Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Menanamkan Sikap Moderat kepada Anak sejak Dini

2 min read

sumber: https://info.metrokota.go.id/

Maraknya isu radikalisme di tengah-tengah masyarakat menjadi sebuah tantangan yang begitu penting untuk diperhatikan oleh semua orang. Setiap orang dari kita masing-masing bertanggung jawab untuk menangkal pemahaman radikal yang mana kita sering kecolongan dalam mengonter hal tersebut. Walaupun begitu, pemerintah tentu tidak tinggal diam melihat pemahaman yang terus-menerus bergerak serta dapat merusak kerukunan yang ingin dicapai oleh negara Indonesia ini.

Sebenarnya kita belum terlambat untuk membangun sikap moderat. Membentuk sikap moderat dapat dimulai dari sejak dini kepada anak-anak. Hal ini sejalan dengan progam moderasi beragama dari pemerintah yang masuk ke dalam kurikulum pendidikan sejak usia dini hingga perguruan tinggi. Dalam hal ini, selain lembaga pendidikan, orang tua juga berperan penting dalam membentuk dan memberikan pemahaman terkait moderasi kepada anak.

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca sebuah artikel miris yang menyarankan orang tua untuk menghindarkan anak dari pemahaman-pemahaman moderasi beragama. Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa terdapat tiga hal yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mengonter paham moderat kepada anak.

Pertama, orang tua harus menanamkan keimanan yang kukuh pada anak. Hal tersebut berupa  pemberian pemahaman terkait agama Islam sebagai agama yang berasal dari wahyu Allah dan Islam adalah satu-satu agama yang benar.

Kedua, membangun pemahmaan bahwa taat kepada Allah adalah harga mati. Taat yang dimaksud di sini adalah taat secara kafah terhadap semua syariat—tanpa mempertimbangkan konteks dan kontekstualisasi.

Ketiga, memahamkan anak bahwa berislam secara kafah adalah cara beragama yang benar. Berislam kafah tidak akan memunculkan konflik dan permusuhan, tetapi sebaliknya, bahwa berislam secara moderat merupakan cara beragama yang salah dan bertenangan dengan Islam yang sahih, dan menganggap Islam moderat merupakan ideologi yang berasal dari Barat.

Baca Juga  Kronologi Peristiwa “Rasis Papua” di Surabaya: Catatan Pembanding untuk Veronica Koman

Upaya yang dilakukan orang tua semacam itu tentunya miris sekali. Memberikan pemahaman yang cenderung ekstrem kepada anak merupakan sebuah kekeliruan yang fatal serta ironis. Hal ini karena ketika menjelang dewasa, anak akan menutup diri dengan membatasi atau bahkan tidak sama sekali bersosialisasi dengan orang selain muslim.

Menurut saya, ketika anak-anak usia dini telah diberikan pemahaman Islam yang cenderung ekstrem maka itu sama halnya dengan menciptakan generasi radikal atau bahkan lebih jauh lagi berakhir pada aksi terorisme.

Oleh sebab itu, perlu kiranya untuk melakukan konter atas pemahaman-pemahaman seperti di atas, tentu saja dengan hal yang serupa seperti memberikan pemahaman moderat kepada anak sejak dini.

Membentuk Generasi Moderat

Penduduk Indonesia yang beragam menjadi alasan utama mengapa menanamkan sikap moderasi kepada anak sejak dini amatlah penting. Pepatah bijak mengatakan bahwa mendidik anak sejak usia dini bak mengukir di atas batu, sedangkan belajar sesudah besar bagai melukis di atas air. Singkatnya, anak usia dini memiliki potensi yang sangat kuat sehingga lebih mudah dibentuk jika dibandingkan yang sudah dewasa.

Salah satu langkah yang dinilai cukup efektif dalam menanamkan pemahaman moderasi beragama pada anak usia dini adalah dengan memasukkan nilai-nilai moderasi beragama dalam lembaga pendidikan semenjak TK/PAUD, misalnya. Mengutip dari pendis.kemenag.go.id, terdapat dua hal mendasar dalam mengaplikasikan nilai-nilai moderasi beragama pada peserta didik PAUD/TK.

Pertama, mengontekstualisasikan nalar moderat. Kontekstualisasi ini dapat dimasukkan dalam kurikulum dan nonkurikulum dengan harapan agar dapat membangun hubungan sosial dan lingkungan serta masyarakat sekitar dengan baik dan sewajarnya, sesuai dengan perkembangan dan fase pertumbuhan mereka. Kedua, implementasi moderasi beragama pada peserta didik PAUD dan TK lebih difokuskan pada orientasi praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  Sikap Gus Dur Menghadapi Kelompok Islam Garis Keras [3]

Dua hal di atas menjadi modal utama dalam membentuk sikap moderat pada anak. Dengan memperkenalkan dan mempraktikkan nilai-nilai moderasi beragama seperti toleransi, menghormati sesama, menghargai keragaman, maka diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya sekedar mempraktikkan, tetapi juga dapat menyemai dan menyebarkan nilai-nilai tersebut kepada generasi setelahnya.

Peran Orang Tua dan Lingkungan

Untuk mewujudkan serta membantuk sikap moderat pada anak usia dini memang tidaklah mudah. Peran guru di lembaga pendidikan kurang terlalu maksimal karena waktunya cukup terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan peran orang-orang terdekat mereka seperti orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Dalam hal ini, orang tua menjadi sosok yang penting dalam membentuk karakter dan sikap moderat pada anak. Terkait lingkungan sekitar misalnya, orang tua harus memberikan pemahaman bahwa menghormati keyakinan orang lain merupakan sebuah ajaran yang dianjurkan dalam Islam. Contoh kecilnya seperti dalam bergaul, anak-anak disarankan untuk berteman kepada siapa saja, tanpa melihat identitas teman tersebut.

Selain orang tua, lingkungan sekitar juga mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam membentuk perilaku dan pemahaman sikap moderat pada anak. Hal ini karena selain bersama orang tua, anak juga banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Jika dalam ruang lingkup keluarga anak hanya sekadar diberikan pemahaman-pemahaman terkait moderasi, toleransi, dan menghormati satu sama lain, sementara dalam ruang lingkup yang lebih besar, yaitu lingkungan masyarakat, anak dituntut untuk mempraktikkan secara langsung pemahaman moderat yang didapatkan di rumah dan sekolah.

Hemat saya, menanamkan sikap moderat kepada anak sejak dini merupakan sebuah strategi yang cukup efektif dalam mencegah generasi muda ekstremis. Wallahualam bissawab [AR]

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta