Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo

Makna Inovasi: Sederhana Namun Mendalam

2 min read

Pada sebuah kesempatan, Gus Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama RI), di hadapan para akademisi, menjelaskan tentang makna inovasi. Seperti biasa, dia tidak menjelaskannya dengan merujuk pada definisi istilah sebagaimana yang tertulis di kamus. Dia membuat penjelasan praktis yang setiap pendengarnya merasa ‘Yes, I can make it’.

Penjelasannya kurang lebih seperti ini:

Bayangkanlah tentang sebuah masa depan yang ideal. Lalu, lihatlah kenyataan kita saat ini. Termasuk berbagai tindakan yang kita lakukan sekarang hingga melahirkan kenyataan itu. Berbagai tindakan yang kita letakkan antara kenyataan kita sekarang dengan bayangan ideal masa depan, itulah yang disebut inovasi.

Begitulah penjelasannya, sederhana dan mudah dipahami.

Jadi, inovasi adalah setiap langkah yang kita tempuh melampaui rutinitas tindakan saat ini untuk mencapai masa depan yang kita impikan. Inovasi adalah pancang-pancang tiang, tapakan-tapakan yang kita letakkan antara masa kini dengan mimpi masa depan.

Inovasi adalah jembatan yang memperantarai kita saat ini dengan masa depan. Tanpa inovasi, kita hanya mengalami lajunya waktu, tapi tak memiliki masa depan.

Tanpa inovasi, kita akan mengalami tua, tapi tidak menambah makna. Seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri. Si anjing berlari, menguras tenagaya, kelelahan mungkin hingga menuai ajalnya, tapi dia tak pernah beranjak dari titik nol-nya.

Lalu, apa bedanya antara dia berlari dan diam? Tidak ada.

Begitulah makna inovasi. Jika kita membayangkan masa depan, tapi yang muncul di benak kita adalah situasi dan kenyataan kita saat ini, maka kita sebetulnya tak pernah memiliki masa depan.

Kita terus-menerus akan melakukan rutinitas, tanpa membuat kemajuan apapun. Nasib kita mungkin seperti anjing yang kelelahan berlari tapi tidak mendapatkan apapun kecuali ujung ekornya sendiri.

Baca Juga  Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Hukum Islam?

Orang ini seperti Sisiphus yang dikutuk mendorong batu ke puncak gunung, kemudian batu itu bergulir kembali ke bawah. Didorong kembali ke puncak, dan bergulir lagi ke bawah. Terus-menerus seperti itu. Pekerjaan sia-sia hingga akhir hayatnya.

Berinovasi tidak hanya membutuhkan gagasan baru, bahkan out of the box, tapi juga keberanian untuk mengambil langkah. Mengambil langkah berarti menegakkan tiang pancang, membangun jembatan, dan menyeberanginya.

Banyak orang memiliki ide brilian, tapi tidak menghasilkan apapun karena tidak ada tindakan yang diambil.

Ada banyak orang yang tidak berani mengambil tindakan dari gagasan-gagasan besarnya. Bisa jadi karena takut dengan konsekuensinya. Bisa pula karena dia berharap menemukan sebuah gagasan baru yang sejak awal telah sempurna tanpa cacat.

Jika masalah kita adalah yang pertama, maka hanya ada dua pilihan:  beranilah atau sekalian jadilah pertapa. Namun jika masalah kita adalah yang kedua, mari kita dengarkan nasihat Mark Zuckerberg, pendiri Facebook.

“Let me tell you a secret. Ideas don’t come out fully formed. They only become clear as you work with them. You just have to get started. If I had to know everything about connecting people before I got started, I never would have built Facebook.”

“Saya akan memberi tahu Anda sebuah rahasia. Ide tidak datang dalam wujud yang sempurna. Dia hanya akan menjadi semakin jelas ketika kita menjalankannya. Kita hanya harus berani memulainya. Jika sejak awal saya dituntut untuk memiliki gagasan utuh dan sempurna tentang bagaimana menghubungkan orang, sampai kapan pun saya tidak akan pernah membuat Facebook”.

Gagasan menghubungkan orang melalui sebuah platform online awalnya mungkin hanya sebuah gagasan sederhana dan sepotong-potong. Tapi, capaian teknologi canggih apa yang tidak lahir dari gagasan sederhana. Rahasianya terletak pada mimpi tentang masa depan, menemukan gagasan untuk mencapai mimpi tersebut, dan berani mengambil langkah awal.

Baca Juga  Bertindak dan Menunggu: Merengkuh Kesabaran di Era Ketidaksabaran

Inilah inovasi. Tak perlu ribet mencari maknanya di kamus. Kita cukup membayangkan masa depan yang ideal. Menyadari dengan jujur kenyataan kita saat ini. Saat kita berani mengambil langkah ke luar dari kerutinan saat ini untuk mewujudkan mimpi masa depan kita, di situlah kita menemukan makna inovasi. Sesederhana dan sekecil apapun pada awalnya.[AA]

Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo