Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo

The Show Must Go On

2 min read

biografiku.com

Outside the dawn is breaking
But inside in the dark I’m aching to be free
The show must go on
The show must go on
Inside my heart is breaking
My makeup may be flaking
But my smile, still, stays on

(Di luar, fajar sedang merekah
Tapi di dalam, di kegelapan ini, aku melawan kesakitan untuk merdeka
Pertunjukan harus tetap berjalan
Pertunjukan harus tetap berjalan
Di dalam, hatiku sedang hancur
Riasanku mungkin saja luntur
Tapi senyumku tetap mengembang)

Di atas adalah sepenggal lagu band rock legendaris dari Inggris, Queen, yang berjudul “The Show Must Go On”. Lagu ini diciptakan Brian May, sang gitaris. Seperti lagu-lagu Queen lain, lirik dan musikalitasnya menghasilkan sebuah komposisi lagu rock yang mitis. Lagu ini menggambarkan perjuangan sang vokalis, Freddie Mercury, yang berjuang melawan AIDS yang menggerogoti tubuhnya. Lagu ini dirilis sebagai single pada 14 Oktober 1991, enam minggu sebelum Freddie Mercury meninggal pada 24 November 1991.

Saat pertama kali menemukan kenyataan bahwa saya, istri dan anak positif COVID-19, saya memberikan senyuman yang paling menenteramkan kepada anak dan istri. Istri juga mencoba memasang wajah setenang mungkin dan mengulaskan senyum terindahnya. Kami berdua menampilkan wajah sehangat mungkin dengan senyum seteduh telaga untuk memberi perasaan nyaman ke Virginia.

Segera saya mengakui kepada dunia melalui akun medsos saya bahwa saya positif. Seperti tawon, ratusan dukungan, doa, dan pertanyaan dari sahabat berhamburan menghampiri. Seperti kepada Virginia, saya mengabarkan kebaikan, sambil berucap, “terimakasih untuk dukungan dan doanya.” Mengalirnya berbagai bantuan tidak bisa kami balas dengan apapun kecuali dengan terima kasih dan senyuman. Senyum harus diberikan kepada semua orang.

Baca Juga  Solidaritas Lintas Agama di Era Covid-2019

Di dalam dada, harapan dan ketakutan menggemuruh. Setiap kali batuk dan dada sedikit terasa sesak, ketakutan seperti kegelapan yang menakutkan. Semua sahabat memberi pesan, “Tenang dan bersenang-senanglah dengan makan dan minum.” Saya menyetujuinya. Tapi bagaimana kita bisa berpesta saat dicekam ketakutan? Di rumah, saya dan istri berusaha menampilkan diri dan beraktivitas setenang dan sewajar mungkin. Tapi kami adalah suami istri yang sudah sangat tahu apa yang ada di dalam hati masing-masing sekalipun ditutupi dengan senyuman.

Mungkin yang paling tenang dan riang gembira adalah Virginia. Ketika kami disiplin mengkonsumsi obat, dia hanya tidur-tiduran di kamar sambil sesekali tawanya meledak, yang itu menandakan dia sedang chatting dengan kawannya, atau nonton anime Jepang, atau nonton video lucu. Saat kami tidak tahu harus melakukan apa, dia bernyanyi-nyanyi seperti sedang konser. Seperti biasanya, dia akan menyanyi terlebih dulu (entah berapa lagu, mungkin satu album) sebelum mengguyur tubuhnya dengan air di kamar mandi. Pokoknya, dia hanya tidur, main gadget, nyanyi, dan sesekali makan.

Kami khawatir dengan pola hidupnya yang sama sekali tidak memperlihatkan “semangat” untuk makan banyak dan minum obat serta olahraga. Sutau kali saya menegurnya dengan sangat lembut, “Sayang, bagaimanapun juga, sampean harus memaksakan diri untuk makan sebanyak mungkin, minum air putih sebanyak mungkin, dan minum obat.”  Tiba-tiba, dia memandang saya dengan muka memelas, “Papa, aku tahu aku sedang sakit, tapi cara papa memperhatikanku justru membuatku takut.”

Saya terdiam sejenak dan memandangnya dengan penuh sayang. Rupanya dia juga menyimpan ketakutan yang coba diatasinya dengan cara bernyanyi terus-menerus. Dia mencoba membuang ketakutannya, mencapai kebebasannya, dengan cara “menggelar konser”. Saya mengalah dan meminta maaf padanya, “I’m sorry if the way I give you some advices makes you affraid. Just keep your show because the show must go on” (Maafkan papa kalau cara papa menasihati membuatmu merasa takut. Teruskan konsernya karena pertunjukan harus tetap jalan).

Baca Juga  Konsolidasi Kebencian di Masjid

Pagi hari ketika saya senam, saya tidak berusaha membangunkannya dari tidur. Saya senam sendirian. Tu wa ga pat ma nam ju pan! Tapi, di situ saya jadi merasa aneh. Mengapa hitungan senam selalu mentok di angka delapan? Adakah yang bisa menjelaskan misteri hitungan senam ini? (MMSM)

Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo