Hamdan Juhannis Guru Besar dan Rektor UIN Alauddin Makassar

Covid-19 dan Wujud Empati Kepada Kelompok Work Outside Home

1 min read

https://foto.tempo.co/read/79513
https://foto.tempo.co/read/79513

Ada tiga istilah biasa yang rasanya menjadi spesial dengan wabah corona: work from home, work at home, dan work outside home. Ketiganya memiliki ciri dan konsekuensinya yang khas dengan situasi pandemi ini.

Pertama, Work from Home. Ini menjadi himbauan dan diperuntukkan untuk pekerja kantoran atau yang pekerjaannya di luar yang bisa dipindahkan ke rumah. Contohnya, saya sebagai dosen memindahkan pekerjaan mengajar saya dari tatap muka langsung di dalam kelas menjadi pembelajaran dari rumah dengan sistem online atau dalam jaringan (daring). Efek pekerjaan ini relatif tidak terganggu secara income karena yang jadinya bekerja dari rumah berasal dari masyarakat yang berpenghasilan tetap.

Kedua, Work at Home. Perbedaannya dari work from home, bahwa tipe ini memang sedari awal pekerjaan dan produktivitasnya sudah di rumah. Istilah canggihnya kategori ‘home industry‘. Saya melihat work at home inilah yang mendapatkan momentum dengan wabah ini. Mereka semakin menggenjot produktivitasnya. Contohnya: pelaku bisnis online yang lebih banyak di dilakukan di rumah. Pelaku bisnis  inilah yang bisa semakin memacu produksinya mengingat semakin banyak orang yang tinggal di rumah dan menggantungkan belanjanya pada jualan online, sampai pada pesanan sembako sekalipun. Secara usaha, pelaku bisnis online relatif tidak terganggu dengan seruan tinggal di rumah, karena mereka sehari-harinya bekerja di rumah.

Ketiga, Work Outside Home. Kelompok ini yang paling kena dampak dengan pandemi ini. Mereka ini pula yang harus mendapat prioritas pemerintah. Mereka tidak bisa hidup tanpa bekerja di luar. Mereka menggantungkan pencahariannya di pinggir jalan, di gedung-gedung yang dibangun, atau di pasar-pasar tradisional. Termasuk sopir taksi, angkot, atau tukang ojek online yang bisa saja tidak lagi memiliki pendapatan ketika mereka tidak berkendaraan di luar.

Baca Juga  Presiden dan Buku: Selamat Hari Buku Nasional!

Jadi seruan untuk stay at home perlu diimbangi oleh kepedulian pada kelompok pekerja di luar rumah. Atau–tolong koreksi bila salah–seruan stay at home cocoknya untuk dua kelompok di atas yang secara penghasilan tidak terganggu dengan ruang kerja yang berubah. Bagaimana dengan pekerja di luar rumah? Kita juga menyuruh mereka untuk stay at home? Anda tahu sendiri jawabannya.

Lalu apakah mereka akan dibiarkan terus berada di luar dan menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi? Saya tidak ingin memperkeruh kerumitan pikiran anda yang sudah merasa rumit dengan berhari-hari tinggal di rumah.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa ketika kita ingin menyelamatkan diri dengan tinggal di rumah, mari selalu memaketkan kepedulian kita untuk penyelamatan saudara kita yang masih saja bekerja di luar rumah dengan situasi wabah ini. Salah satu contoh, seorang teman menyuruh istirahat sementara kakek tua penjual pisang yang selalu singgah di depan rumahnya dengan mengganti penghasilan perbulannya yang juga masih sangat sedikit. Anda bisa melakukan lebih baik dari itu tentunya.

Satu lagi, kalau membantu mereka, jangan lupa menyetel pesan perilaku hidup sehat dengan cara yang lebih membumi kepada kelompok ini. Mereka mungkin tidak paham apa itu distansiasi sosial, karena mereka lebih banyak terkuras dengan pikiran apa lagi yang akan dimakan besok. Tapi jangan juga seekstrem yang dilakukan tante saya pada penjual ikan langganannya: ‘Daeng, Jangan pergi ke kerumunan, kalau nakennaki’ virus dan matiki’ tidak ada yang mau kuburkanki’ (Daeng, hindari kerumunan karena kalau kena virus dan meninggal, tidak ada yang mau kuburkan). [MZ]

Hamdan Juhannis Guru Besar dan Rektor UIN Alauddin Makassar

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *