Resep Salat Khusyuk dari M. Quraish Shihab

Kita tentu sudah sering mendengar dan bahkan hafal mengenai rukun serta syarat sah salat: harus beragama Islam, berakal, baligh, serta suci dari hadas. Namun, bila kita mau jujur, ada satu hal yang justru paling sering menjadi tantangan dalam salat, yaitu menghadirkan kekhusyukan.

Menurut M. Quraish Shihab, seorang ulama dan cendekiawan yang pemikirannya begitu mendalam, salat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sebuah dialog antara hamba dengan Sang Pencipta.

Dalam salah satu ceramahnya, ia menceritakan pengalamannya di Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) bersama seorang pakar psikologi dari Kanada. Pakar ini, seorang mualaf, begitu tekun melatih dirinya untuk fokus dalam salat, sebuah konsep yang ia sebut sebagai “manajemen pikiran”. Ia berusaha khusyuk sampai seakan-akan tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya, sebuah tingkat kekhusyukan yang luar biasa.

Namun, Quraish Shihab mengingatkan kita bahwa khusyuk setinggi itu tidaklah wajib dan bahkan Nabi Muhammad SAW pun tidak selalu mencapainya. Ada kalanya beliau mempercepat salat karena alasan-alasan tertentu, seperti mendengar tangisan anak kecil, atau memanjangkan sujud karena cucunya naik ke punggung beliau.

Hal ini menunjukkan bahwa khusyuk bukanlah tentang melupakan segalanya, tetapi tentang usaha maksimal yang tulus.

Lima Tingkatan Salat Berdasarkan Kualitas Khusyuk

Untuk memahami lebih dalam, Quraish Shihab mengibaratkan salat seperti respons kita terhadap undangan dari Allah. berdasarkan klasifikasi dari Ibnu Qayyim, beliau mencontohkan beberapa sikap yang mungkin kita miliki ketika menerima panggilan atau undangan itu:

Pertama, Mu’aqab: Ini adalah sikap orang yang salat hanya untuk menggugurkan kewajiban. Gerakannya asal-asalan, wudhu dan rukunnya tidak sempurna. Ia melakukan salat, tapi tidak berusaha membenahi pelaksanaannya. Ibnu Qayyim menyebut orang seperti ini terancam mendapat hukuman karena salatnya tidak sempurna.

Kedua, Muhasab: Kita mendatangi panggilan itu (salat) dengan penuh semangat, tapi pikiran kita ke mana-mana. Tiba-tiba teringat pekerjaan, bisnis, atau hal-hal lain di luar salat. Ini adalah level yang lumrah dialami banyak orang. Mereka salat dengan sempurna, tapi tidak berusaha menepis gangguan-gangguan pikiran tersebut.

Ketiga, Mukaffar: Ini adalah tingkat ketika kita menyadari adanya bisikan atau pikiran yang mengganggu, dan kita berjuang untuk mengusirnya. Kita berusaha mengembalikan fokus pada salat. Menurut Ibnu Qayyim, orang seperti ini diampuni kesalahannya karena ia sudah berjuang, terlepas berhasil atau tidak. Karena, usaha itu lah yang dinilai Allah.

Keempat, Mushaf : Tingkat ini adalah orang yang berhasil mengenyahkan segala was-was dan gangguan setan, sehingga salatnya benar-benar fokus. Ini adalah salat yang ideal di mata Allah, yang berhak mendapat pahala penuh.

Kelima, Muqarrab: Tingkat tertinggi ini adalah khusyuk yang membuat seseorang tenggelam sepenuhnya dalam salat, sampai-sampai ia tidak merasakan apa pun di sekitarnya. Khusyuk semacam ini timbul dari rasa cinta yang mendalam kepada sang pengundang, yakni Allah swt.

Tips dan Nasihat untuk Meraih Kekhusyukan

Maka, pesan utama dari apa yang disampakan Quraish Shihab ini adalah tentang pentingnya usaha dan niat. Quraish Shihab mengibaratkan khusyuk seperti mencari frekuensi stasiun radio. Awalnya mungkin sulit, banyak gangguan, tapi jika kita terus berusaha memutar “tombol” dengan sabar, perlahan kita akan menemukan frekuensi yang tepat, dan suara yang kita cari akan terdengar jernih. Begitu juga salat, teruslah berusaha untuk khusyuk dan jangan mudah putus asa.

Salah satu tips praktis untuk mencapai khusyuk adalah dengan membayangkan bahwa setiap salat yang kita lakukan adalah salat terakhir. Bayangkan kita akan segera berpulang, dan salat ini adalah salam perpisahan kita kepada dunia. Dengan cara ini, diharapkan, hati dan pikiran kita akan lebih terfokus pada setiap gerakan dan bacaan.

Quraish Shihab juga mengingatkan tentang pentingnya membaca doa-doa setelah salat. Doa ini adalah permohonan agar Allah mengaruniakan kita kemampuan untuk bersyukur, beramal saleh, dan menjadikan kebaikan itu mengalir kepada keturunan kita. Salat yang sempurna tidak berhenti pada salam, melainkan berlanjut dengan permohonan dan munajat kepada-Nya setelah salat.

Terakhir, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan. Jika tidak bisa berdiri, kita bisa salat sambil duduk. Jika tidak ada air, kita bisa bertayamum. Dan jika belum bisa khusyuk, lakukan saja salat dengan sebisanya, sembari terus berusaha untuk berlatih khusyuk.Yang terpenting, jangan sampai meninggalkan salat. Salat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya, dan meninggalkan salat adalah kerugian yang sangat besar.

Jadi, mari kita terus belajar dan berjuang. Mungkin salat kita belum sempurna, tapi setiap usaha untuk menjadi lebih baik adalah langkah menuju kedekatan dengan Allah. Karena pada akhirnya, yang terpenting adalah keinginan dan kesungguhan kita untuk menyempurnakan ibadah kita.

4

Mahasiswa UIN Raden Mas Said, Surakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.