Ade Sabda Galah Pelajar di Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) dan Fasilitator Nasional Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC)

Sains Tidak untuk Mencemooh Agama, Tapi Mengkritiknya: Tanggapan untuk Opini Aziz Anwar Fachruddin

1 min read

Source: http://grandmotherafrica.com/
Source: http://grandmotherafrica.com/

Dalam opini “Intuisi dan Rasionalitas dalam Perdebatan Agama Versus Sains” yang terbit di Arrahim.ID (06/06/2020), Aziz Anwar Fachruddin mencoba menjawab sendiri pertanyaan yang diajukannya untuk membuka rangkaian kecurigaannya terhadap sains. Alih-alih saintis yang dia anggap mengolok-olok agama, saya khawatir justru dia yang telah terlanjur jauh merendahkan sains.

Pasalnya, jarang saya menemukan saintis yang ‘dengan sengaja’ menyerang agama, jika bukan karena memang implikasi logis dari temuannya yang kebetulan tidak sejalan dengan premis-premis agama. Katakanlah Popper misalnya, dengan segala penemuan teoretisnya yang gemilang, dia tetap dengan rendah hati mengakui bahwa agama, meskipun meaningless secara ilmiah, namun useful secara sosial dan fungsional dalam kehidupan kita sehari-hari.

Baca juga: Intuisi dan Rasionalitas dalam Perdebatan Agama versus Sains

Dalam salah satu pidatonya di acara Aspen Ideas Festival tahun 2007, Sam Harris, salah satu punggawa New Atheist yang dikenal paling gencar menyerang agama juga mengakui bahwa pengalaman spiritual memiliki sisi-sisi penting. Yang dia kritik justru adalah salah satu peran ideologis yang seringkali dimainkan oleh agama yang dinilai memiliki kecenderungan untuk memecah-belah.

Dari sini saja, dua sarjanawan yang dikenal kritis terhadap agama, memeluk ‘keyakinan’ yang berbeda terkait bagaimana seharusnya memperlakukan agama. Kita belum berbicara tentang Richard Dawkins yang akhir-akhir ini karyanya juga banyak disalahpahami, bahwa dia misalnya dicurigai memiliki dendam personal terhadap agama, terutama Islam. Jika kita amati sendiri bagaimana dia membangun argumen dalam buku-bukunya, agak sulit untuk menerima pendapat bahwa argumennya dibangun di atas intensi untuk menjatuhkan martabat agama.

Belum lagi tentang Charles Darwin, yang kata Aziz teori evolusinya pernah digunakan untuk menjustifikasi rasisme. Kalaupun benar demikian, apakah dia tahu bahwa berkat monogenisme Darwin dan kawan-kawannya, orang-orang saat itu memiliki antitesis terhadap poligenisme, pandangan yang cenderung dominan kala itu dan menjadi landasan moral untuk membenarkan adanya perbudakan terhadap ras berwarna.

Baca Juga  Generasi Millenial, Industri 4.0 dan Ilmu Hadis [1]: Menerawang Problematika “Kita”

Lalu, apakah dia tidak risih saat melihat fakta bahwa agama juga pernah digunakan untuk menjustifikasi genosida, penjarahan, pembunuhan, serisih dia melihat sains digunakan untuk membenarkan rasisme, perbudakan, atau peperangan? Saya yakin seyakinan-yakinnya bahwa dia pada akhirnya juga akan mengelak dengan mengajukan argumen yang serupa, bahwa agama pada hakikatnya adalah baik, bla bla bla.

Sederhananya begini, kalau saya mengomentari tulisan Aziz di sini tidak lantas berarti saya membela sains dan benci agama. Jika anda berkesimpulan demikian, maka ada yang keliru dengan cara anda berpikir. Justru, yang ingin saya tunjukkan adalah bahwa agama, sebagaimana sains, juga memiliki kelemahan, at least dalam implementasi praksisnya.

Kesadaran ini penting agar kita tidak mudah menuhankan satu kebenaran dan men-setan-kan kebenaran yang lain. Sebab jika demikian, apa bedanya kita dengan grup sebelah, selain hanya bahwa mereka berada di spektrum paling kanan sementara kita berada di spektrum paling kiri. Atau justru sebaliknya. Padahal, katanya khayr al-umūr awsatuhā (Sebaik-baik persoalan adalah yang berada di tengah). [MZ]

Ade Sabda Galah Pelajar di Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) dan Fasilitator Nasional Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC)