



Sebagai seorang santri tentu saya berteman dengan siapa saja, berbagai macam kalangan dari yang alim sampai yang unik. Di pondok tempat kami belajar ada seorang santri yang dalam bahasa kami STMJ alias sholat terus maksiat jalan. Kami juga akrab dengan santri STMJ ini bahkan beberapa kali terlibat debat dengannya perihal pemikiran dan hukum.
Beberapa pikirannya yang sering kami tangkap adalah perihal hidup tidak usah dibuat pusing, tetap enjoy saja karena tanpa belajar pun seorang santri bisa pintar sebab di pondok itu banyak keberkahan. Termasuk tidak usah berambisi (ngoyo) dalam mencari harta karena jika sudah waktunya ia akan datang sendiri.
Sepanjang yang kami tahu santri ini memang unik namun dia masih sering mengkonsumsi alkohol. Katanya selama masih mau ngaji, berjamaah shalat maka jika bermaksiat pun Allah lebih luas pengampunannya. Ironisnya semua minuman haram itu ia beli dari uang kiriman orang tuanya.
Segala macam nasehat teman sudah tidak mempan bahkan beberapa kali dipanggil pengurus pun selalu bisa lolos. Ia masih bertahan di pondok karena memang anaknya pintar dan kadang solidaritas terhadap temannya tinggi. Maka dari sanalah kadang teman santri yang lain merasa bingung bagaimana cara menyadarkannya.
Beberapa kali kami mengaji tiba dalam sebuah majelis yang berbeda dengan santri STMJ tersebut. Pengajian kali ini pembahasannya sangat menarik yaitu tentang tema orang fasik. Kata sang ustadz orang fasik itu adalah mereka yang masih selalu beribadah tapi juga sering berkubang dalam maksiat. Mereka menganggap bahwa maksiat yang dilakukan akan diampuni oleh Allah.
Dalam Kitab Washiyatul Musthofa Imam Sya’rani menulis bahwa antara kebaikan dan keburukan itu sangatlah tipis. Termasuk dalam mengartikan banyak rezeki bisa jadi yang banyak itu tidak berkah karena beberapa sebab. Atau sebaliknya kadang kala yang sedikit justru malah berkah dan bermanfaat.
ياعلى : إذا غضب الله على أحد رزقه مالا حراما فإذا اشتد غضبه عليه وكل به الشيطانا يبارك له فيه ويصحبه ويشغله بالدنيا عن الدين ويسهل له أمور دنياه ويقول ألله غفور رحيم
Artinya : Wahai ‘Ali : apabila Allah murka kepada seorang hambanya, maka Allah akan memberikan rezeki kepada orang tersebut, (berupa) harta yang haram, maka apabila Allah telah sangat murka kepada seorang hambanya, Allah akan mengutus setan kepada orang tersebut untuk memberikan keberkahan di dalam harta yang haram bagi orang tersebut, dan menjadikan setan sebagai teman orang tersebut, dan setan akan menyibukkan orang tersebut dengan urusan dunia (agar) jauh dari urusan agama dan setan akan mempermudah orang tersebut terhadap urusan dunianya, dan setan berkata : “Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Imam Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah juga menjelaskan bahwa orang itu jangan sekali-kali berkata bahwa Allah itu maha mulia lagi maha penyayang, yang mengampuni dosa-dosa orang yang berbuat maksiat. Pernyataan tersebut memang nampak benar, akan tetapi oleh orang fasik sering diplintir untuk kepentingannya sendiri. Di sinilah setan menelisik dengan begitu halus. Bahkan ia seperti berbuat riya’ yaitu bagai semut hitam berjalan di atas batu hitam di malam gelap gulita. Jadi sangat lembut sekali.
Seseorang bisa sangat mungkin tertipu oleh setan karena jika yang dihadapi sebuah keburukan pasti setiap orang akan bisa membedakannya. Akan tetapi sebaliknya setan justru membungkus kemaksiatan dalam bingkai kebaikan. Di sinilah pentingnya mempelajari ilmu tasawuf sebagai detektor sejauh mana tipuan setan berselancar.
Seperti kasus di atas bahwa terkadang orang mudah tergelincir karena dirinya sendiri. Orang yang kaya biasanya akan tergelincir karena kekayaannya. Begitu pula mereka yang berilmu, ilmunya justru akan menjadi cobaannya. Hal itu terjadi karena nafsu selalu membisik untuk memberikan pilihan ke arah kebaikan atau keburukan yang di tuju.
Dalam syair Burdah Imam al Bushri menuliskan syairnya tentang warning agar seseorang memperhatikan setan melalui gerak nafsu.
وراعهاوهى فى الاعمال ساءمة
Jagalah nafsumu baik-baik walaupun ia telah bergelar dalam ruang ketaatan
وان هى استحلت المرعى فلا تسم
Karena bila ia sudah menguasai maka akan memesonakan ketaatan
Demikianlah hegemoni setan yang selalu mengikuti ke mana manusia berada. Tidak salah jika mereka menguasai nafsu manusia sekalipun manusia tersebut dalam ketaatan. Di sinilah kadang setan membuat jebakan berupa kenikmatan semu. Maka pantaslah jika seseorang semakin tinggi derajatnya maka setannya pun yang tinggi pangkatnya.
Bisa sangat mungkin si santri STMJ tersebut sesungguhnya sedang dalam perangkap setan. Mungkin ia tidak sadar jika sudah berada di dalam dan menganggap bahwa apa yang dilakukan terasa benar. Padahal di dalam kasus ini yang benar belum tentu benar. Bagi orang yang suka memlintir kebenaran semau gue alias untuk kepentingannya sendiri Rasulullah SAW memberinya gelar Al Ahmaq atau orang pandir, yaitu orang mengikutkan hatinya kepada hawa nafsunya. (MMSM)
Seorang Santri asal kota Patria