Kesalehan sebagai Pengembangan Diri Sepanjang Hayat

Ilustrasi Kesalehan sebagai Pengembangan Diri

Kebanyakan orang membayangkan kesalehan sebagai kumpulan kewajiban dalam keberagamaan. Artinya, kesalehan sering dikaitkan dengan doa, puasa, sedekah, dan kepatuhan pada aturan moral. Praktik-praktik ini memang penting, tetapi mereduksi kesalehan menjadi daftar tugas keagamaan tentu terdengar mengabaikan dimensi kehidupan spiritual yang lebih luas.

Bagaimana jika kesalehan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang bagaimana kita menjadi? Perspektif ini mengajak kita untuk melihat kesalehan sebagai bentuk pengembangan diri.

Alih-alih kondisi statis yang dicapai sekali untuk selamanya, kesalehan menjadi proses perjalanan seumur hidup untuk membentuk diri. Ini bukan tentang bagaimana seseorang mesti tampak religius, tetapi lebih tentang secara bertahap mengubah karakter, keinginan, kebiasaan, dan cara hidup seseorang di dunia.

Dalam pengertian itu, kesalehan menyerupai pengelolaan sebuah kebun. Penting dicatat bahwa sebuah kebun tidaklah tumbuh subur dalam semalam. Ia membutuhkan kesabaran, disiplin, perhatian, dan perawatan.

Gulma harus disingkirkan, benih harus ditanam, dan pertumbuhan harus dipelihara dari waktu ke waktu. Hal yang sama dapat berlaku terhadap diri manusia. Pertumbuhan spiritual jarang terjadi hanya melalui terobosan mendadak. Lebih sering, pertumbuhan spiritual muncul melalui tindakan-tindakan kecil yang berulang yang perlahan-lahan membentuk kembali diri.

Pemahaman ini berakar kuat dalam pemikiran Islam. Al-Qur’an sering menekankan pentingnya tazkiyah, sebuah istilah yang sering diterjemahkan sebagai penyucian atau pertumbuhan jiwa. Kata tersebut mengandung kedua makna itu.

Penyucian bukan hanya tentang menghilangkan apa yang berbahaya, tetapi juga tentang menumbuhkan apa yang baik. Oleh karena itu, kehidupan spiritual melibatkan pengendalian diri dan pengembangan, disiplin dan kemajuan.

Dilihat dari perspektif ini, salat lebih dari sekadar kewajiban ritual, sebab salat adalah praktik perhatian. Puasa lebih dari sekadar menahan diri dari makanan, sebab puasa adalah melatih keinginan. Sedekah lebih dari sekadar memberi sesuatu, sebab sedekah adalah latihan kemurahan hati dan pelepasan dari keterikatan yang berlebihan pada harta benda.

Tujuan dari praktik-praktik tersebut bukan sekadar kepatuhan. Tujuan yang lebih dalam adalah transformasi. Kehidupan modern, sebaliknya, sering kali malah mempromosikan pendekatan yang berbeda terhadap diri sendiri.

Kita diajarkan untuk mengejar efisiensi, produktivitas, dan kesuksesan eksternal. Dengan cara ini, diri menjadi proyek pencapaian. Media sosial memperkuat kecenderungan ini dengan mendorong perbandingan dan presentasi diri yang konstan. Pertanyaan bergeser dari “siapa saya nantinya?” menjadi “bagaimana saya terlihat di mata orang lain?”

Bertentangan dengan itu, kesalehan sebagai pengembangan diri menawarkan visi alternatif. Ia mengarahkan perhatian ke dalam, bukan dalam arti narsistik, tetapi dalam arti reflektif. Fokusnya bukan pada membangun citra yang menarik, sebab fokusnya adalah pada mengembangkan karakter yang autentik.

Artinya, ia berfungsi mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, seperti apakah saya menjadi lebih sabar? Lebih berbelas kasih? Lebih jujur? Lebih mampu mengendalikan amarah, iri hati, dan kesombongan? Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali lebih sulit daripada melakukan tindakan kesalehan yang kasat mata.

Seseorang mungkin tampak religius di depan umum sambil mengabaikan kerja batin transformasi diri. Spiritualitas Islam berulang kali memperingatkan terhadap bahaya semacam ini. Bentuk lahiriah agama itu penting, tetapi bukan tujuan akhir. Praktik-praktik keagamaan memperoleh maknanya justru dari kualitas yang ditanamkannya di dalam diri individu.

Inilah mengapa banyak ulama dan sufi menggambarkan kehidupan spiritual sebagai sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Sebuah perjalanan menyiratkan pergerakan. Pendekatan ini mengakui bahwa manusia selalu belum sempurna.

Dalam hal ini, tidak ada titik di mana seseorang dapat dengan yakin menyatakan kesempurnaan moral atau spiritual yang lengkap. Sebaliknya, kesalehan melibatkan upaya terus-menerus, refleksi tanpa henti, dan pertumbuhan konstan.

Keindahan pendekatan ini terletak pada aksesibilitasnya. Maksudnya, kesalehan tidak hanya diperuntukkan bagi orang suci, cendekiawan, atau elite spiritual belaka. Setiap orang dapat berpartisipasi dalam pengembangan diri melalui tindakan sehari-hari.

Misalnya, kesabaran sesaat selama perselisihan, tindakan kebaikan terhadap orang asing, menolak godaan untuk bergosip, atau mengakui kesalahan, semuanya dapat menjadi bagian dari pertumbuhan spiritual. Momen-momen yang tampaknya biasa ini sering kali mengungkapkan keadaan diri yang sebenarnya dengan lebih jelas daripada tindakan-tindakan besar.

Memandang kesalehan sebagai pengembangan diri juga mengubah cara kita memahami kegagalan. Kemunduran spiritual menjadi peluang untuk belajar daripada bukti ketidakberhargaan. Sama seperti seorang tukang kebun tidak meninggalkan kebunnya setelah badai, seseorang yang berkomitmen pada pengembangan diri tidak meninggalkan perjalanan setelah melakukan kesalahan.

Maka dari itu, penting ditegaskan bahwa pertumbuhan tidaklah bersifat linier. Ada periode kemajuan dan periode perjuangan. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus mengembangkan diri meskipun ada ketidaksempurnaan.

Sekali lagi, kesalehan lebih berkenaan dengan menjadi pribadi tertentu, pembentukan karakter secara bertahap yang mampu mewujudkan kebajikan seperti kerendahan hati, rasa syukur, kesabaran, ketulusan, dan kasih sayang.

Maka dari itu, kesalehan sebagai pengembangan diri mengingatkan kita bahwa transformasi terpenting sering terjadi di tempat yang hanya sedikit orang yang dapat melihatnya, yaitu di dalam hati dan pikiran manusia.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.