Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Pendidikan Ideologi Liberal: Antara Sekolah dan Masyarakat

2 min read

Gambar hanya ilustrasi

Letak perbedaan antara berbagai ideologi liberal adalah terutama pada bagaimana mereka menghadapi keterkaitan antara sekolah dengan masyarakat yakni, tafsiran-tafsiran khas macam apa yang mereka berikan tentang konsep relatifisme budaya dan demokrasi sosial.

Syahdan. Ketika persoalannya sampai ke hubungan antara sekolah dengan masyarakat, kaum liberal mengambil pendekatan yang pada intinya merupakan pendekatan psikologis (atau personalistis), di mana individu didahulukan ketimbang tuntutan-tuntutan masyarakat.

Tak keliru jika dikatakan bahwa ada dua alasan mengapa liberalis pendidikan mengambil sikap semacam itu. Pertama, selagi kaum liberal sepakat bahwa yang bersifat psikologis pada puncaknya dikondisikan oleh yang sosial, ia yakin bahwa yang psikologis itu tetap menjadi landasan puncak bagi pembuktian kebenaran atau kesalahan klaim mana pun terhadap pengetahuan.

Individu belajar melalui konsekuensi-konsekuensi emosional dari tindakannya yang didasari keyakinannya, dan konsekuensi-konsekuensi ini tidak akan pernah bisa dialami ‘secara kolektif’; tak peduli keterkaitan logis apa yang ada dengan pengalaman sosial yang melatarbelakangi pengalaman personal itu.

Kegiatan belajar mungkin saja terjadi di dalam kerangka acuan sosial, namun belajar itu sendiri selalu bersifat personal dan psikologis, keduanya sudah merupakan sifat-sifat hakiki dari ‘belajar’.

Bahkan di tengah-tengah budaya pun, individu tidaklah mengalami masyarakat secara langsung dan objektif, yang terjadi adalah, individu menanggapi tanggapan-tanggapannya sendiri, menanggapi persepsi-persepsi serta tafsiran-tafsirannya sendiri tentang kebudayaan; dan bukan menanggapi budaya itu sendiri apa adanya.

Dengan begitu, maka yang sosial mempengaruhi yang psikologis, dan demikian pula sebaliknya; namun yang psikologis (atau yang sifatnya subjektif) tetap fundamental adanya, karena ia merupakan landasan tertinggi bagi seluruh pengalaman.

Kita tahu bahwa ‘belajar’ adalah sesuatu yang bersifat personal dalam arti yang lebih mendasar lagi jika dibandingkan dengan ‘belajar’ sebagai kegiatan yang berpusat pada kelompok. Dan, yang subjektif tadi, senantiasa memperoleh prioritas atau mendahului kondisi-kondisi sosial objektif jika perkaranya sudah menyangkut pendidikan.

Baca Juga  Refleksi Maqashid Syariah dan Dimensi Nomos Islam (2)

Kedua, bisa dikatakan bahwa tidak ada budaya yang benar-benar terbuka’ dan ‘kritis’, dan yang (jika terbuka dan kritis) akan menjadi model yang sahih bagi pencarian kecerdasan praktis yang terlatih, yang dipandang sebagai sebuah sasaran sosial kolektif. Lantaran kasusnya begitu, maka kaum liberal menemui kesulitan untuk berargumen mendukung status lebih tinggi (superioritas) negara jika dibandingkan dengan sekolah.

Dan dalam kebanyakan budaya, sang liberalis cenderung untuk memandang sekolah sebagai lembaga yang lebih terbuka, lebih kritis, dan lebih bertanggung jawab ketimbang sistem-sistem politik di mana mereka berada. Sebagaimana kaum liberal memandangnya, ilmu-ilmu pengetahuan sosial dan behavioral berada dalam keadaan perkembangan yang sangat kabur dan tidak sempurna pada saat ini.

Tak hanya itu, kerap kali ilmu-ilmu itu keyakinan sosial yang dominan, sebagaimana dalam hukum-hukum objektif dari ekonomi kapitalis jika diperlawankan dengan hukum-hukum objektif dari ekonomi sosialis. Dengan begitu, ilmu-ilmu tadi tidak bisa dipercaya seperti laiknya generalisasi-generalisasi ilmiah.

Itu sebabnya, persekolahan mustinya diatur oleh keperluan-keperluan kecerdasan keyakinan eksperimental (ilmiah) sebagaimana diterapkan pada pemecahan problem personal, ketimbang dilibatkan dalam upaya untuk memajukan dogma-dogma tertentu yang berkaitan dengan hakikat dan pengorganisasian masyarakat yang baik.

Namun, kenyataannya, kita ini kekurangan informasi mengenai hakikat manusia, pada saat ini, hingga tak bisa memberikan resep tentang yang manakah yang sungguh-sungguh merupakan masyarakat yang berkemanusiaan (humanistic) atau yang memanusiakan (humanizing) dan sebaliknya mana yang bukan.

Ketimbang menentukan hal semacam itu, lebih baik kita menggunakan sekolah-sekolah untuk memajukan penyelidikan kritis individual dengan harapan agar sebuah komitmen kolektif terhadap penyelidikan terbuka.

Pengetahuan objektif akan menjadi hasil, atau keluaran dari jenis informasi yang pada puncaknya akan terbukti mencukupi untuk merumuskan gagasan-gagasan yang tercerahkan mengenai, “apakah yang menjadi jenis organisasi sosial yang paling dikehendaki”.

Baca Juga  Antara Syiah dan Tradisi Nusantara yang Nyaris Identik?

Kita jangan memanfaatkan sekolah-sekolah untuk berdakwah sebelum waktunya, demi sejenis sistem sosial yang dirumuskan lebih dahulu yang tidak bisa (atau belum bisa) memperoleh pengabsahan atau pembenaran yang jelas dan memadai dari pembuktian eksperimental yang ada.

Ringkasnya, sampai pengetahuan ilmiah sudah lebih berkembang lagi, kita harus meragukan tindakan untuk menyusun ‘kesimpulan-kesimpulan ilmiah’ tentang struktur sosial seperti apa yang perlu atau yang memadai bagi kebaikan umum, dan kita harus menunda keputusan untuk menyandarkan diri pada kesimpulan-kesimpulan ilmiah semacam itu.

Tentu saja, yang musti kita lakukan adalah bersandar kepada proses ilmiah yang sifatnya jauh lebih objektif, dan secara mendasar lebih ‘bebas-budaya’, sebagai sasaran yang paling bisa dipercaya bagi pendidikan.

Bagi kaum liberal, pendidikan yang terbaik adalah yang ada untuk melatih anak agar berpikir secara kritis dan objektif, mengikuti bentuk dasar proses ilmiah, dan melatih anak untuk meyakini hal-hal tersebut sebagai hal-hal yang paling baik berdasarkan pengetahuan ilmiah yang ada sekarang. Pembangunan kembali masyarakat harusnya muncul dari penyempurnaan kecerdasan praktis di tingkat individual.

Begitupun juga, perilaku personal yang tercerahkan, jika dipandang secara kolektif, akan menyuguhkan perilaku kolektif yang tercerahkan pula, dan pada puncaknya memberikan dorongan bagi kebangkitan budaya yang kritis dan objektif, yang pada saat ini hanya bisa kita pahami secara garis-besar saja. Wallahu a’lam bisshawaab.

Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo