Ainur Rofiq Al Amin Dosen Pemikiran Politik Islam UINSA dan UNWAHA Tambakberas serta pengasuh Al Hadi 2 PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang

Ramadan: Antara Kesehatan, Religiositas Soliter, dan Solidaritas

3 min read

Presiden Tajikistan yang penduduknya mayoritas muslim, mengimbau agar tidak menjalankan puasa dengan tujuan untuk melindungi dari virus korona (detik.com 23/04/2020). Sedangkan politisi Aljazair, Noureddine Boukrouh, menyarankan agar muslim tidak berpuasa karena adanya pagebluk korona. Menurutnya, Islam mengapresiasi intelektual dan meredusir pandangan serampangan dalam keyakinan. Berpuasa menjadikan tubuh lapar, sehingga rentan terkena korona, akhirnya wabah ini bisa semakin meluas (english.alaraby.co.uk 16/04/2020). Nampaknya mereka terjebak dengan nalar “pseudo-empiris” sembari melupakan kekuatan spiritual.

Sekian tahun sebelumnya, di Afrika pernah muncul komentar dan aksi ekstrem tentang puasa. John L. Esposito dalam buku The Islamic Threat: Myth or Reality? menjelaskan, Tunisia sewaktu dipimpin Habib Bourguiba, pada bulan Ramadan dia naik podium dan secara demonstratif menyeruput jus jeruk di depan televisi nasional. Dalam pandangannya, puasa bisa berefek buruk dan mempengaruhi produktivitas nasional serta pembangunan ekonomi.

Sementara, Rudi Valinka meminta agar Kemenag dan MUI mengeluarkan fatwa tidak berpuasa pada tahun ini karena sedang ada wabah, selanjutnya diganti dengan fidiah (denda) untuk diberikan ke orang miskin (republika.co.id 19/04/2020). Gagasan Valinka akseptabel untuk meringankan beban orang alit di saat sulit, tapi tidak relevan bila dihubungkan dengan rekomendasi tidak berpuasa.

Puasa versus Korona
Gagasan agar tidak berpuasa dengan dalih kalau tubuh lapar akan rentan terserang korona adalah rangup karena hanya berpijak kepada asumsi an sich. Kerangupannya bisa diteropong dari perspektif ilmiah. Saat ini banyak orang stay at home yang artinya tidak banyak aktivitas fisik yang “diduga” menjadikan mudah lapar, hal ini di satu sisi. Sedang di sisi lain banyak penelitian yang menunjukkan bahwa puasa justru menyehatkan. Dalam diksi Alquran, puasa mengandung banyak kebaikan. Tentu kebaikan yang holistik di antaranya adalah kesehatan seperti dijelaskan hadis agar kita berpuasa karena mempunyai efek kesehatan.

Baca Juga  Mengembalikan Fungsi Keluarga sebagai (P)akar Pembelajaran: Refleksi Hari Pendidikan

Menurut pakar, puasa bisa meningkatkan kesehatan kardiovaskular, menurunkan gula darah dan tekanan darah, meningkatkan regenarasi sel, bikin awet muda, mengurangi peradangan, meningkatkan fungsi organ tubuh dan fungsi organ reproduksi (doktersehat.com 06/05/2019). Relasi puasa dan kesehatan banyak dikaji secara ilmiah, semisal dalam Nutrition Journal ada penelitian tentang “The Impact of Religious Fasting on Human Health”.
Puasa tidak hanya menyehatkan dalam spektrum di atas, tapi juga menyehatkan yang relevan untuk melawan Covid-19. Saat ini belum ada obat dan antivirus untuk Covid-19 sehingga cara mengatasi Covid-19 adalah dengan memperkuat daya tahan tubuh. Untuk memperkuat daya tahan tubuh di antaranya dengan berpuasa.

Beberapa peneliti di University of Southern California menemukan bahwa rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh memproduksi sel darah putih baru yang melawan infeksi. Para peneliti menyebut puasa sebagai “pembalik sakelar regeneratif” yang mendorong sel induk menciptakan sel darah putih baru. Penciptaan sel darah putih baru inilah yang mendasari regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh (kompas.com 17/05/2018). Tentu temuan ilmiah ini menolak asumsi bahwa puasa mengakibatkan tubuh rentan sehingga gampang terserang korona.

Dengan realitas sains di atas, maka tepat petuah lama di India “Langhanam prathamam aushadham yakni puasa adalah obat pertama, atau kalimat lain langhanam paramam aushadham yaitu puasa adalah obat tertinggi (drsvoboda.com 19/07/2016). Puasa memang sudah menjadi tradisi umat terdahulu. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, mulai dari masyarakat Mesir kuno, Yunani, Romawi, Budhha, Yahudi, dan Kristen semuanya menjalankan puasa.

Memendarkan Gotong Royong Saat Stay at Home
Slavoj Zizek dalam bukunya Pandemic! Covid-19 Shakes the World (2020) mengutip pendapat Iraj Harirchi bahwa virus korona bersifat demokratis, karena dapat menyerang siapa saja tanpa membedakan status sosial. Zizek juga menjelaskan, saat ini muncul kepanikan massal akibat korona. Penyebaran korona memicu epidemi yang luas dari virus ideologis (ideological viruses) berupa berita palsu, teori konspirasi, dan ledakan rasisme.

Baca Juga  Mengenal Molenbeek, Brussel, sebagai sarang teroris (1)

Hal ini mungkin juga memunculkan virus ideologis lain berupa virus pemikiran masyarakat alternatif, masyarakat di luar negara-bangsa, serta sebuah masyarakat yang mengaktualisasikan dirinya dalam bentuk solidaritas global. Zizek menegaskan, tiada boleh lagi saat menghadapi korona ini kita mengatakan Amerika (atau siapapun) sebagai yang pertama, tapi yang benar adalah seperti ucapan Martin Luther King, “Kita semua mungkin datang dari kapal-kapal yang berbeda, tetapi kita sekarang berada di kapal yang sama.”

Dalam konteks masyarakat Indonesia, solidaritas terejawantah dalam semangat gotong royong. Seorang muslim hendaknya yakin bahwa puasa bisa didayagunakan untuk memperkuat semangat gotong royong untuk nyengkuyung bergerak bersama dengan jargon holobis kuntul baris dalam melawan korona.

Seperti dimaklumi, puasa di tahun 2020 ini, rakyat dihimbau tinggal di rumah baik untuk kerja, belajar dan beribadah, kecuali kalau mendesak. Perlu ditegaskan, secara historis tidak ada yang aneh bila Ramadan tiba, beberapa muslim lebih banyak di rumah seperti yang dilakukan sebagian sufi. Al-Thusi (w. 378 H) dalam karyanya aI-Luma’ fi Tarikh at-Tashawwuf aI-Islami menjelaskan bahwa Abi Ubyad aI-Basri jika masuk bulan Ramadan akan masuk rumah dan menutup pintunya, serta berkata pada istrinya setiap malam disiapkan satu potong roti. Al-Basri tidak keluar dari rumah, hingga berakhir Ramadan. Apa yang dipraktikkan al-Basri saat ini disebut dengan religiositas soliter.

Stay at home bukan berarti memutus semangat gotong royong. Dari rumah bisa melecut amal kebajikan dalam beragam bentuk mulai dari membuat konsumsi buka dan sahur, menyumbang uang, atau amal kebajikan lain sesuai kapasitas diri. Saat Ramadan 2020 ini ladang amal sangat terbuka dan berkualitas lebih tinggi karena banyak orang alit yang sulit kehidupannya. Tentu naluri kemanusiaan dan altruisme akan bermunculan.

Baca Juga  Mengelola Kelompok "Sempalan Agama"

Apalagi di waktu Ramadan amal kebaikan akan diganjar tak terbatas. Masih dalam kitab aI-Luma’, bila amal-ibadah non-puasa akan diganjar terhitung mulai satu sampai berlipat sepuluh hingga berlipat tujuh ratus. Hal ini berbeda dengan pahala puasa. Pelaku puasa adalah orang-orang yang sabar, dan orang-orang sabar pahalanya tidak bisa dihitung sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Zumar 10. Walhasil, saat Ramadan ini, sangat penting menggiring amal-ibadah puasa dalam horizon semangat gotong royong untuk menghadapi korona. [MZ]

Ainur Rofiq Al Amin Dosen Pemikiran Politik Islam UINSA dan UNWAHA Tambakberas serta pengasuh Al Hadi 2 PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *