Achmad Murtafi Haris Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Benarkah Agama Mandul Hadapi Virus Korona?

2 min read

Ada sebuah meme yang mengilustrasikan para pemimpin agama mengerumuni dokter meminta tolong dari serangan makhluk jahat bernama Corona. Meme ini adalah meme satir yang menunjukkan lemahnya peran kaum agamawan dalam menghadapi wabah penyakit. Mereka berebut mencari selamat dari seorang dokter yang sedang berpikir keras mencari vaksin pembunuh virus kejam itu.

Penyakit fisik memang spesialisasi dokter sedangkan penyakit hati spesialisasi ulama atau kaum agamawan. Karena wabah adalah penyakit fisik, maka peran dokter mengemuka dan berada di baris terdepan. Sedangkan penyakit hati yang merupakan sumber dari munculnya penyakit sosial seperti kriminalitas dan pertikaian, peran utamanya ada di tangan ulama dan agamawan,dan diteruskan oleh penegak hukum. Keduanya, baik dokter mau pun ulama, adalah pilar kesehatan masyarakat: jasmani dan rohani. Tanpa keduanya, manusia akan menderita penyakit yang menggerogoti tubuh dan jiwanya.

Sepintas tidak terpikir bahwa ulama berperan dalam kesehatan. Hal ini lantaran perhatian orang lebih tertuju pada apa yang nampak secara fisik, tanpa menghubungkannya dengan perilaku di balik itu yang membuat munculnya penyakit. Al-Ghazali mengatakan bahwa banyak penyakit bersumber dari perut atau perut adalah sarangnya penyakit. Hal ini sejalan dengan pesan hadis riwayat Miqdad dalam Sunan Turmudzi agar manusia tidak mengisi perutnya dengan sesuatu yang buruk.

Untuk itu,orang harus memperhatikan apa yang dikonsumsi dan cara mengonsumsi. Dalam bahasa Alquran, hendaknya memenuhi syarat halal dan thayyib. Secara fikih hukumnya halaldan secara teknis juga baik (QS. al-Baqarah[2]: 168). Jika ini dilanggar,berpotensi menimbulkan penyakit. Wabah Covid-19 yang berawal dari Wuhan, banyak disebut berasal dari kelelawar atau tenggiling entah melalui konsumsi di rumah makan seafoodatau melalui penularan di pasar hewan (lihat Medical News Today). Menyadari hal itu, pemerintah Shenzhen usai pandemi merebak ke seantero jagat, melarang mengonsumsi daging binatang buas: kucing dan anjing (CNN, BBC, Newsweek). Sebuah ajakan yang sejalan dengan ajaran agama Islam.

Baca Juga  Teologis Islam yang Tidak Baku

Dalam etika makan, diajarkan  agar makan seperlunya. Kenyang boleh tapi tidak berlebihan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad disebutkan bahwa isi perut dibagi tiga: sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara. Makan yang berlebihan (rekreasi kuliner yang tidak terkendali) di antaranya akan menghasilkan residu lemak yang berdampak kegemukan dan tidak lancarnya  aliran darah.

Paparan di atas menunjukkan bahwa peran agama dalam bidang kesehatan lebih bersifat preventif melalui pengajaran materi pola hidup sehat. Peran ini semakin besar dalam mencegah  penyakit sosial. Kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban yang berujung masuk rumah sakit adalah karena tidak mampu mengendalikan emosi yang menjadi bidangnya agama. Korban kekerasan baik yang individu apalagi massal, semuanya adalah akibat dari kekerasan hati yang mengakibatkan tumpulnya empati. Miskin nilai tasawuf menimbulkan krisis rohani yang berakibat pada hilangnya  kendali diri dan kecenderungan terbawa nafsuatau emosi. Hal ini kalau terus dibiarkan akan membesar dan menimbulkan krisis kemanusiaan,di mana rumah sakit kebanjiran.

Meski peran agama lebih bersifat preventif-behavioral, Islam mendorong sepenuhnya  berkembangnya dunia pengobatan melalui basis teori yang dia letakkan. Dalam banyak riwayat hadis disebutkan: “Likulli da’i dawa’ illa al-haram”(setiap penyakit ada obatnya kecuali tua). Semangat untuk menemukan obat bagi penyakit apa pun, mendorong munculnya para ilmuwan yang menggeluti dunia farmasi seperti Ibn al-Baytar (1197 M) juga Ibnu Sina (980 M) yang mengawali ilmu anatomi tubuh dan bapak ilmu kedokteran modern asal Iran. Tracy Kolenchuk penulis The Theory of Cure mengatakan bahwa pada prinsipnya setiap penyakit bisa disembuhkan: every disease can be cured. Mengapa tua, seperti kata Rasulullah, tidak bisa disembuhkan? Karena ia bukan penyakit. Ketuaan adalah sesuatu yang normal. Sedangkan penyakit bersifat abnormal.

Baca Juga  Berakhlak dengan Asmaulhusna dan Sifat Allah menurut Syekh Izzuddin bin Abdissalam (2)

Perkembangan dunia medis di kemudian hari, hingga masa kejayaan Eropa, di antaranya karena andil besar Ibn Sina atau Avicenna. Natur ilmu pengetahuan yang netral menjadikan ilmu bersifat cair merembes ke mana saja dan tidak menggumpal di satu tempat. Apalagi kesehatan adalah kebutuhan asasi manusia, maka ilmu tentangnya berlaku untuk semua, lintas budaya dan keyakinan. Dari Avicenna yang muslim menyebar ke Eropa yang Yudeo-Kristiani dan sekuler dan menyebar ke semua belahan dunia. Umat Islam pun kini belajar kedokteran dari Barat sebagaimana Barat dahulu belajar dari Islam di Malaga Spanyol dan Baghdad hingga abad 16.

Peletakan basis moral dan basis teori seperti yang dilakukan oleh Islam terhadap bidang kedokteran adalah fungsi peretas jalan seperti halnya filsafat. Ia kemudian ditindaklanjuti dan mendorong berkembangnya ilmu kedokteran yang fokus di bidang tersebut. Sebuah tataran yang meski agama berperan di awalnya, namun ia tidak lagi terlibat langsung pada fase selanjutnya. Ia menjadi spesialisasi kedokteran dan bukan lagi spesialisasi agama. [AS, MZ]

Achmad Murtafi Haris Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *