Aziz Anwar Fachruddin Peneliti di Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Naturalisme dan (De)legitimasi Evolusi

1 min read

sumber: nationalgeographic.grid.id

Jika naturalisme ontologis benar, maka tidak ada kebenaran, termasuk kebenaran naturalisme itu sendiri.

Naturalisme ontologis termaksud di sini ialah paham bahwa segala yang ada hanya materi. Boleh juga disebut materalisme. Apapun istilahnya, yang penting adalah makna yang diacu: semua yang ada hanyalah materi, tak terkecuali makhluk hidup, yang pada esensinya hanyalah b-e-n-d-a, yang terdiri dari sususan DNA, yang muncul di bumi secara kebetulan saja.

Andai sejarah alam semesta bisa diputar ulang dan paham naturalisme benar adanya, kemungkinan munculnya kehidupan, lebih-lebih makhluk seperti manusia, amat sangat kecil sekali. Makanya disebut “kebetulan”.

Jika kehidupan saja demikian, lebih-lebih pikiran manusia, yang keberadaannya disangga oleh kehidupan yang, sekali lagi, muncul secara kebetulan itu. Dalam pandangan-dunia naturalis, pikiran hanyalah produk dari gejala-gejala neurologis dalam otak, dan persis karena inilah maka apapun yang ada dalam pikiran manusia dan diakibatkan olehnya tidak memilliki nilai: tidak ada benar/salah, tidak pula ada baik/jahat.

Bayangkanlah mesin: apapun gerakannya, ia tidak mengandung nilai. Yang membedakan mesin dari organisme ialah bahwa yang terakhir, menurut evolusi, bergerak mengikuti “hukum” evolusi, yakni melanjutkan keberlangsungan hidup spesiesnya.

Pun demikian perbedaan itu tidak signifikan, jika bukan malah tak ada sama sekali: apapun yang lahir dari pikiran manusia, sebab merupakan interaksi neuron-neuron dalam otak belaka, pada hakikatnya tidak berbeda dari apa yang lahir dari otak simpanse.

Antara pikiran yang penuh falasi dan tulisan filsafat yang berisi istilah-istilah abstrak tidak berbeda. Keduanya sama-sama lahir dari gejala neurologis yang didorong oleh kehendak untuk beradaptasi dengan seleksi alam demi keberlangsungan hidup dirinya sendiri.

Dan, sebagaimana suara-suara yang lahir dari mulut simpanse atau hewan apapun tidak bisa dipercaya, suara-suara yang lahir dari mulut sapien, termasuk para sapien yang lagi bicara sains dan ide-ide filsafat, tidak bisa dipercaya pula. Bagaimana bisa percaya, jika entitas abstrak yang diberi nama “kepercayaan” itu sendiri tidak ada?

Baca Juga  Wahing Diantemi: Revolusi Nilai Ditengah Pandemi

Bila mengikuti pandangan-dunia naturalis, sapien-sapien yang sedang mengungkapkan apapun dari pikirannya itu pada hakikatnya ya c-u-m-a sekawanan sapien yang lagi bergerak-gerak mulutnya. Tidak ada kebenaran dan kebaikan di dalamnya, termasuk tidak ada kebenaran dari paham yang sedang disuarakan para sapien ini.

Naturalisme ontologis, dengan demikian, berisi ide yang menyanggah kebenaran dirinya sendiri: jika ia benar, maka ia tidak layak dipercaya. Untungnya ia tidak bisa benar. Bagaimana bisa disebut benar, jika entitas abstrak bernama “kebenaran” itu sendiri tidak ada?

No, saya tidak menolak evolusi. Cuma, evolusi tidak memiliki nilai kebenaran jika ia dipahami sebagai meniscayakan keyakinan metafisis berupa naturalisme, yang bermasalah itu, yang justru mendeligitimasi kebenaran evolusi itu sendiri.

Masalah yang diidap naturalisme ini sesungguhnya tidak perlu muncul jika dan hanya jika pikiran manusia, yang menjadi sandaran pengetahuan, memiliki status ontologis tersendiri, yang tidak material. Karena status keberadaannya berbeda dari status keberadaan materi, maka penjelasan bagi keberadaannya pun berasal dari luar materi.

Nah, apa penjelasan immaterial bagi keberadaan pikiran manusia itu? []

Aziz Anwar Fachruddin Peneliti di Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta