Abdul Chalik Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Mengapa Islamisme bukanlah Islam?

2 min read

mizanstore.com

Judul buku : Islam dan Islamisme
Penulis        : Bassam Tibi
Penerbit      : Mizan Bandung, 2016
Hal               : 374 halaman

Buku ini diawali dengan pertanyaan, mengapa Islamisme bukanlah Islam? Penulis menguraikan sebagai berikut, “Dengan demikian, Islamisme juga bukanlah—sebagaimana sering digambarkan—bentuk kebangkitan Islam kembali Islam. Islamisme tidak menghidupkan kembali Islam, tetapi malah merekonstruksi Islam yang tidak sesuai dengan warisan sejarahnya.

Islamisme mendambakan kebangkitan kembali sejarah dan kejayaan Islam, namun upaya tersebut—merupakan tradisi yang dibuat-buat. Utopia kalangan Islamis yaitu suatu sistem yang diimajinasikan dari pemerintahan ilahi, tidak pernah ada dalam sejarah Islam”.

Kemana arah buku ini sudah dijelaskan lebih awal oleh penulisnya di bab satu yang dimulai dengan perbedaan antara Islam dan Islamisme. Menurutnya, Islamisme bukanlah Islam karena tidak terkait dengan iman melainkan politik. Lebih dari itu, Islamisme berkaitan dengan politik yang diagamaisasikan—sebagaimana contoh di dunia saat ini tentang fundamentalisme religius.

Agamaisasi politik berarti promosi suatu tatanan politik yang dipercaya beremanasi dari kehendak Allah dan bukan berdasarkan kedaulatan rakyat. Tibi mengklaim bahwa Islam tidak melakukan hal itu, melainkan tumbuh dari interpretasi spesifik atas Islam.

Siapakah penganut paham Islamisme? Tibi menyebut dua kelompok yakni kaum’radikal’ dan ‘moderat’. Kaum radikal merupakan kelompok takfiri—yang menganggap di luar kelompoknya sebagai kafir. Kelompok ini juga disebut jihadis—yang memaksakan kehendak melalui cara-cara yang ekstrim dan menyesatkan seperti bom bunuh diri. Munculnya ISIS—salah satu contoh yang sering disebut oleh penulis. Kelompok lain yang disebut ‘moderat’ juga bagian dari Islamisme.

Mereka merekonstruksi masa lalu melalui penafsirannya dengan menolak terorisme dan takfiri melalui jalan lain yang lebih halus dan diplomatis. Penulis menyebut Mesir dan Turki sebagai sebagai institusi yang menganut pandangan tersebut. Mereka merangkul dan berdampingan dengan Barat—dengan argumen bahwa mereka gagal dalam memahami Islamisme yang selalu diindentikkan dengan terorisme.

Baca Juga  Ujian Nasional dan Virus Corona, Analisis Dampak dan Solusinya

Obyektifkah pandangan Tibi dalam melihat Islamisme? Ada beberapa catatan penting untuk menyempurnakan–untuk tidak mengatakan meluruskan—pandangannya, misalnya ia mencampuradukkan berbagai gerakan berbasis Islam dalam keranjang yang sama. Ketika memberikan contoh Hizbollah Lebanon sebagai bagian dari Islamis yang bertentangan dengan demokrasi.

Hal tersebut justru bertentangan dengan kiprah Hizbollah yang justru menjadi penopang demokrasi bukan sebaliknya—suka atau tidak—telah berhasil signifikan menjaga kewibawaan dan kedaulatan negara dalam mengelola pertikaian dan ancaman agresi dari luar.

Pada bagian lain Tibi sangat tergesa-gesa dalam menyimpulkan praktik demokrasi di dunia Islam, misalnya Iran. Misalnya ia menulis, “Ada kebutuhan untuk suatu alternatif, tetapi Islam bukanlah alternatif yang tepat. Mengganti rezim dengan sistem yang didasarkan pada politik yang direligiasikan pada akhirnya hanya mengganti satu penyakit dengan penyakit lainnya. Irak sebagai contoh nyata, dan sama sekali tidak menjanjikan suatu solusi”.

Pandangn tersebut sama sekali mengesampingkan tentang nilai-nilai universal Islam—sebagaimana penulis pada akhir abad 20 banyak menyimpulkannya. Pandangan tersebut terlalu dangkal dalam melihat Islam—sebagaimana penulis Barat pada umumnya.

Meskipun pada bagian tertentu saya sependapat dengan Tibi—misalnya tentang politisasi agama—namun pada bagian lain justru berpendapat sebaliknya. Tibi sama sekali mengenyampingkan nilai-nilai Islam yang tampak selaras dengan demokrasi Barat. Ia juga mengenyampingkan tentang bangunan  yang terorganisir pada masa Nabi di Madinah sebagai sebuah embrio praktik demokrasi.

Tafsir Tibi tentang Islam hanya melihat dari ‘’satu mata” yakni kebangkitan Islam saat Arab Springs pada Abad 21—yag selanjutnya digeneralisasi seolah Islam hanya Timur Tengah, bukan Indonesia atau Malaysia. Jika warga NU dan Muhammadiyah membaca buku ini—saya yakin tidak semuanya spendapat karena terlalu tendensius.

Buku ini memberikan sumbangsih dalam menjelaskan praktik Islamisme yang berkembang saat ini, namun pada beberapa bagian masih memerlukan penjelasan yang lebih komoprehensif. Saya sependapat dengan catatan Musa Kazhim yang memberikan kritik tajam atas buku ini. “Tibi kurang matang, gegabah dan sepihak. Akibatnya alih-alih memberikan kejelasan yang lebih utuh tentang gerakan Islam di Timur Tengah, caranya melakukan generalisasi justru mengacaukan perbedaan konseptual yang seharusnya valid tersebut”.

Baca Juga  Mampukah Agama Mereduksi Ketakutan Akibat Covid-19?

Pada bagian lain ia menyebutkan bahwa perlu ada pendekatan yang tidak bias Islam. Pandangan dengan kacamata Islamolog Barat tidak banyak membantu menjelaskan praktik Islam yang sesungguhnya  yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. (mmsm)

 

Abdul Chalik Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya