Alfadia Fitri ‘Aini Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Kejujuran Seorang Penjaga Kebun

3 min read

Foto: amaalkk123.blogspot.com
Foto: amaalkk123.blogspot.com

Pada suatu ketika ada seorang raja dari Balk bernama Ibrahim bin Adham yang terlahir dari keluarga bangsawan. Ia adalah seorang raja yang adil dan sangat bijaksana. Suatu hari raja merasa resah dan gelisah. Setiap hari sang raja selalu termenung merasa ada yang kurang pada hidupya.

Dia kelihatan seperti orang yang kebingungan, hingga pada suatu ketika dia pergi ke kamar dan memikirkan hal tersebut seraya berkata “Ya Allah bukannya aku kurang bersyukur atas nikmat-Mu, tetapi aku ingin menyendiri untuk mendekatkan diri kepadamu”. Ihwal hal itu, pada akhirnya ia membulatkan tekad untuk pergi meninggalkan pekerjaan.

Kemudian ia memanggil pelayannya dan berkata, “Wahai pelayanku tolong bantu aku mengemasi pakaianku, aku hendak pergi”. “Baik, tuan. Kalau boleh saya tahu, tuan hendak pergi kemana?”. Jawab pelayan tersebut. “Kamu tidak perlu tahu aku pergi kemana. Cepat kemasi pakaianku”. Ucap sang raja.

Untuk memenuhi permintaan dari sang raja akhirnya sang pelayan pun segera mengemasi baju sang raja, tetapi sang raja kembali berkata, “Pelayan aku minta kepadamu untuk memilihkan aku baju yang sederhana, karena aku tidak mau direpotkan dengan pakaian kerajaan”.

Tak lama kemudian setelah sang pelayan selesai menyiapkan pakaian untuk sang raja dan memberikanya. Setelah beberapa saat sang raja meninggalkan kerajaan dan memberikan kerajaannya itu kepada Perdana Menteri untuk mengurus kerajaannya pada saat ia sedang meninggalkan kerajaan.

Kemudian sang raja berjalan menulusuri jalan dan raja menyamar menjadi rakyat jelata, sehingga pada suatu saat ia mendatangi pemilik kebun. “Assalamualaikum…”. Tak lama kemudian ada seorang yang menjawab salam tersebut dan ternyata itu adalah pemilik kebun itu.

Pemilik kebun itu menjawab “wa’alaikumsalam, mau apa kamu datang ke sini?”. Sang raja pun menjawab “aku ingin bertemu dengan pemilik kebun ini aku ingin meminta pekerjaan kepadanya”. Sang pemilik kebun pun bertanya “Aku lah pemilik kebun ini, dan kebetulan aku sedang mencari orang yang bisa merawat kebunku dengan baik. Apakah kamu mau?”. Sang raja pun senang dan menerima tawaran tersebut untuk dijadikan seorang tukang kebun. Raja pun menerima tawaran tersebut, “Ya, aku mau. Terima kasih, tuan”, ucap sang raja.

Baca Juga  Ingin Disayangi Banyak Orang, Berikut Doa dari Nabi Khidir AS

Setelah hari itu sang raja menjadi tukang kebun. Setiap pagi dia sudah berada di kebun untuk mencangkul, memberi pupuk dan kadang juga membersihkan rumput liar. Begitulah kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh sang raja, walaupun pekerjaan yang melelahkan tetapi beliau sangat senang dan semangat dalam menjalaninya, karena kehidupan itulah yang diinginkan sang raja, yaitu menjadi orang yang biasa saja.

Karena pekerjaan itu begitu melelahkan akhirnya sang raja duduk sebentar di bawah pohon untuk beristirahat. Suatu ketika di sela waktu istirahatnya tiba-tiba jatuh buah yang sudah masak dari atas pohon, dengan senang Ibrahim mengambil buah itu dan berkata “Sungguh segar sekali buah ini. Kebetulan aku sekarang sedang merasa haus dan kelihatanya buah ini bisa untuk menghilangkan rasa dahagaku”. Sang raja pun mengambil dan melihat buah itu, tiba-tiba sang raja teringat akan suatu hal. Kebun ini milik tuanku dan aku tidak boleh memakan buah ini tanpa izinnya, sehingga sang raja tidak berani untuk memakan buah yang bukan miliknya karena dia tidak mau mencuri.

Hingga pada suatu saat sang pemilik kebun pun datang untuk memeriksa kebun dan menemui Ibrahim, “Bagaimana panen buah kali ini?” ucap sang pemilik kebun. Ibrahim pun menjawab “Alhamdulillah panen kali ini mendapatkan 20 keranjang buah tuan”. Kemudian sang pemilik kebun meminta untuk diambilkan buah, “Wahai Ibrahim tolong ambilkan aku buah yang paling manis di kebun ini”. Dengan sigap Ibrahim pun menuruti permintaan sang tuannya, “Ini tuan silakan dicicipi”, ujar Ibrahim.

Setelah buahnya dimakan oleh sang pemilik kebun akhirnya sang pemilik kebun pun marah kepada Ibrahim karena buah yang diberikan Ibrahim tidaklah manis dan memuntahkan buah tersebut dari mulutnya dan berkata, “thuh… apa-apaan ini, tadi kan aku minta yang manis tetapi buah yang kamu berikan ini tidak manis. Tolong berikan kepadaku buah yang paling manis di kebun ini”, ucap sang pemilik kebun.

Baca Juga  Memperingati Hari Asyura dan Menjauhi Perpecahan

Akhirnya Ibrahim pun memilihkan buah yang paling baik dan memberikanya kepada tuanya, tetapi sang tuan kembali memutahkan buah tersebut dan berkata, “Wahai Ibrahim, sudah berapa lama kamu bekerja di sini kenapa kamu tidak bisa memilihkan aku buah yang paling manis di sini”, tegur sang pemilik kebun.

Dengan lemah lembut Ibrahim menjawab “Wahai tuan aku minta maaf. Aku sudah menjalankan tugasku di sini dengan baik, apakah tuan mempekerjakan saya untuk menjaga dan merawat kebun tuan”, sang tuan pun menjawab “Ya, lantas apa hubunganya dengan pertanyaanku?”.

Ibrahim menjawab, “Saya hanya merawat dan mengurusi kebun tuan apakah tuan lupa tuan belum memberi izin kepadaku untuk memakan buah yang ada di kebun ini?”. Sang pemilik kebun merasa takjub dengan sifat amanah yang dimiliki oleh Ibrahim, walaupun dia tidak bisa mengawasi Ibrahim dalam bekerja tetapi Ibrahim sangat amanah. Bahkan untuk mencicipi buah di kebun yang sudah dirawat dan dijaganya pun ia tidak mau karena belum mendapatkan izin. Sang pemilik kebun pun tersenyum dan merangkul Ibrahim dan berkata “Sungguh aku sangat kagum dengan apa yang kamu lakukan wahai Ibrahim”.

Dari kisah tersebut dapat diambil hikmah, bahwa walaupun kita tidak dilihat oleh manusia tetapi kita harus tetap jujur dan amanah. Ali bin Abi Thalib karrama Allah wajhahu berkata “Orang yang berkata jujur akan mendapatkan tiga hal yaitu kepercayaan, cinta dan rasa hormat”. Jujur akan membawa kebaikan di dunia dan akan mengantarkan jalan menuju surga “Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarkan ke surga”. [MZ]

Alfadia Fitri ‘Aini Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *