Karena itu, menjadikan unggahan orang lain sebagai standar hubungan hanya akan melahirkan kekecewaan yang tidak perlu.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa rumah tangga yang baik dibangun di atas sakinah, mawaddah, dan rahmah. Nilai-nilai inilah yang membuat sebuah hubungan tetap kokoh meski jauh dari sorotan kamera. Maka, ukuran keberhasilan sebuah hubungan bukanlah seberapa sering ia dipuji di media sosial, melainkan seberapa besar ketenteraman yang dirasakan oleh dua hati yang menjalaninya.
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta