Muhammad Makmun Abha Guru Ngaji, Dosen dan Aktivis LDNU Jepara

Kebebasan Berpendapat versus Matinya Kepakaran [Humor Sufi]

3 min read

https://contoh123.info
https://contoh123.info

Suatu hari pada bulan Ramadan, terbesit dalam hati Juha untuk membeli sebuah toples. Kemudian dia menaruh satu kerikil dalam toples tersebut untuk setiap harinya. Selain agar tidak salah dalam menghitung hari, juga agar tidak mengandalkan hitungan orang lain. Tidak berselang lama, putri Juha yang masih kecil ikut memperhatikan. Karena terdorong untuk mengikuti ayahnya itu, sang putri akhirnya ingin ikut meringankan beban ayahnya. Sang putri pun mengambil kerikil dalam satu genggaman tangannya dan memasukkan kerikil itu ke dalam toples. Ketika hari itu tiba, orang-orang berdebat tentang jumlah hari yang telah lewat di bulan Ramadan. Juha kemudian berkata kepada mereka, “tunggu, aku akan datang kepada kalian dengan jawaban yang meyakinkan”. Lalu Juha pergi ke rumahnya dan mengambil semua kerikil dalam stoples, dan (setelah dihitung) ternyata kerikilnya mencapai angka seratus dua puluh, artinya jumlahnya bertambah sangat banyak. Dia berkata dalam hati:

“Jika Aku membenarkan mereka tentang (pedebatan) bilangan itu, mereka akan menganggapku sebagai orang bodoh. Tapi aku punya ide. Aku akan bagi bilangan ini menjadi dua bagian (120/2=60)”. Lalu Juha pun keluar dan memberi tahu mereka, “Ini adalah hari ke-‘enam puluh’ dalam bulan ini”. Sontak mereka pun tertawa dan bertanya, “sejak kapan satu bulan lebih dari tiga puluh hari?”, Juha menjawab, “Hus, Aku telah memperlakukan kalian dengan sangat adil melalui jawabanku, mengapa kalian malah tertawa mengejek? Jika aku katakan yang sebenarnya, berdasarkan hitungan isi stoples, maka hari ini sejatinya adalah hari yang ke-‘seratus dua puluh’ dalam bulan ini, sekarang puaslah dengan jawabanku, karena itu lebih baik untuk kalian”.

Di sela-sela mengisi pengajian rutin online kitab Nawādir Juhā al-Kubrā melalui akun facebook (Musholla al-Anwar dan Muhammad Makmun Abha), penulis menjumpai penggalan anekdot humor sufi di atas. Bagi penulis, anekdot tersebut cukup menarik. Selain menyampaikan humor yang jenaka, anekdot itu juga membawa satu model edukasi yang tak terkesan menggurui. Ketertarikan ini bahkan semakin menyala ketika penulis menyadari bahwa penggalan anekdot tersebut cukup relevan untuk menggambarkan beberapa fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, terkait ‘matinya kepakaran’ di era disrupsi, lebih-lebih di musim Covid-19 ini.

Baca Juga  Ingin Disayangi Banyak Orang, Berikut Doa dari Nabi Khidir AS

Di era disrupsi, semua orang bebas mengakses informasi, bebas berbicara dan berekspresi, meski sebenarnya jauh untuk dibilang sebagai ahli. Akhir-akhir ini, kita juga sering disuguhi pernyatan atau pandangan yang kerap kali ‘rancu’, lantaran tidak bersumber dari pakar, atau ahlinya ahli. Jika di musim pemilu kita ‘muak’ dengan praktek busuk ‘pemerkosaan’ dalil-dalil keagamaan untuk sekedar melayani nafsu bejat politik, maka tak ubahnya di era pandemi Covid-19 ini. Banyak orang yang minus pengetahuan agama, berbicara tentang agama. Banyak juga yang tidak ahli ilmu medis, berani berbicara tentang Covid-19. Termasuk di antaranya muncul sebuah ramalan akan akhirnya masa Covid-19 dengan (memanipulasi) pemahaman hadis Nabi. Di sinilah letak problem keilmuan seorang Muslim jika hanya mengejar popularitas. Nabi pernah bersabda, “Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah (dengan segera) terjadinya kiamat (kehancuran)”.Sudah semestinya umat Islam hafal pesan Nabi ini di luar kepala.

Dalam konteks ini, pesan dan makna anekdot Juha dapat dihadirkan secara nyata. Juha dalam anekdot tersebut dengan sangat jujur menggambarkan dirinya sebagai orang yang ‘dungu’ dan tidak mengenal hitung-hitungan, aritmatika atau semacamnya. Namun dari lubuk hatinya, ia ingin menghitung hari-hari Ramadan dengan cermat. Akhirnya Juha tidak punya pilihan lain kecuali meniti dengan cara manual, yaitu menghitung setiap satu hari dengan satu kerikil yang dimasukkan ke dalam toples. Andai saja itu berjalan mulus, sejatinya langkah Juha sangatlah tepat. Namun, faktor eksternal melakukan intervensi yang kemudian membuat nasibnya tak beruntung. Cara hitung manual Juha yang tampak sedikit lucu tersebut dikira puterinya sebagai permainan, sehingga sang putri memasukkan kerikil dalam jumlah yang banyak ke dalam toples. Akhirnya, jumlah hari yang semestinya sesuai dengan prediksi Juha, bertambah jauh melebihi hitungan jumlah hari dalam satu bulan, yaitu 120 kerikil/hari.

Baca Juga  Bagaimana Imam Ghazali Menerangkan Fenomena Kenabian

Dalam kondisi ini, sejatinya Juha sudah mengetahui kesalahannya, namun karena ia sudah berjanji akan memberikan jawaban, akhirnya ia mencari siasat terbaik untuk menutupi kesalahan dan kebodohannya, daripada mengikuti pendapat yang sudah dilontarkan oleh teman-temannya yang juga diragukan kebenarannya. Benar sekali, Juha akhirnya membagi jumlah kerikil yang banyak tersebut menjadi dua bagian, yaitu 60 kerikil yang menandai jumlah hari yang diperdebatkan dalam versi Juha. Sontak seluruh teman-temannya yang juga dungu menjadi riuh ramai sembari menjatuhkan logika Juha yang dipandang salah kaprah. Dalam kondisi terdesak, akhirnya Juha pun dengan sangat berani mengakui dan mengatakan yang sebenarnya dan semakin membuat teman-temannya tertawa.

Keberanian Juha dalam meyampaikan kejujuran sejatinya merupakan bentuk tamparan keras, sekaligus sindiran tajam kepada kita semua meski dengan caranya yang unik, yaitu mendungukan diri sendiri. Jujur dan mengakui ketidaktahuan inilah yang patut kita contoh. Ia tidak lain adalah laku ilmiah yang akhir-akhir sering dikebiri oleh nafsu yang tak punya malu.

Ingat, jika ada perbedaan pendapat antara sesama ahli dalam bidang tertentu, maka itu justru akan mendatangkan ilmu baru. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya. Jika perbedaan itu terjadi antara sesama orang dungu, maka akan memunculkan kegaduhan yang tiada tepi. Dalam konteks ini tepat sekali kiranya jika Abū Hāmid al-Ghazālī merasa kesal sekali dengan ulah orang-orang dungu yang tidak mau menahan diri dan diam, bahkan terus menerus memproduksi pengetahun yang di luar jangkauan keahliannya. Dalam Faysal al-Tafriqah Imam al-Ghazālī berpesan:

فإذا رأيت الفقيه الذي بضاعته مجرد الفقه يخوض في التكفير والتضليل فأعرض عنه، ولا تشغل به قلبك ولسانك ، فإن التحدي بالعلوم غريزة في الطبع ، لا يصبر عنها الجهال ، ولأجله كثر الخلاف بين الناس ، ولو سكت من لا يدري ، لقلّ الخلاف بين الخلق.

Baca Juga  Masih Adakah Nilai Rahmat dalam Masyarakat Kita?

“Jika kamu melihat seorang ahli fikih yang modalnya/bekalnya hanya fikih semata, sehingga ia mudah terlibat dalam mengkafirkan dan menyesatkan orang, maka berpalinglah kamu darinya, dan jangan kau sibukkan hati dan lisanmu dengannya, karena menantang (mereka) dengan beragam ilmu adalah tabiat bawaan di mana orang-orang dungu tidak tahan dengan hal tersebut. Karena itulah banyak bertebaran kontroversi di antara manusia. Seandainya orang-orang yang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara manusia.” [FYI, MZ]

Muhammad Makmun Abha Guru Ngaji, Dosen dan Aktivis LDNU Jepara

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *